Skip to main content

Sebuah Perenungan dari Kota Musik: 'The City of Batang Kayu'








'Batang kayu,' begitu istilah yang ditujukan kepada penonton acara musik di Ambon. Jujur saja, pengalaman saya menonton acara musik di kota Ambon memang tidak banyak. Terhitung selama tiga bulan ini tinggal di kota Ambon, saya sempat datang ke 'konser kecil' yang diadakan oleh FIS DUO dan acara peluncuran album Amboina Bananas, yang keduanya diadakan di D'Lekker Food Court, Tanah Tinggi.

Pengalaman menonton kedua acara tersebut, asyik sekali. Paling tidak, saya tidak menemukan istilah penonton yang 'batang kayu' tadi. Saya justru mendapati penonton yang hanyut ke dalam setiap lagu dan performa dari musisi di panggung. Banyak yang ikut menyanyi, joged kecil, dan juga bertepuk tangan. Bahkan interaktif intim khas musisi dan penonton terjadi dengan natural dan tidak dibuat-buat. Hingga penilaian saya berubah.

Pada perhelatan musik, Amboina International Bamboo Music Festival, yang baru saja lewat dua hari kemarin, saya punya sebuah pengalaman lain. Kali ini saya memang tidak menjadi penonton, melainkan dipercaya untuk memandu acara tersebut. Pada hari terakhir, Amboina International Bamboo Music Festival, riuh penonton menjadi sangat lain.

Ketika beberapa teman musisi hadir di depan, banyak sekali keributan yang berasal dari penonton. Beberapa celetukan dan komentar yang diteriakkan ke arah panggung sama sekali tidak lucu. Beberapa ekspresi dari penonton sama sekali tidak pantas, bahkan cenderung melecehkan. Bukan hanya teman musisi, saya sebagai pemandu acara pun ikut kena imbasnya.

Sedikit cerita, di dalam tahun ini, saya turut menghadiri Folk Music Festival di Batu Malang. Sebuah perhelatan musik yang diadakan selama tiga hari, dan setiap harinya dihadiri oleh kurang lebih empat ribu penonton. Namun, di acara tersebut saya menyaksikan sendiri, bagaimana reaksi penonton sungguh tidak diduga. Saya mendapati ribuan penonton tadi duduk tenang, merumput dengan tertib, sambil minum kopi dan makan kacang rebus—bernyanyi kecil bagai paduan suara ketika seorang musisi sedang tampil. Padahal acara tersebut berbayar.

Ketika catatan ini dibuat, saya jadi merenung sendiri, apa yang salah dengan penonton acara musik di kota ini?

Berikut adalah beberapa catatan saya:

1. Kesadaran menonton konser musik. Tidak ada salahnya kita mulai belajar untuk memberikan apresiasi, walaupun itu hanya dengan ikut bernyanyi kecil-kecil, atau bertepuk tangan selesai sebuah penampilan.

2. Kesadaran ruang. Panggung besar, jarak menonton yang jauh, membuat kita bebas meneriaki apa saja sebagai penonton. Tapi pikirkan ruang, perhatikan orang-orang di sekitarmu, pikirkan konteks sebuah acara, pikirkan lagi tujuanmu hadir di dalam acara tersebut.

3. Kurangnya perkenalan. Barangkali para musisi yang tampil memang sudah semestinya memperhitungkan bumper perkenalan, visual panggung, video pemantik, dan materi lain yang turut mendukung sebuah penampilan.

Jika kamu punya catatan tambahan, saya tunggu di kolom komentar.

Comments

Popular posts from this blog

MANUMATA Dekat di Mata Tinggal di Hati

Manumata, artinya satu atap atau berasal dari satu mata rumah. “Karena katong samua basudara.” Filosofi inilah yang menjaga Manumata sebagai sebuah grup hip-hop  dan berhasil membawa mereka tinggal di hati banyak orang.

Pertama kali saya melihat Manumata tampil di panggung pada tahun 2015, dalam sebuah acara yang digelar di Pattimura Park. Karena mereka tinggal dan berasal dari ‘satu atap’ yang sama, Manumata lekas menarik perhatian saya dengan kekompakan mereka ketika di panggung.

Pada suatu petang, saya berkesempatan mengunjungi basecamp Manumata di kawasan Air Putri-Ambon untuk mengobrol dengan empat anak keren ini. Manumata yang terdiri dari Friti Putreisya Riry (Uthe, 13 tahun), Johanes Philipus Eurilwen Petrusz (Jho, 13 tahun), Everd Arnold Riry (Ever, 15 tahun), dan Oscar Imanuel Lena (Oscar, 12 tahun), selalu mampu mengambil hati penonton dari atas panggung. Bukan hanya muda, lincah, mereka juga energik dan penuh percaya diri.

Ternyata keluwesan mereka di atas panggung sudah terb…

Cidade De Amboino : Lewat Rap Mari Melakukan Kebaikan!

CIDADE DE AMBOINO atau CDArap adalah salah satu dari sekian banyak grup maupun komunitas rap yang berdomisili di kota Ambon. 
Beranggotakan, Berixter Marceloy Tiwery a.k.a Q’Angel, Norman Schawarzkopf Angwarmase a.k.a Noro/Baik’ MC, Nathanel G Tuju a.k.a Ghey’C, Mozes Muskitta a.k.a Oceez, Ryo Diasz a.k.a RDZ, Klinton Tumangken a.k.a KLYN, Maryos Siahaya a.k.a i’OZ.  
Tapi sore itu saya hanya berhasil meng-interview tiga orang di antara ke tujuh personil. Simak interview saya dengan mereka, berikut ini. 
TR: selamat sore, kalau boleh mengutip seorang teman bahwa passion adalah sesuatu yang membakar diri kita dari dalam, nah kira-kira, apa yang menjadi passion dari teman-teman semua, baik itu dalam hal musik, hip-hop, rap, atau apapun?
RDZ: sebagai anak muda, kita suka melakukan banyak hal. Kita bergairah dengan hal itu. Tapi kalau bicara soal rap yang saat ini CDArap tekuni, orang-orang mulai menekuni bikin rima, bikin lirik. Awalnya, saya tidak punya motivasi lain, sama-sama asik saja, d…

Weslly Johannes : Beta Sayang Kenangan

Weslly Johannes adalah seorang penyair. Ia mencintai kata-kata. Kesan pertama ketika bertemu dengannya adalah ia sangat teduh, seperti melihat lautan, ketika berlayar diatasnya, kemudian baru kita menemukan banyak sekali gelombang-gelombang. Ia menyukai, menghabiskan waktu di daerah sekitar rumahnya, di Ambon, yaitu pada bangku yang terletak di bawah pohon nangka, dari situ ia dapat melihat Tanjung Alang dan matahari tenggelam. Di sanalah kemudian puisi-puisinya lahir. Selain itu Teluk Kayeli, adalah tempat favoritnya, ketika menceritakan tentang Teluk Kayeli, ada rasa haru sekaligus rindu, seperti ingin selalu kembali ke sana. 
Saat ini ia tinggal di Saumlaki, Maluku Tenggara Barat, karena harus menyelesaikan proses Vikaris (proses sebelum kemudian menjadi seorang pendeta) dan kemudian saya adalah orang yang paling beruntung, ketika mendapatkan kesempatan mengobrol dengannya. 
Kata yang paling banyak kita temui di dalam puisi puisi Weslly Johannes yaitu kenangan. Manusia pada akhirnya …