Skip to main content

Om Bambe Dan Sebuah Seni Menghitung







Ketika menyusuri satu ruas trotoar di Bandung, dan menyaksikan kaki saya dibalut sendal gunung ‘ala-ala’, ingatan saya terbang ke tahun 1998 ketika masih tinggal di Ambon. Saya mendapati diri saya sedang berjalan dengan celana pendek, sendal gunung carvil berwarna coklat yang saya beli dengan ibu di satu toko di daerah Pasar Lama, sedang berjalan di satu ruas trotoar di ‘turun-turun RRI’.

Kelak ketika memperhatikan plang jalan yang seringkali disebut orang Ambon sebagai ‘turun-turun RRI’, saya tahu nama jalan itu adalah Setiabudi. Saya berangkat biasanya pakai becak dari rumah dinas orang tua saya, kala itu di belakang Rumah Sakit Tentara (sebutan orang Ambon lagi)—atau jalan Permi menuju jalan Setiabudi dan memasuki sebuah gang ke sebuah rumah kecil di situ.

Ketika menulis ini, saya memutar ingatan saya dengan keras, mengira-ngira di mana tepatnya letak gang itu. Sayangnya, saya lupa. Mungkin ada di antara kamu yang membaca tulisan ini, dapat membantu, ya—saya menuju rumah Om Bambe.

Ibu saya diam-diam merasa malu ketika nilai matematika saya di laporan pendidikan selama kelas satu dan kelas dua SMA, selalu lima. Paling tinggi enam. Saya sangat yakin, bahkan nilai lima adalah pembulatan yang dilakukan dengan berat hati oleh guru kelas, sebab mereka tidak tega.

Ibu saya lalu mendaftarkan saya kepada Om Bambe. Satu sosok yang pada waktu itu cukup terkenal untuk memberi les pelajaran Matematika. Berbelok pada sebuah gang di antara jalan Setiabudi, saya menapaki jalan berpasir, hingga masuk ke sebuah rumah sangat kecil. Rumah dengan ruang-ruang yang disekat menjadi ruang belajar. Ada bangku panjang dan meja belajar panjang yang menghadap ke papan tulis besar tertempel di dinding.

Jika mendapat giliran les di pagi hari, saya biasanya datang lebih awal. Belum banyak teman yang datang. Saya akan duduk di bangku, menunggu, sembari memperhatikan Om Bambe dengan kacamata tebal bergagang hitam sedang mengepel lantai ruangan dengan minyak tanah. Seketika ruangan di sekitar saya berhamburan aroma minyak tanah, dan takjub melihat lantai yang mengkilap. Setelah itu ia akan mengisi tinta-tinta baru di spidol. Kemudian ia memasak air di ketel listrik dan menyeduh kopi. Ia kembali ke ruang belajar dengan kopi hitam yang mengepul, lalu menuliskan rumus-rumus matematika satu papan penuh—tanpa menyontek dari satupun buku panduan—sebagai tanda pelajaran hari itu dimulai.

Entah mengapa, saya merasa Om Bambe sebagai ‘seniman’. Ia menyapukan rumus-rumus matematika di papan tulis, seperti sedang menggambar atau melukis. Liukan tangan yang berirama, menyiratkan ia begitu mencintai angka. Ia membantu banyak sekali anak yang lemah belajar matematika, untuk mengerti konsep sebuah hitungan matematika. Atau untuk anak yang sudah ‘jago’, untuk lebih lekas menghitung. Kala itu murid Om Bambe sangat banyak dan berasal dari macam-macam sekolah.

Saya tetap tidak tertarik dengan angka. Saya lebih tertarik dengan kata. Naik kelas tiga SMA, saya memilih jurusan Bahasa. Ibu saya tampak menyerah, ketika saya lulus dengan nilai matematika berstatus ‘cukup’ di laporan pendidikan. Namun, bertahun-tahun kemudian, saya masih mengingat Om Bambe. Ia mengajari saya sebuah seni yang lain, seni ‘menghitung’ dan ‘memperhitungkan’ kata apa yang baiknya saya pakai ketika menulis.

