Skip to main content

'Curhat' Visual Bersama Elan Budikusumah








Elan Budikusumah, besar di Bogor, yang kemudian melanjutkan petualangannya untuk menetap di kota Bandung. Tidak tahu apakah ada hubungannya nama Elan dengan Alan Budikusuma, pemain bulu tangkis tersohor di tahun 90-an, yang pasti Elan tidak bermain di arena lapangan hijau itu. Tidak hanya terlibat dengan Band Spring Summer di Bandung, Elan juga mendalami rap sebagai selingan musikalitasnya. Namun, kecintaannya terbukti pada dunia fotografi. Kolaborasi Elan dengan Molucca Project, tidak main-main. Beberapa pemotretan buah tangan Molucca dilakukannya dengan sepenuh hati.

Kami memintanya untuk bercerita, makna apa yang ia temui di balik aktivitas memotret, “Memotret membuat saya lebih tenang, teriakan dalam hati bisa disampaikan oleh gambar sekaligus membuat checkpoint untuk reka ulang sebuah peristiwa atau momen.” Lebih lanjut ternyata kesukaan memotret turun dari ayahnya. “Ketika memotret saya merasa lebih dekat dengan almarhum Papa saya,” tambahnya.

Sebab musik juga sangat dekat dengan kesehariannya, ia bercerita bahwa lagu dari Ebiet G. Ade, “aku ingin pulang”, adalah satu lagu yang ia dengar sejak kecil dan masih terngiang hingga saat ini. “Saya sangat suka dengan kata ‘pulang’ di lagu itu. Sebab memiliki arti dan bentuk yang sangat personal. Bisa pada bangunan, benda, manusia, bahkan sepotong waktu atau peristiwa.” Sementara itu, mengenai satu band atau penyanyi asal Maluku yang juga menginspirasi, ia katakan Glenn Fredly. “Terutama lagu-lagunya yang sendu atau minor. Sangat related dan membuat saya menjadi sendu bahkan sedih ketika beberapa lagu membuat kilas balik pada momen tertentu. Kesedihan itu saya rilis sebagai curhatan visual.”

Dalam mengerjakan keyakinan-keyakinan kecilnya untuk terus memotret, ia juga punya pendapat perkara keterbatasan kala pandemi saat ini. Ia melihat keterbatasan saat ini sebagai kesempatan untuk berdonasi, bukan uang melainkan jasa. Ia malah membantu lingkungan sekitar yang sedang berjualan melalui foto produk. Ternyata keajaiban terjadi, ‘keterbatasan’ malah menjadi pintu gerbang baginya. Ia malah diberi kesempatan untuk memotret di beberapa acara.

Comments

Popular posts from this blog

Kegelisahan: musisi dan penikmat musik

Saya pernah menulis sebuah lirik berjudul “Tetanggaku Pergi ke Kota” yang kemudian dinyanyikan oleh Tetangga Pak Gesang, duo musisi indie yang berasal dari Bandung. Mereka adalah Arum Dayu dan Meicy Sitorus, yang aslinya adalah penggiat foto dan dua teman baik saya. 
Sampai saat ini, album mereka sementara dikerjakan secara gerilya. Memang belum ada hasil yang bisa didengarkan secara fisik, baik itu berupa CD, kaset, maupun vinyl yang sedang menjamur akhir-akhir ini. Tetapi lagu-lagu mereka dapat didengarkan di soundcloud. 
Produktivitas meng-aransemen lagu-lagu lama dan mencipta lagu-lagu baru, kemudian diakui oleh beberapa musisi besar seperti Slank dan Efek Rumah Kaca. Yang pada akhirnya mengajak mereka untuk berkolaborasi di satu panggung. 
Yang ingin saya bahas di sini adalah bukan secara spesifik menyangkut Tetangga Pak Gesang tetapi sepenggal lirik yang saya tulis di dalam lagu Tetanggaku Pergi ke Kota: 
kita tak perlu ke kota, kita kan membuat kota.
Ketika menuliskan lirik tersebut…

Tunjukkan Apa yang Kita Cintai Dari Atas Panggung

GRIZZLY CLUIVERT NAHUSULY mulai menyayangi Hip Hop sejak ia masih duduk di kelas tiga SMP. Di tengah-tengah pencarian jati dirinya, Icy, begitu ia disapa, menemukan Hip Hop. Ia merasa tidak hanya menemukan apa yang selama ini ia gemari, ia justru menemukan dirinya sendiri.
"Saya sempat gabung di dalam paduan suara, dan kemudian saya temukan satu warna, yang rasanya saya banget, karena musiknya tidak terlalu mengandalkan suara yang merdu. Akhir 2010, saya tertarik, dan mulai mengikuti sebuah lomba namanya, BKKBN rap contest." Icy memulai ceritanya pada satu petang yang syahdu sambil menyeruput kopi hitam.
Dengan bekal binaan Hanny Wattimena (Hanny, seorang musisi Hip Hop 90-an), Hanny mendedikasikan waktunya untuk mengajar vokal, penguasaan panggung, dan bagaimana berinteraksi di panggung.
"Jam latihan kami waktu itu, biasanya jam 9 malam ke atas. Sejak saat itulah kecintaan saya terhadap Hip Hop mulai menjadi-jadi. Saya merasa bisa berekspresi dengan sesuatu yang membua…

Puisi Memberikan Jalan Untuk Menyembuhkan Diri

“Puisi mampu membantu beta memberikan jalan untuk menyembuhkan diri sendiri sebab manusia pada dasarnya ‘berpenyakitan’ betul bukan? Puisi benar-benar jadi obat di kala itu,” ujar Chalvin. Chalvin Papilaya satu dari sekian banyak anak muda yang mencintai puisi, dan punya semacam keyakinan kecil, puisi dapat menyembuhkan.
Pada tahun 2016, ia terpilih sebagai salah seorang “emerging writer” yang berangkat ke Makassar International Writers Festival. Bersama beberapa kawan lainnya yang juga berasal dari timur Indonesia, mereka menerbitkan sajak dan cerita pendek, dengan tajuk “Dari Timur 2” yang diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama.
Chalvin katakan, “Puisi adalah pergulatan kecemasan terhadap tanda-tanda yang ada di luar diri penyair maupun di dalam dirinya sendiri—puisi bukanlah sekadar susunan kata-kata belaka.” Ungkapan ini, kemudian mengantar Chalvin untuk menerbitkan buku puisinya sendiri pada tahun 2019, berjudul “Mokolo”.



“Mokolo adalah kata sifat yang menggambarkan konteks per…