Skip to main content

Tunjukkan Apa yang Kita Cintai Dari Atas Panggung











GRIZZLY CLUIVERT NAHUSULY mulai menyayangi Hip Hop sejak ia masih duduk di kelas tiga SMP. Di tengah-tengah pencarian jati dirinya, Icy, begitu ia disapa, menemukan Hip Hop. Ia merasa tidak hanya menemukan apa yang selama ini ia gemari, ia justru menemukan dirinya sendiri.

"Saya sempat gabung di dalam paduan suara, dan kemudian saya temukan satu warna, yang rasanya saya banget, karena musiknya tidak terlalu mengandalkan suara yang merdu. Akhir 2010, saya tertarik, dan mulai mengikuti sebuah lomba namanya, BKKBN rap contest." Icy memulai ceritanya pada satu petang yang syahdu sambil menyeruput kopi hitam.

Dengan bekal binaan Hanny Wattimena (Hanny, seorang musisi Hip Hop 90-an), Hanny mendedikasikan waktunya untuk mengajar vokal, penguasaan panggung, dan bagaimana berinteraksi di panggung.

"Jam latihan kami waktu itu, biasanya jam 9 malam ke atas. Sejak saat itulah kecintaan saya terhadap Hip Hop mulai menjadi-jadi. Saya merasa bisa berekspresi dengan sesuatu yang membuat saya nyaman," Ujarnya lebih lanjut.

Di bawah asuhan Anes Talabessy, Icy dan Devi Talabessy berangkat ke Jakarta  di bawah bendera K19 (Kadewatan 19), untuk mengikuti ajang rap skala nasional yang juga masih diselenggarakan oleh BKKBN. Ketika kembali ke Ambon, Icy dan Devi mengajak Deko Hukom untuk bersama-sama melebur dalam satu formasi baru.

Memasuki tahun 2012, ada sebuah ajang lainnya bernama Amboina Hip Hop Competition. K19 yang ketika itu, berencana untuk ikut, merasa perlu untuk menambah amunisi. Maka, Marco Saiya dan Novel Muskitta dari The Big Zero, pun ikut bergabung, dan terbentuklah sebuah nama baru, Alifuru Hip Hop.

Tahun 2012-2014 dapat dikatakan sebagai masa kejayaan Alifuru Hip Hop, karena setiap kompetisi yang diikuti berujung dengan membawa kemenangan. "Ketika katong ingin menampilkan sesuatu, tapi katong tidak satu hati, itu percuma," Ungkap Icy mengingat nasihat yang selalu ia pegang dari mentornya.

"O Mae O" dan "Maluku Sing Yo" adalah dua lagu yang lahir di masa-masa awal Alifuru Hip Hop. Yang kemudian mendapat sambutan yang cukup baik, bahkan diputar di dalam angkutan kota. Hal ini mencuatkan sedikit rasa bangga, sekaligus juga menjadi alasan, mengapa sampai saat ini, ia masih memilih bertahan di jalur musik Hip Hop.

Memasuki tahun 2017, Icy pakai nama baru 'Sang Saka' yang membawa ia berkenalan dengan Filasz Sinmiasa. Sang Saka mulai menjajaki jalur Hip Hop dengan lirik lagu berbahasa Indonesia. Mereka kepengin menghentar musik mereka ke skena yang lebih luas lagi. Maka lahirlah singel “U Can”, lagu ini berisikan ajakan untuk ‘lakukan apa yang dicintai dan cintai apa yang dilakukan’.

Tidak lama setelah itu, Sang Saka bertemu dengan personil lainnya, yaitu, Mack Fernando. Menggabungkan nuansa ‘Boom Bap’ ke dalam musik mereka, Sang Saka menelurkan kembali lagu “Coba Kau Pikirkan”. Lagu ini memiliki pesan untuk tidak gampang menyerah melakukan hal-hal di dalam hidup. Setelah itu, dalam sebuah ajang ke Jakarta, Sang Saka sempat membuat lagu baru yaitu “Da Boom” serta membuat video pendeknya.

