Skip to main content

MANUMATA Dekat di Mata Tinggal di Hati








Manumata, artinya satu atap atau berasal dari satu mata rumah. “Karena katong samua basudara.” Filosofi inilah yang menjaga Manumata sebagai sebuah grup hip-hop  dan berhasil membawa mereka tinggal di hati banyak orang.

Pertama kali saya melihat Manumata tampil di panggung pada tahun 2015, dalam sebuah acara yang digelar di Pattimura Park. Karena mereka tinggal dan berasal dari ‘satu atap’ yang sama, Manumata lekas menarik perhatian saya dengan kekompakan mereka ketika di panggung.

Pada suatu petang, saya berkesempatan mengunjungi basecamp Manumata di kawasan Air Putri-Ambon untuk mengobrol dengan empat anak keren ini. Manumata yang terdiri dari Friti Putreisya Riry (Uthe, 13 tahun), Johanes Philipus Eurilwen Petrusz (Jho, 13 tahun), Everd Arnold Riry (Ever, 15 tahun), dan Oscar Imanuel Lena (Oscar, 12 tahun), selalu mampu mengambil hati penonton dari atas panggung. Bukan hanya muda, lincah, mereka juga energik dan penuh percaya diri.

Ternyata keluwesan mereka di atas panggung sudah terbukti sejak dini. Manumata mengenal panggung ketika mereka masih sangat muda dan masih duduk di bangku sekolah dasar. Ketika itu mereka tampil di acara ulang tahun Tahury Family Gathering pada tahun 2012.

Pengalaman ketika pertama kali manggung pun diceritakan dengan penuh semangat, “Waktu itu Ever sempat seng naik ke panggung,” celetuk Uthe sambil melirik Ever. Ever lalu melanjutkan, “Iya, waktu itu sempat sakit perut karena sepatu basah kena hujan besar.” Jho juga menambahkan, “Waktu itu katong  sempat tegang, nervous, tapi begitu sudah ada di atas panggung, semua jadi biasa saja.”

Tertarik dengan lagu rap juga bukan karena dipaksa. Manumata sering melihat Mr. E (Reza ‘Eross’ Riry) latihan bersama Tahury Hip Hop. Lagu-lagu yang dibawakan oleh Tahury rupanya lekas dihafal dan dinyanyikan ulang dengan cepat oleh Manumata. Mr. E lantas menyambut baik kemampuan Manumata tersebut dan ‘mengasuh’ mereka.

Bukan hanya rap, Manumata diajari penguasaan panggung termasuk pegang microphone dan hal-hal teknis lainnya di atas panggung. Biasanya di dalam latihan sebelum manggung, Manumata sering diingatkan tentang cara blocking. Jika salah satu anggota sedang dapat giliran untuk lead di depan, maka yang lain berkumpul di belakang. Begitu pun jika salah satu anggota lupa lirik, atau salah lirik, maka anggota yang lain mesti bersiap untuk menutupi kesalahan tersebut.

“Kalau saudara menyanyi salah, maka saudara yang lain langsung tutup kesalahannya.” Ever menegaskan lagi dengan senyum manisnya. Jho lalu bercerita tentang pengalaman manggung yang asyik menurutnya, salah satunya adalah di Maluku Fair (tahun 2015), “Waktu itu manggung dan banyak orang nonton, semangat dari penonton biasanya akan bikin katong lebih semangat lagi.”

“Pengalaman asyik lainnya ketika manggung di Synchronize Festival Jakarta. Awal nyanyi belum ada orang yang datang, tapi tiba-tiba orang mulai datang banyak dan katong langsung lebih semangat,” cerocos Jho yang diam-diam mengidolakan Eminem. Hal ini dikonfirmasikan juga dari akun instagram Synchronize Fest begini, “Manumata mencuri perhatian pengunjung #SynchronizeFest2018 saat tampil di XYZ Stage. Bakat-bakat muda dari Ambon ini membuktikan ke semua bahwa mereka patut diperhitungkan di industri musik.” Namun tidak hanya itu, Manumata juga pernah tampil di Mata Najwa, Sarah Sechan, dan acara yang digelar bersama Ibu Susi Pudjiastuti.

