Skip to main content

Faye Risakotta: Maluku itu Selalu di Hati





foto via instagram @fayerisakotta




Faye bernyanyi dan menulis lagu sejak umur tujuh tahun. Dan belajar bermain musik di umur sembilan tahun. Di usianya yang masih sangat muda, ia sudah menyanyikan lagu-lagu dari beberapa penyanyi ternama kemudian mengunggahnya ke laman youtube resminya. Tidak hanya bernyanyi, ia pun menulis banyak lagu.

Lagu terbaru yang ia tulis berjudul 'like a wave' bercerita tentang hidup selalu penuh tantangan dan persoalan, tapi itu semua hanya proses yang harus dilalui. Yang paling penting adalah kita terus berusaha dan tidak menyerah. Liriknya berbunyi  seperti ini, 'like a wave, life will hit you with a shock but you'll see beneath the rocks.. like a wave, although it drags you but you'll see, it's taking you to be..'

Faye percaya bahwa inspirai menulis lagunya selalu datang dari kehiduan sehari-hari maupun dari alam sekitar. Rencananya tahun ini, ia akan membuat  album. Pada tahun lalu, ia sudah pernah membuat mini album natal. Cerita tentang kolaborasi, Faye yang sangat menyukai pantai-pantai di Ambon ni mengatakan bahwa, jika diberikan kesempatan ia kepengin sekali berkolaborasi dengan Glenn Fredly, Isyana Sarasvati dan GAC (Gamal, Audrey, Cantika) karena menurutnya musik mereka asik sekali. Sedangkan untuk musisi luar negeri, ia pengin berkolaborasi dengan Coldplay, karena katanya, Coldplay adalah inspirasi terbesarnya dalam bermusik.

Faye juga berpesan kepada semua anak muda Maluku dimana saja, “never give up, remember to be yourself, because we're all reaching for our dreams, and its important to not be scared, and to fight for what you love. Love others and Love yourselves!”

Comments

Popular posts from this blog

Kegelisahan: musisi dan penikmat musik

Saya pernah menulis sebuah lirik berjudul “Tetanggaku Pergi ke Kota” yang kemudian dinyanyikan oleh Tetangga Pak Gesang, duo musisi indie yang berasal dari Bandung. Mereka adalah Arum Dayu dan Meicy Sitorus, yang aslinya adalah penggiat foto dan dua teman baik saya.  Sampai saat ini, album mereka sementara dikerjakan secara gerilya. Memang belum ada hasil yang bisa didengarkan secara fisik, baik itu berupa CD, kaset, maupun vinyl yang sedang menjamur akhir-akhir ini. Tetapi lagu-lagu mereka dapat didengarkan di soundcloud.  Produktivitas meng-aransemen lagu-lagu lama dan mencipta lagu-lagu baru, kemudian diakui oleh beberapa musisi besar seperti Slank dan Efek Rumah Kaca. Yang pada akhirnya mengajak mereka untuk berkolaborasi di satu panggung.  Yang ingin saya bahas di sini adalah bukan secara spesifik menyangkut Tetangga Pak Gesang tetapi sepenggal lirik yang saya tulis di dalam lagu Tetanggaku Pergi ke Kota:  kita tak perlu ke kota, kita kan membuat kot

Tunjukkan Apa yang Kita Cintai Dari Atas Panggung

GRIZZLY CLUIVERT NAHUSULY mulai menyayangi Hip Hop sejak ia masih duduk di kelas tiga SMP. Di tengah-tengah pencarian jati dirinya, Icy, begitu ia disapa, menemukan Hip Hop. Ia merasa tidak hanya menemukan apa yang selama ini ia gemari, ia justru menemukan dirinya sendiri. "Saya sempat gabung di dalam paduan suara, dan kemudian saya temukan satu warna, yang rasanya saya banget , karena musiknya tidak terlalu mengandalkan suara yang merdu. Akhir 2010, saya tertarik, dan mulai mengikuti sebuah lomba namanya, BKKBN rap contest ." Icy memulai ceritanya pada satu petang yang syahdu sambil menyeruput kopi hitam. Dengan bekal binaan Hanny Wattimena (Hanny, seorang musisi Hip Hop 90-an), Hanny mendedikasikan waktunya untuk mengajar vokal, penguasaan panggung, dan bagaimana berinteraksi di panggung. "Jam latihan kami waktu itu, biasanya jam 9 malam ke atas. Sejak saat itulah kecintaan saya terhadap Hip Hop mulai menjadi-jadi. Saya merasa bisa berekspresi

Puisi Memberikan Jalan Untuk Menyembuhkan Diri

“Puisi mampu membantu beta memberikan jalan untuk menyembuhkan diri sendiri sebab manusia pada dasarnya ‘berpenyakitan’ betul bukan? Puisi benar-benar jadi obat di kala itu,” ujar Chalvin. Chalvin Papilaya satu dari sekian banyak anak muda yang mencintai puisi, dan punya semacam keyakinan kecil, puisi dapat menyembuhkan. Pada tahun 2016, ia terpilih sebagai salah seorang “emerging writer” yang berangkat ke Makassar International Writers Festival. Bersama beberapa kawan lainnya yang juga berasal dari timur Indonesia, mereka menerbitkan sajak dan cerita pendek, dengan tajuk “Dari Timur 2” yang diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama. Chalvin katakan, “Puisi adalah pergulatan kecemasan terhadap tanda-tanda yang ada di luar diri penyair maupun di dalam dirinya sendiri—puisi bukanlah sekadar susunan kata-kata belaka.” Ungkapan ini, kemudian mengantar Chalvin untuk menerbitkan buku puisinya sendiri pada tahun 2019, berjudul “Mokolo”. “Mokolo adalah kata