Skip to main content

Memotret Keseharian Untuk Mengabadikan Sejarah












Sebuah kalimat pembuka dari buku foto Remains, berbunyi begini, “Aku menemukan banyak cinta yang indah ketika berada di rumah, karena rumah adalah tempat aku menemukan kebebasan.” Remains adalah sebuah buku yang berisikan kumpulan karya foto dari Ardiles Akyuwen. Baru-baru ini ia mengeluarkan buku foto tersebut dalam edisi terbatas.

Ardiles yang kini berprofesi sebagai pengajar fotografi dan desain di Fakultas Desain Komunikasi Visual Universitas Multimedia Nusantara, mengaku bahwa ia telah menggeluti dunia foto sejak ia kuliah dan tinggal di Jogjakarta, sekitar tahun 1996. Ia mulai dari memotret model dan sambil jalan belajar tentang komposisi pencahayaan serta hal-hal lainnya di fotografi.



Rumah, anjing, foto di meja, tempat tidur, merupakan ‘keseharian’ yang diangkat sebagai benang merah yang menonjol pada Remains. “Beta pikir rumah adalah ruang kebebasan, beta bisa bikin apa saja di rumah. Rumah adalah tentang pulang, rasa lega, rasa lepas, dan ada damai”, tuturnya ketika ditanya mengenai alasannya memotret kali ini. Kebebasan lainnya yang coba ia tuangkan ke dalam buku ini adalah, ia senang memotret sesuatu yang ‘receh’, ia katakan begini, “Beta suka memotret hal-hal yang receh dengan gaya visual yang receh pula. Tanpa bedak aliran ‘salon foto’ dan esetetika yang cenderung berbeda dengan kesepakatan umum. Dengan kata lain, beta pung foto ini banyak yang seng indah.”

Keseharian kemudian menjadi penting untuk diabadikan baginya. “Keseharian dapat menjadi sejarah hidup,” lebih lanjut ia menjelaskan begini, “Beta berangan-angan suatu saat nanti kalau katong sudah seng ada, melalui peninggalan foto, beta pung keluarga akan paham bahwa hidup itu tidak mesti seragam.”



Ardiles dan istrinya, Cininta, adalah penyayang hewan. Hal itu tampak jelas dengan satu foto yang ada di buku Remains yaitu seekor anjing yang tidur di atas tempat tidur. Mereka bahkan mengadopsi beberapa anjing dari jalanan untuk dipelihara di rumah mereka. Ardiles yang kini tinggal di Jakarta tidak lupa dengan bagaimana ia dibesarkan di rumah orang tuanya di kawasan Batu Gantung, Ambon, “Rumah dulu di Batu Gantung selalu punya ruang tersendiri di beta punya hati. Kisah di buku Remains, juga merupakan proyeksi beta punya kerinduan kepada Ambon. Beta pung Papa mengajarkan beta untuk melawan, untuk memihak. Dan hal spesifik yang mendorong beta untuk terus berkarya adalah beta bangga sebagai Alifuru.”

Comments

Popular posts from this blog

Kegelisahan: musisi dan penikmat musik

Saya pernah menulis sebuah lirik berjudul “Tetanggaku Pergi ke Kota” yang kemudian dinyanyikan oleh Tetangga Pak Gesang, duo musisi indie yang berasal dari Bandung. Mereka adalah Arum Dayu dan Meicy Sitorus, yang aslinya adalah penggiat foto dan dua teman baik saya.  Sampai saat ini, album mereka sementara dikerjakan secara gerilya. Memang belum ada hasil yang bisa didengarkan secara fisik, baik itu berupa CD, kaset, maupun vinyl yang sedang menjamur akhir-akhir ini. Tetapi lagu-lagu mereka dapat didengarkan di soundcloud.  Produktivitas meng-aransemen lagu-lagu lama dan mencipta lagu-lagu baru, kemudian diakui oleh beberapa musisi besar seperti Slank dan Efek Rumah Kaca. Yang pada akhirnya mengajak mereka untuk berkolaborasi di satu panggung.  Yang ingin saya bahas di sini adalah bukan secara spesifik menyangkut Tetangga Pak Gesang tetapi sepenggal lirik yang saya tulis di dalam lagu Tetanggaku Pergi ke Kota:  kita tak perlu ke kota, kita kan membuat kot

Tunjukkan Apa yang Kita Cintai Dari Atas Panggung

GRIZZLY CLUIVERT NAHUSULY mulai menyayangi Hip Hop sejak ia masih duduk di kelas tiga SMP. Di tengah-tengah pencarian jati dirinya, Icy, begitu ia disapa, menemukan Hip Hop. Ia merasa tidak hanya menemukan apa yang selama ini ia gemari, ia justru menemukan dirinya sendiri. "Saya sempat gabung di dalam paduan suara, dan kemudian saya temukan satu warna, yang rasanya saya banget , karena musiknya tidak terlalu mengandalkan suara yang merdu. Akhir 2010, saya tertarik, dan mulai mengikuti sebuah lomba namanya, BKKBN rap contest ." Icy memulai ceritanya pada satu petang yang syahdu sambil menyeruput kopi hitam. Dengan bekal binaan Hanny Wattimena (Hanny, seorang musisi Hip Hop 90-an), Hanny mendedikasikan waktunya untuk mengajar vokal, penguasaan panggung, dan bagaimana berinteraksi di panggung. "Jam latihan kami waktu itu, biasanya jam 9 malam ke atas. Sejak saat itulah kecintaan saya terhadap Hip Hop mulai menjadi-jadi. Saya merasa bisa berekspresi

Rocky Tahapary : Jang Tunggu Beso!

Apa sih sebenarnya yang jadi passion kamu?  Passion saya tentunya di dunia musik dan photography. Menurut kamu penting nggak sih jika anak muda harus punya passion? Passion itu menurut saya diibaratkan dengan penjiwaan artinya sesuatu yang kita lakukan tanpa adanya paksaan atau tekanan melainkan sesuatu yang dilakukan dengan kesenangan dengan jiwa dengan rasa memiliki yang tinggi. Passion tidak datang dari orang lain namun passion datang dari dalam diri masing - masing pribadi,  dengan demikian menurut saya, passion sangatlah penting untuk anak muda, karena tentu ketika mereka telah mengetahui passion mereka dan dilakukan secara konsisten dan professional maka tentu hasil yang di dapat pun akan sangat sangat sangat maksimal.  Kamu memotret, ceritakan soal memotret, biasanya objek apa yang paling menarik, lalu pernah berkolaborasi dengan siapa saja, dan karya foto kamu pernah dimuat dimana saja?  Yes memotret sudah menjadi profesi saya. Sedikit tentang kis