Skip to main content

Posts

Showing posts from January, 2020

Memotret Keseharian Untuk Mengabadikan Sejarah

Sebuah kalimat pembuka dari buku foto Remains, berbunyi begini, “Aku menemukan banyak cinta yang indah ketika berada di rumah, karena rumah adalah tempat aku menemukan kebebasan.” Remains adalah sebuah buku yang berisikan kumpulan karya foto dari Ardiles Akyuwen. Baru-baru ini ia mengeluarkan buku foto tersebut dalam edisi terbatas.
Ardiles yang kini berprofesi sebagai pengajar fotografi dan desain di Fakultas Desain Komunikasi Visual Universitas Multimedia Nusantara, mengaku bahwa ia telah menggeluti dunia foto sejak ia kuliah dan tinggal di Jogjakarta, sekitar tahun 1996. Ia mulai dari memotret model dan sambil jalan belajar tentang komposisi pencahayaan serta hal-hal lainnya di fotografi.


Rumah, anjing, foto di meja, tempat tidur, merupakan ‘keseharian’ yang diangkat sebagai benang merah yang menonjol pada Remains. “Beta pikir rumah adalah ruang kebebasan, beta bisa bikin apa saja di rumah. Rumah adalah tentang pulang, rasa lega, rasa lepas, dan ada damai”, tuturnya ketika ditanya…

Puisi Dan Menyoal Kejujuran

foto. dok pribadi



Kau terjunkan dirimu di lautan berkarang setelah menenggak sebotol tuak koli buih ombak berpadu cerah mentari mengantar ayun kepak raga
Diantar sorot harap si jantung hati menakar butiran beras yang tak bersisa lagi sang penyelam pun membelah luas kedalaman laut banda
Adalah sepenggal puisi dari tajuk "Sang Penyelam Mutiara" yang ditulis oleh Mariana Lewier pada September 2012. Puisi ini diterbitkan bersama tiga puisinya yang lain pada buku Antologi Puisi Penyair Maluku, "Biarkan Katong Bakalae", bersama sejumlah penyair lainnya. Mariana Lewier terlibat dalam beberapa antologi puisi sebelumnya, seperti Kemilau Musim, Pesona Gemilang Musim, 142 Penyair Menuju Bulan, Ungu Pernikahan, Nyanyian Pulau-Pulau, dan Sauk Seloka.
"Ketertarikan beta pada puisi berawal dari kesenangan membaca karya sastra berupa fiksi dan puisi sejak kecil dan senang kalau dengar pembacaan puisi", Ujar Ibu Ana yang juga bekerja sebagai Dosen pada Prodi Pendidikan Bahasa…

Om Bambe Dan Sebuah Seni Menghitung

Ketika menyusuri satu ruas trotoar di Bandung, dan menyaksikan kaki saya dibalut sendal gunung ‘ala-ala’, ingatan saya terbang ke tahun 1998 ketika masih tinggal di Ambon. Saya mendapati diri saya sedang berjalan dengan celana pendek, sendal gunung carvil berwarna coklat yang saya beli dengan ibu di satu toko di daerah Pasar Lama, sedang berjalan di satu ruas trotoar di ‘turun-turun RRI’.
Kelak ketika memperhatikan plang jalan yang seringkali disebut orang Ambon sebagai ‘turun-turun RRI’, saya tahu nama jalan itu adalah Setiabudi. Saya berangkat biasanya pakai becak dari rumah dinas orang tua saya, kala itu di belakang Rumah Sakit Tentara (sebutan orang Ambon lagi)—atau jalan Permi menuju jalan Setiabudi dan memasuki sebuah gang ke sebuah rumah kecil di situ.
Ketika menulis ini, saya memutar ingatan saya dengan keras, mengira-ngira di mana tepatnya letak gang itu. Sayangnya, saya lupa. Mungkin ada di antara kamu yang membaca tulisan ini, dapat membantu, ya—saya menuju rumah Om Bambe.
Ibu…

Puisi Memberikan Jalan Untuk Menyembuhkan Diri

“Puisi mampu membantu beta memberikan jalan untuk menyembuhkan diri sendiri sebab manusia pada dasarnya ‘berpenyakitan’ betul bukan? Puisi benar-benar jadi obat di kala itu,” ujar Chalvin. Chalvin Papilaya satu dari sekian banyak anak muda yang mencintai puisi, dan punya semacam keyakinan kecil, puisi dapat menyembuhkan.
Pada tahun 2016, ia terpilih sebagai salah seorang “emerging writer” yang berangkat ke Makassar International Writers Festival. Bersama beberapa kawan lainnya yang juga berasal dari timur Indonesia, mereka menerbitkan sajak dan cerita pendek, dengan tajuk “Dari Timur 2” yang diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama.
Chalvin katakan, “Puisi adalah pergulatan kecemasan terhadap tanda-tanda yang ada di luar diri penyair maupun di dalam dirinya sendiri—puisi bukanlah sekadar susunan kata-kata belaka.” Ungkapan ini, kemudian mengantar Chalvin untuk menerbitkan buku puisinya sendiri pada tahun 2019, berjudul “Mokolo”.



“Mokolo adalah kata sifat yang menggambarkan konteks per…