Skip to main content

Konspirasi Puisi #3: Fashion dan Warna Warni Kota



foto dok. marthen reasoa

Pukul 20.45 WIT Konspirasi Puisi #3 dengan tajuk Fashion dan Warna Warni Kota dibuka oleh MC Arie Rumihin. Ruang lantai dua Kafe Kayu Manis penuh sesak. Ada banyak anak muda yang hadir. Srihandayani Latukau memulai dengan puisi yang berjudul Warna-Warni Kota. Dalam puisinya, Sri menggambarkan warna-warni kota Ambon saat ini yang berbau politis. Setyawan Samad, penyair asal Banda Neira membacakan tiga buah puisi Gus Mus secara berturut-turut. David Leimena membacakan puisi Chairil Anwar. Kemudian ada satu pembaca baru, Echa Afrikana yang tampil cukup memukau telinga pendengar. Lagi-lagi puisi yang dibawakan adalah warna kota Ambon saat ini. 

Marvin Laurens menampilkan sebuah puisi manis. Fashion anak muda menjadi pengalaman yang dia tuangkan dalam puisinya. Ada juga Satila Novianti dan Rengga Justitia Lilipaly, dua anak perempuan muda yang mencintai dan memandang puisi sebagai karya untuk menuangkan sekaligus meneriakkan ide dan keadaan sekitar. Tidak hanya pembaca puisi, Sang Saka Rap yang terdiri dari Filaz, Grizzly, dan Nando membawakan satu puisi dengan cara mereka yaitu rap. Pendengar benar-benar menikmatinya. Dan pembacaan puisi kali ini ditutup oleh penyair muda, Ecko Saputra Poceratu. Puisi yang ditampilkan berjudul 'Kalian Punya Nasi, Aku Punya Puisi'. Ecko melihat keadaan kota yang berbau pencitraan, "Orang-orang harus punya kekuatan untuk melakukan perlawanan," begitu kata Ecko. 

Malam yang begitu indah. Pembacaan puisi yang berlangsung selama hampir dua jam ini mendapat respon baik dari para pengunjung dan penikmat puisi. Mereka menikmati tiap pembacaan puisi yang dibawakan dengan gaya yang berbeda-beda. Konspirasi puisi edisi ketiga memberikan warna yang baru bagi penikmat puisi di kota Ambon. Ada juga lapak baca Arus Balik yang turut gabung dalam acara ini. Ada sejumlah buku yang dipajang untuk dibaca oleh para penyunjung. Tujuannya adalah untuk meningkatkan literasi bagi anak-anak muda.


(ditulis oleh Marthen Reasoa, Ketua Bengkel Sastra Maluku).

Comments

Popular posts from this blog

MANUMATA Dekat di Mata Tinggal di Hati

Manumata, artinya satu atap atau berasal dari satu mata rumah. “Karena katong samua basudara.” Filosofi inilah yang menjaga Manumata sebagai sebuah grup hip-hop  dan berhasil membawa mereka tinggal di hati banyak orang.

Pertama kali saya melihat Manumata tampil di panggung pada tahun 2015, dalam sebuah acara yang digelar di Pattimura Park. Karena mereka tinggal dan berasal dari ‘satu atap’ yang sama, Manumata lekas menarik perhatian saya dengan kekompakan mereka ketika di panggung.

Pada suatu petang, saya berkesempatan mengunjungi basecamp Manumata di kawasan Air Putri-Ambon untuk mengobrol dengan empat anak keren ini. Manumata yang terdiri dari Friti Putreisya Riry (Uthe, 13 tahun), Johanes Philipus Eurilwen Petrusz (Jho, 13 tahun), Everd Arnold Riry (Ever, 15 tahun), dan Oscar Imanuel Lena (Oscar, 12 tahun), selalu mampu mengambil hati penonton dari atas panggung. Bukan hanya muda, lincah, mereka juga energik dan penuh percaya diri.

Ternyata keluwesan mereka di atas panggung sudah terb…

Tunjukkan Apa yang Kita Cintai Dari Atas Panggung

GRIZZLY CLUIVERT NAHUSULY mulai menyayangi Hip Hop sejak ia masih duduk di kelas tiga SMP. Di tengah-tengah pencarian jati dirinya, Icy, begitu ia disapa, menemukan Hip Hop. Ia merasa tidak hanya menemukan apa yang selama ini ia gemari, ia justru menemukan dirinya sendiri.
"Saya sempat gabung di dalam paduan suara, dan kemudian saya temukan satu warna, yang rasanya saya banget, karena musiknya tidak terlalu mengandalkan suara yang merdu. Akhir 2010, saya tertarik, dan mulai mengikuti sebuah lomba namanya, BKKBN rap contest." Icy memulai ceritanya pada satu petang yang syahdu sambil menyeruput kopi hitam.
Dengan bekal binaan Hanny Wattimena (Hanny, seorang musisi Hip Hop 90-an), Hanny mendedikasikan waktunya untuk mengajar vokal, penguasaan panggung, dan bagaimana berinteraksi di panggung.
"Jam latihan kami waktu itu, biasanya jam 9 malam ke atas. Sejak saat itulah kecintaan saya terhadap Hip Hop mulai menjadi-jadi. Saya merasa bisa berekspresi dengan sesuatu yang membua…

Beberapa Spot Favorit Lainnya di Pusat Kota Ambon: Silakan Jalan Kaki Atau Naik Becak

Kota Ambon dengan jalan-jalan utamanya, masih bisa dijangkau dengan jalan kaki. Masih ramah, mengingat pusat kotanya yang tidak terlalu luas. Atau alternatif lainnya adalah menggunakan becak. Becak di Kota Ambon, relatif masih sangat terjangkau. Dari harga 5000 rupiah hingga 20.000 ribu rupiah. Semuanya kembali kepada jarak tempuh. 
Jalan utama Ay. Patty adalah salah satu jalan utama yang asik untuk dipakai jalan kaki dari ujung satu ke ujung lainnya. Berbagai toko berderet di sepanjang jalan ini. Ada sebuah Kafe bernama D'Street yang menjadi alternatif tempat nongkrong sambil ber-wifi-an dan minum kopi sore. 
Beberapa toko di jalan Ay. Patty ini memang terbakar ketika konflik Maluku yang lalu, tetapi kini sudah dibangun kembali dan ditata dengan apik. Ingatan saya kembali ke tahun 90-an ketika itu Bakso di Puskud (salah satu bangunan yang ada di Jl. Ay. Patty, kini bentuk bangunannya masih ada, tetapi sudah beralih fungsi) masih menjadi salah satu yang favorit. 
Di jalan Ay. Patty j…