Virus menulis lirik pelan-pelan juga menulari Manumata, “Beta mulai tulis-tulis lirik dan simpan di dalam ponsel,” tutur Oscar yang menyukai pelajaran Bahasa Indonesia di sekolah. Album Manumata juga sudah rilis dalam tahun ini dan diproduseri Glenn Fredly. Di dalam album ini Manumata turut berkolaborasi dengan beberapa musisi yaitu: Iwa K, Tompi, Barry Likumahuwa, DJ Cruzzy dan Wizzow. Didampingi oleh Mr. E, semua proses rekaman Manumata berjalan kurang lebih seminggu di studio.

Bagi Manumata, sekolah tetap menjadi prioritas. Dan orang tua mereka mendukung mereka untuk nge-rap dengan sepenuh hati dengan beberapa nasihat, “Kalau misalanya ada menyanyi, sekolah dulu, jangan absen. Pokoknya sekolah penting,” Jho bercerita dan diiyakan juga oleh Uthe, Ever, dan Oscar. Ever yang menyukai Matematika di sekolah katakan juga, “Kalau pas latihan jua musti betul-betul, jangan lari-lari, dan jangan malawang kaka Eross,” yang diikuti dengan tawa lainnya.

Manumata juga punya pesan kepada teman-teman:

Uthe: “Jang pata pena, seng boleh putus sekolah.”

Jho: “Lebih semangat dalam belajar, jang kalah deng yang lain. Jang malu-malu dalam keluarkan talenta.”

Ever: “Sekolah bae-bae, dengar-dengaran orang tua. Pasti prestasi dalam diri sendiri juga ada.”

Oscar: “Jang putus asa, kalau punya kekurangan, harus belajar sampai bisa jadi yang terbaik.”

Pesan-pesan ini mengakhiri obrolan saya dengan Manumata. Hati kecil saya merasa bahwa ada sesuatu yang terus bertumbuh bersama semangat mereka. Semoga Manumata menjadi atap teduh dan kelak jadi ‘rumah’ untuk banyak talenta.



Comments

Popular posts from this blog

Tunjukkan Apa yang Kita Cintai Dari Atas Panggung

GRIZZLY CLUIVERT NAHUSULY mulai menyayangi Hip Hop sejak ia masih duduk di kelas tiga SMP. Di tengah-tengah pencarian jati dirinya, Icy, begitu ia disapa, menemukan Hip Hop. Ia merasa tidak hanya menemukan apa yang selama ini ia gemari, ia justru menemukan dirinya sendiri.
"Saya sempat gabung di dalam paduan suara, dan kemudian saya temukan satu warna, yang rasanya saya banget, karena musiknya tidak terlalu mengandalkan suara yang merdu. Akhir 2010, saya tertarik, dan mulai mengikuti sebuah lomba namanya, BKKBN rap contest." Icy memulai ceritanya pada satu petang yang syahdu sambil menyeruput kopi hitam.
Dengan bekal binaan Hanny Wattimena (Hanny, seorang musisi Hip Hop 90-an), Hanny mendedikasikan waktunya untuk mengajar vokal, penguasaan panggung, dan bagaimana berinteraksi di panggung.
"Jam latihan kami waktu itu, biasanya jam 9 malam ke atas. Sejak saat itulah kecintaan saya terhadap Hip Hop mulai menjadi-jadi. Saya merasa bisa berekspresi dengan sesuatu yang membua…

Beberapa Spot Favorit Lainnya di Pusat Kota Ambon: Silakan Jalan Kaki Atau Naik Becak

Kota Ambon dengan jalan-jalan utamanya, masih bisa dijangkau dengan jalan kaki. Masih ramah, mengingat pusat kotanya yang tidak terlalu luas. Atau alternatif lainnya adalah menggunakan becak. Becak di Kota Ambon, relatif masih sangat terjangkau. Dari harga 5000 rupiah hingga 20.000 ribu rupiah. Semuanya kembali kepada jarak tempuh. 
Jalan utama Ay. Patty adalah salah satu jalan utama yang asik untuk dipakai jalan kaki dari ujung satu ke ujung lainnya. Berbagai toko berderet di sepanjang jalan ini. Ada sebuah Kafe bernama D'Street yang menjadi alternatif tempat nongkrong sambil ber-wifi-an dan minum kopi sore. 
Beberapa toko di jalan Ay. Patty ini memang terbakar ketika konflik Maluku yang lalu, tetapi kini sudah dibangun kembali dan ditata dengan apik. Ingatan saya kembali ke tahun 90-an ketika itu Bakso di Puskud (salah satu bangunan yang ada di Jl. Ay. Patty, kini bentuk bangunannya masih ada, tetapi sudah beralih fungsi) masih menjadi salah satu yang favorit. 
Di jalan Ay. Patty j…