Comments

Popular posts from this blog

Puisi Memberikan Jalan Untuk Menyembuhkan Diri

“Puisi mampu membantu beta memberikan jalan untuk menyembuhkan diri sendiri sebab manusia pada dasarnya ‘berpenyakitan’ betul bukan? Puisi benar-benar jadi obat di kala itu,” ujar Chalvin. Chalvin Papilaya satu dari sekian banyak anak muda yang mencintai puisi, dan punya semacam keyakinan kecil, puisi dapat menyembuhkan.
Pada tahun 2016, ia terpilih sebagai salah seorang “emerging writer” yang berangkat ke Makassar International Writers Festival. Bersama beberapa kawan lainnya yang juga berasal dari timur Indonesia, mereka menerbitkan sajak dan cerita pendek, dengan tajuk “Dari Timur 2” yang diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama.
Chalvin katakan, “Puisi adalah pergulatan kecemasan terhadap tanda-tanda yang ada di luar diri penyair maupun di dalam dirinya sendiri—puisi bukanlah sekadar susunan kata-kata belaka.” Ungkapan ini, kemudian mengantar Chalvin untuk menerbitkan buku puisinya sendiri pada tahun 2019, berjudul “Mokolo”.



“Mokolo adalah kata sifat yang menggambarkan konteks per…

Tunjukkan Apa yang Kita Cintai Dari Atas Panggung

GRIZZLY CLUIVERT NAHUSULY mulai menyayangi Hip Hop sejak ia masih duduk di kelas tiga SMP. Di tengah-tengah pencarian jati dirinya, Icy, begitu ia disapa, menemukan Hip Hop. Ia merasa tidak hanya menemukan apa yang selama ini ia gemari, ia justru menemukan dirinya sendiri.
"Saya sempat gabung di dalam paduan suara, dan kemudian saya temukan satu warna, yang rasanya saya banget, karena musiknya tidak terlalu mengandalkan suara yang merdu. Akhir 2010, saya tertarik, dan mulai mengikuti sebuah lomba namanya, BKKBN rap contest." Icy memulai ceritanya pada satu petang yang syahdu sambil menyeruput kopi hitam.
Dengan bekal binaan Hanny Wattimena (Hanny, seorang musisi Hip Hop 90-an), Hanny mendedikasikan waktunya untuk mengajar vokal, penguasaan panggung, dan bagaimana berinteraksi di panggung.
"Jam latihan kami waktu itu, biasanya jam 9 malam ke atas. Sejak saat itulah kecintaan saya terhadap Hip Hop mulai menjadi-jadi. Saya merasa bisa berekspresi dengan sesuatu yang membua…

Beberapa Spot Favorit Lainnya di Pusat Kota Ambon: Silakan Jalan Kaki Atau Naik Becak

Kota Ambon dengan jalan-jalan utamanya, masih bisa dijangkau dengan jalan kaki. Masih ramah, mengingat pusat kotanya yang tidak terlalu luas. Atau alternatif lainnya adalah menggunakan becak. Becak di Kota Ambon, relatif masih sangat terjangkau. Dari harga 5000 rupiah hingga 20.000 ribu rupiah. Semuanya kembali kepada jarak tempuh. 
Jalan utama Ay. Patty adalah salah satu jalan utama yang asik untuk dipakai jalan kaki dari ujung satu ke ujung lainnya. Berbagai toko berderet di sepanjang jalan ini. Ada sebuah Kafe bernama D'Street yang menjadi alternatif tempat nongkrong sambil ber-wifi-an dan minum kopi sore. 
Beberapa toko di jalan Ay. Patty ini memang terbakar ketika konflik Maluku yang lalu, tetapi kini sudah dibangun kembali dan ditata dengan apik. Ingatan saya kembali ke tahun 90-an ketika itu Bakso di Puskud (salah satu bangunan yang ada di Jl. Ay. Patty, kini bentuk bangunannya masih ada, tetapi sudah beralih fungsi) masih menjadi salah satu yang favorit. 
Di jalan Ay. Patty j…