Skip to main content

Fis Duo Meluncurkan Album Doa dan Nyali di Kedai Cas, Bandung











Pada Sabtu lalu, acara malam puisi dan peluncuran album Doa dan Nyali oleh Fis Duo berlangsung dengan syahdu. Fis Duo yang digawangi oleh Ferdy Soukotta (gitar dan vokal), Chrisema Latuheru (biola dan vokal) dibantu oleh dua kawan, Rico Matahelumual (hawaiian/steel guitar), dan Zifyon Pattinama (tifa dan rain stick).





Mereka tiba di Bandung, pada Jumat sore dengan kereta, beramai-ramai tidur di ruang tengah yang disediakan oleh Kedai Cas milik Vira dan Ihsan. Di hari peluncuran, hujan turun sejak petang, padahal pukul tujuh nanti acara akan dimulai. Tak disangka, hujan berhenti di pukul tujuh kurang sedikit dan acara kemudian dimulai.

Acara dibuka dengan Alunan Semesta yang jenaka dan membawakan tiga lagu mereka diselingi dengan puisi-puisi yang dibacakan oleh Aulia Akbar, Safiera, dan Teti Diana. Dhira Bongs membawakan dua lagunya dan menceritakan pengalaman tur Jepangnya. Setelah itu Putri Khansa membacakan satu puisinya. Sementara itu, Weslly Johannes di sebuah pojok mengetikan nama menjadi puisi yang dihadiahkan kepada beberapa pengunjung.




Fis Duo kemudian ada di panggung membawakan Toma, Mencintaimu Dari Jauh, Rindu dan Rumah, Doa dan Nyali, dan sebelum lagu terakhir dibawakan gerimis kembali tumpah. Fis Duo dan kawan-kawan kemudian pindah ke bagian ruangan yang tertutup untuk membawakan lagu terakhir mereka Hikayat Dayung dan Arumbai, mencengangkan karena penonton yang datang pada malam itu membentuk satu ruang kecil yang lebih rapat dan hangat untuk mendengarkan lagu terakhir mereka. Selesai peluncuran, beberapa puisi masih dibacakan, oleh Weslly Johannes, Aulia Akbar, Putri Khansa, Nira, Tiara, Zein, Tien Latuconsina dan Jagad.

Syahdu dan merdu, barangkali itulah yang menggambarkan acara malam puisi dan peluncuran album Doa dan Nyali hingga hujan pun tak luput untuk ikut meramaikan. "Kami menganggap hujan ini sebagai berkat," celetuk Is dari depan panggung.

Terima kasih kepada semua yang sudah hadir, terima kasih juga kepada Kedai Cas (Ihsan dan Vira) untuk menghadirkan segala ketidakmungkinan menjadi mungkin, dan Baya yang sudah membantu segala perlengkapan sound pada malam itu. Semoga yang rahmani senantiasa melindungi kita semua. Jumpa di malam puisi lainnya. 

Comments

Popular posts from this blog

Kegelisahan: musisi dan penikmat musik

Saya pernah menulis sebuah lirik berjudul “Tetanggaku Pergi ke Kota” yang kemudian dinyanyikan oleh Tetangga Pak Gesang, duo musisi indie yang berasal dari Bandung. Mereka adalah Arum Dayu dan Meicy Sitorus, yang aslinya adalah penggiat foto dan dua teman baik saya. 
Sampai saat ini, album mereka sementara dikerjakan secara gerilya. Memang belum ada hasil yang bisa didengarkan secara fisik, baik itu berupa CD, kaset, maupun vinyl yang sedang menjamur akhir-akhir ini. Tetapi lagu-lagu mereka dapat didengarkan di soundcloud. 
Produktivitas meng-aransemen lagu-lagu lama dan mencipta lagu-lagu baru, kemudian diakui oleh beberapa musisi besar seperti Slank dan Efek Rumah Kaca. Yang pada akhirnya mengajak mereka untuk berkolaborasi di satu panggung. 
Yang ingin saya bahas di sini adalah bukan secara spesifik menyangkut Tetangga Pak Gesang tetapi sepenggal lirik yang saya tulis di dalam lagu Tetanggaku Pergi ke Kota: 
kita tak perlu ke kota, kita kan membuat kota.
Ketika menuliskan lirik tersebut…

Tunjukkan Apa yang Kita Cintai Dari Atas Panggung

GRIZZLY CLUIVERT NAHUSULY mulai menyayangi Hip Hop sejak ia masih duduk di kelas tiga SMP. Di tengah-tengah pencarian jati dirinya, Icy, begitu ia disapa, menemukan Hip Hop. Ia merasa tidak hanya menemukan apa yang selama ini ia gemari, ia justru menemukan dirinya sendiri.
"Saya sempat gabung di dalam paduan suara, dan kemudian saya temukan satu warna, yang rasanya saya banget, karena musiknya tidak terlalu mengandalkan suara yang merdu. Akhir 2010, saya tertarik, dan mulai mengikuti sebuah lomba namanya, BKKBN rap contest." Icy memulai ceritanya pada satu petang yang syahdu sambil menyeruput kopi hitam.
Dengan bekal binaan Hanny Wattimena (Hanny, seorang musisi Hip Hop 90-an), Hanny mendedikasikan waktunya untuk mengajar vokal, penguasaan panggung, dan bagaimana berinteraksi di panggung.
"Jam latihan kami waktu itu, biasanya jam 9 malam ke atas. Sejak saat itulah kecintaan saya terhadap Hip Hop mulai menjadi-jadi. Saya merasa bisa berekspresi dengan sesuatu yang membua…

Puisi Memberikan Jalan Untuk Menyembuhkan Diri

“Puisi mampu membantu beta memberikan jalan untuk menyembuhkan diri sendiri sebab manusia pada dasarnya ‘berpenyakitan’ betul bukan? Puisi benar-benar jadi obat di kala itu,” ujar Chalvin. Chalvin Papilaya satu dari sekian banyak anak muda yang mencintai puisi, dan punya semacam keyakinan kecil, puisi dapat menyembuhkan.
Pada tahun 2016, ia terpilih sebagai salah seorang “emerging writer” yang berangkat ke Makassar International Writers Festival. Bersama beberapa kawan lainnya yang juga berasal dari timur Indonesia, mereka menerbitkan sajak dan cerita pendek, dengan tajuk “Dari Timur 2” yang diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama.
Chalvin katakan, “Puisi adalah pergulatan kecemasan terhadap tanda-tanda yang ada di luar diri penyair maupun di dalam dirinya sendiri—puisi bukanlah sekadar susunan kata-kata belaka.” Ungkapan ini, kemudian mengantar Chalvin untuk menerbitkan buku puisinya sendiri pada tahun 2019, berjudul “Mokolo”.



“Mokolo adalah kata sifat yang menggambarkan konteks per…