Skip to main content

Puisi Memberikan Jalan Untuk Menyembuhkan Diri









“Puisi mampu membantu beta memberikan jalan untuk menyembuhkan diri sendiri sebab manusia pada dasarnya ‘berpenyakitan’ betul bukan? Puisi benar-benar jadi obat di kala itu,” ujar Chalvin. Chalvin Papilaya satu dari sekian banyak anak muda yang mencintai puisi, dan punya semacam keyakinan kecil, puisi dapat menyembuhkan.

Pada tahun 2016, ia terpilih sebagai salah seorang “emerging writer” yang berangkat ke Makassar International Writers Festival. Bersama beberapa kawan lainnya yang juga berasal dari timur Indonesia, mereka menerbitkan sajak dan cerita pendek, dengan tajuk “Dari Timur 2” yang diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama.

Chalvin katakan, “Puisi adalah pergulatan kecemasan terhadap tanda-tanda yang ada di luar diri penyair maupun di dalam dirinya sendiri—puisi bukanlah sekadar susunan kata-kata belaka.” Ungkapan ini, kemudian mengantar Chalvin untuk menerbitkan buku puisinya sendiri pada tahun 2019, berjudul “Mokolo”.




“Mokolo adalah kata sifat yang menggambarkan konteks perundungan, yang dalam penggunaannya setara dengan sebutan ‘gila e, otak tar sanang’,” jelas Chalvin. Ia kemudian bercerita lebih lanjut, “Buku ini berisi 70 puisi yang dikerjakan setelah menginternalisasi beberapa peristiwa dari gerak-gerik ekspresi pasien jiwa atau ODGJ di rumah sakit jiwa dan di tempat-tempat tertentu yang kemudian beta benturkan dengan beberapa karakter ‘kenormalan’ di masyarakat kita—kedapatan bahwa yang mengaku ‘normal’ kok bisa sama dengan yang dikatainya ‘tidak normal’, begitupun sebaliknya.”

Satu puisinya, “Di Ruang Observasi” berbunyi begini:

kau sedang membersihkan kutil; aku menggigil
nyilu dan keram badan-badan ini

takahmu hitam dan kau tak memandikannya
berbau khas juga bernanah-nanah

kau bilang ini tahun baru dan aku buru-buru
menyiduk bonekaku yang sendiri

astaga, kau benar, bintil-bintil telah kupunyai
dan di ruang observasi; aku sadar sakit jiwa

Buku puisi Mokolo terinspirasi dari kakak sulungnya yang didiagnosa mengidap skizofrenia dan hidup berdampingan dengan Chalvin sejak tujuh tahun yang lalu. Buku puisi Mokolo membicarakan orang dengan gangguan jiwa, walau hanya cukup sampai di situ.

Bagi Chalvin ketekunannya menulis puisi tidak beranjak jauh-jauh dari ketekunannya membaca. “Membaca menjadi penting, sepenting-pentingnya makan dan minum. Selain di sana kau dikenyangkan oleh gaya estetika, kau pula menemui gaya pikiran dan persoalan yang beragam, yang datang dari konteks dan jenis yang beragam pula—entah kau terima atau tidak, tetapi sepantasnya bacalah dulu apapun bukunya menurut kehendakmu bagi yang suka dan tidak suka membaca buku—buku kadang-kadang adalah lampu di tengah-tengah kegelapan,” ujarnya yang saat ini sedang tenggelam dalam buku ‘Caligula’ karya Albert Camus.

Ketika ditanya, apakah dengan menulis puisi Chalvin dapat menemukan diri sendiri? Ia menjawab begini, “Apabila puisi dapat membuat kita berlaku sedemikian atas dasar penemuan nilai-nilai puitis yang ideal itu, maka puisi memang mampu memberikan jalan untuk menemui diri di dalam puisi-puisi yang kita ciptakan. Puisi seharusnya bukan dunia kata-kata atau persepsi, ia adalah sebuah dunia nyata kita yang diangkat dari kenyataan, untuk dikembalikan kepada kenyataan.”

Jika teman-teman tertarik untuk mendapatkan buku puisi Mokolo, silakan kunjungi toko buku Dian Pertiwi di Poka, atau dapat langsung menghubungi Chalvin Papilaya.

Comments

Popular posts from this blog

Kegelisahan: musisi dan penikmat musik

Saya pernah menulis sebuah lirik berjudul “Tetanggaku Pergi ke Kota” yang kemudian dinyanyikan oleh Tetangga Pak Gesang, duo musisi indie yang berasal dari Bandung. Mereka adalah Arum Dayu dan Meicy Sitorus, yang aslinya adalah penggiat foto dan dua teman baik saya.  Sampai saat ini, album mereka sementara dikerjakan secara gerilya. Memang belum ada hasil yang bisa didengarkan secara fisik, baik itu berupa CD, kaset, maupun vinyl yang sedang menjamur akhir-akhir ini. Tetapi lagu-lagu mereka dapat didengarkan di soundcloud.  Produktivitas meng-aransemen lagu-lagu lama dan mencipta lagu-lagu baru, kemudian diakui oleh beberapa musisi besar seperti Slank dan Efek Rumah Kaca. Yang pada akhirnya mengajak mereka untuk berkolaborasi di satu panggung.  Yang ingin saya bahas di sini adalah bukan secara spesifik menyangkut Tetangga Pak Gesang tetapi sepenggal lirik yang saya tulis di dalam lagu Tetanggaku Pergi ke Kota:  kita tak perlu ke kota, kita kan membuat kot

Tunjukkan Apa yang Kita Cintai Dari Atas Panggung

GRIZZLY CLUIVERT NAHUSULY mulai menyayangi Hip Hop sejak ia masih duduk di kelas tiga SMP. Di tengah-tengah pencarian jati dirinya, Icy, begitu ia disapa, menemukan Hip Hop. Ia merasa tidak hanya menemukan apa yang selama ini ia gemari, ia justru menemukan dirinya sendiri. "Saya sempat gabung di dalam paduan suara, dan kemudian saya temukan satu warna, yang rasanya saya banget , karena musiknya tidak terlalu mengandalkan suara yang merdu. Akhir 2010, saya tertarik, dan mulai mengikuti sebuah lomba namanya, BKKBN rap contest ." Icy memulai ceritanya pada satu petang yang syahdu sambil menyeruput kopi hitam. Dengan bekal binaan Hanny Wattimena (Hanny, seorang musisi Hip Hop 90-an), Hanny mendedikasikan waktunya untuk mengajar vokal, penguasaan panggung, dan bagaimana berinteraksi di panggung. "Jam latihan kami waktu itu, biasanya jam 9 malam ke atas. Sejak saat itulah kecintaan saya terhadap Hip Hop mulai menjadi-jadi. Saya merasa bisa berekspresi