‘Ghetto Side’ kemudian lahir dengan semangat kolaborasi. Dengan memadukan Alifuru Hip Hop, Sang Saka, dan Tickang Palungku, Icy melihat ini sebagai kesempatan untuk memajukan musik Hip Hop lebih lagi. Gelaran pertama yang diselenggarakan oleh Ghetto Side yaitu, Ambonesia Hip Hop Movement, di bulan Juli 2018.

Ambonesia Hip Hop Movemet berhasil digelar dengan mendatangkan Mukarakat, sekaligus juga merupakan kolaborasi awal Ghetto Side dengan membawakan lagu “Ambonesia Hip Hop”. Di lagu ini menampilkan tarian cakalele, sebagai simbol pameri jalang untuk musik Hip Hop.

Panggung Ghetto Side selanjutnya yaitu perhelatan Amboina Bamboo Music Festival, bulan November kemarin. Malam itu panggung penuh warna, ramai, dan pecah. Tidak hanya menyuguhkan musik, Ghetto Side berhasil memukau dengan beragam improvisasi yang dilakukan dari atas panggung. 

Mengenai penampilan itu Icy berkomentar, “Sebagai satu tim, kita mesti satu hati. Sebagai personal, kita mesti bisa menjiwai. Kontak mata dengan penonton, ketika marah kasih tunjuk kalau marah, ketika kasihan, kasih tunjuk kalau kasihan. Dan tunjukkan apa yang kita cintai dari atas panggung.”





Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

MANUMATA Dekat di Mata Tinggal di Hati

Manumata, artinya satu atap atau berasal dari satu mata rumah. “Karena katong samua basudara.” Filosofi inilah yang menjaga Manumata sebagai sebuah grup hip-hop  dan berhasil membawa mereka tinggal di hati banyak orang.

Pertama kali saya melihat Manumata tampil di panggung pada tahun 2015, dalam sebuah acara yang digelar di Pattimura Park. Karena mereka tinggal dan berasal dari ‘satu atap’ yang sama, Manumata lekas menarik perhatian saya dengan kekompakan mereka ketika di panggung.

Pada suatu petang, saya berkesempatan mengunjungi basecamp Manumata di kawasan Air Putri-Ambon untuk mengobrol dengan empat anak keren ini. Manumata yang terdiri dari Friti Putreisya Riry (Uthe, 13 tahun), Johanes Philipus Eurilwen Petrusz (Jho, 13 tahun), Everd Arnold Riry (Ever, 15 tahun), dan Oscar Imanuel Lena (Oscar, 12 tahun), selalu mampu mengambil hati penonton dari atas panggung. Bukan hanya muda, lincah, mereka juga energik dan penuh percaya diri.

Ternyata keluwesan mereka di atas panggung sudah terb…

Cidade De Amboino : Lewat Rap Mari Melakukan Kebaikan!

CIDADE DE AMBOINO atau CDArap adalah salah satu dari sekian banyak grup maupun komunitas rap yang berdomisili di kota Ambon. 
Beranggotakan, Berixter Marceloy Tiwery a.k.a Q’Angel, Norman Schawarzkopf Angwarmase a.k.a Noro/Baik’ MC, Nathanel G Tuju a.k.a Ghey’C, Mozes Muskitta a.k.a Oceez, Ryo Diasz a.k.a RDZ, Klinton Tumangken a.k.a KLYN, Maryos Siahaya a.k.a i’OZ.  
Tapi sore itu saya hanya berhasil meng-interview tiga orang di antara ke tujuh personil. Simak interview saya dengan mereka, berikut ini. 
TR: selamat sore, kalau boleh mengutip seorang teman bahwa passion adalah sesuatu yang membakar diri kita dari dalam, nah kira-kira, apa yang menjadi passion dari teman-teman semua, baik itu dalam hal musik, hip-hop, rap, atau apapun?
RDZ: sebagai anak muda, kita suka melakukan banyak hal. Kita bergairah dengan hal itu. Tapi kalau bicara soal rap yang saat ini CDArap tekuni, orang-orang mulai menekuni bikin rima, bikin lirik. Awalnya, saya tidak punya motivasi lain, sama-sama asik saja, d…