Skip to main content

SOFTEAST: Suara dari Timur Maluku




Selamat hari Musik Nasional. Tuhan bersama para musisi. Pada kesempatan yang manis ini, simak yuk, tanya jawab Molucca Project dengan SOFTEAST BAND, salah satu Band asal kota Ambon yang terkenal dengan manuver-manuver menukik menggemaskan dalam musik mereka. Selamat berkenalan dengan salah satu kabar baik dari Maluku!







 Apa sih sebenarnya yang jadi passion SOFTEAST?

Kami merupakan empat pribadi yang berbeda. Yang menyatukan kami adalah passion kami yaitu MUSIK.

Menurut kalian penting tidak sih jika anak muda harus punya passion?

Penting. Karena passion adalah identitas.

Apakah profesi sebagai musisi saat ini mengubah hidup kalian?

Tentunya. Kami merasakan perubahan positif ketika musik kami bisa dinikmati oleh banyak orang, sehingga secara tidak sadar ada motivasi dalam diri kami untuk lebih serius dalam bermusik, karena ini tanggung jawab bukan saja untuk diri sendiri tapi untuk banyak orang. Selain itu ada juga perubahan negatif seperti godaan dari lawan jenis yang kadang sulit untuk ditolak. Lol. (ini jawaban dari Michael Pelupessy, vokalis SOFTEAST, karena hanya sang vokalis yang masih jomblo ha ha ha)

Michael Pelupessy, vokalis dari SOFTEAST sedang latihan di studio bersama Mark salah satu rapper dari kota Ambon. 

Lalu ceritakan mengenai project youtube dan remake lagu, sudah berapa lagukah yang di remake? share link youtube pun boleh.

Remake atau cover yang sudah kami publish sejauh ini adalah The way you make me feel - Michael Jackson. Sebenarnya project ini sudah kami take sejak awal 2016 di studionya Micken (drummer). Namun karena beberapa pertimbangan, project ini tertunda dan baru kami publish akhir 2016. Selain itu ada beberapa video live cover yang sudah kami post di channel youtube kami; Softeast Ambon.

Adakah hal lain lagi yang ingin kalian capai dalam beberapa tahun ke depan? album barangkali?

Iya, kami berencana memproduksi album. Saat ini kami masih pada tahap pengumpulan materi dan diskusi untuk menyatukan pendapat serta tujuan kami masing-masing. Karena kami tidak ingin album yang asal-asalan. Album perdana SOFTEAST harus benar-benar mewakili musik kami yang idealis. Dan ini bukanlah hal mudah.

Helmy Leinussa, yang akrab disapa Micken, Drummer SOFTEAST

Apa pendapat kalian tentang "membangun Maluku" atau "membangun kampung halaman"?

Membangun Maluku adalah tanggung jawab semua orang Maluku apalagi anak muda. SOFTEAST tidak mau muluk dan berkoar-koar tentang ini, kami hanya ingin membangun Maluku lewat musik. Karena menurut kami, cara membangun kampung halaman adalah dengan talenta yang dimiliki.

Marvil Lewaherilla, Bassist SOFTEAST

Bagaimana pendapat kalian tentang anak muda Maluku pada saat ini?

Kami lebih fokus ke musisi muda Maluku. Musisi muda saat ini hidup di zaman yang menawarkan segala sesuatu dengan mudah. Karena itu musisi muda saat ini lebih produktif.  Banyak komunitas kreatif di Maluku khususnya Ambon yang tak kalah saing dengan anak muda di kota lain.

Tempat favorit kalian kalau sedang liburan ke Maluku (berada di kota Ambon) dan kenapa?

Kami berempat sepakat tempat liburan paling keren di Maluku saat ini adalah pulau Bair di Maluku Tenggara. "Saya menyesal waktu ke Tual tidak sempat ke pulau Bair. Saya kaget ketika melihat foto2 pulau Bair di sosial media, bagus sekali. kami sepakat suatu saat SOFTEAST harus liburan sekalian bikin video di sana,” celetuk Aditya,  pemain keyboard di band ini.

Aditya Titaley, Keyboardis SOFTEAST

Siapa inspirasi terbesar buat kalian?

Inspirator kami dalam bermusik adalah Stevie Wonder, Larnell Lewis, Robert Sput Searight, Stanley Randolph, Barry Likumahuwa, dan Mike Mohede.

Apa harapan kalian untuk Maluku?


SOFTEAST berarti sound of the east, maka kami berharap orang mendengar tentang Maluku lewat 'bunyinya' yaitu musik.

*photo credit: SOFTEAST BAND & FB Dean John

Comments

Popular posts from this blog

Tunjukkan Apa yang Kita Cintai Dari Atas Panggung

GRIZZLY CLUIVERT NAHUSULY mulai menyayangi Hip Hop sejak ia masih duduk di kelas tiga SMP. Di tengah-tengah pencarian jati dirinya, Icy, begitu ia disapa, menemukan Hip Hop. Ia merasa tidak hanya menemukan apa yang selama ini ia gemari, ia justru menemukan dirinya sendiri.
"Saya sempat gabung di dalam paduan suara, dan kemudian saya temukan satu warna, yang rasanya saya banget, karena musiknya tidak terlalu mengandalkan suara yang merdu. Akhir 2010, saya tertarik, dan mulai mengikuti sebuah lomba namanya, BKKBN rap contest." Icy memulai ceritanya pada satu petang yang syahdu sambil menyeruput kopi hitam.
Dengan bekal binaan Hanny Wattimena (Hanny, seorang musisi Hip Hop 90-an), Hanny mendedikasikan waktunya untuk mengajar vokal, penguasaan panggung, dan bagaimana berinteraksi di panggung.
"Jam latihan kami waktu itu, biasanya jam 9 malam ke atas. Sejak saat itulah kecintaan saya terhadap Hip Hop mulai menjadi-jadi. Saya merasa bisa berekspresi dengan sesuatu yang membua…

MANUMATA Dekat di Mata Tinggal di Hati

Manumata, artinya satu atap atau berasal dari satu mata rumah. “Karena katong samua basudara.” Filosofi inilah yang menjaga Manumata sebagai sebuah grup hip-hop  dan berhasil membawa mereka tinggal di hati banyak orang.

Pertama kali saya melihat Manumata tampil di panggung pada tahun 2015, dalam sebuah acara yang digelar di Pattimura Park. Karena mereka tinggal dan berasal dari ‘satu atap’ yang sama, Manumata lekas menarik perhatian saya dengan kekompakan mereka ketika di panggung.

Pada suatu petang, saya berkesempatan mengunjungi basecamp Manumata di kawasan Air Putri-Ambon untuk mengobrol dengan empat anak keren ini. Manumata yang terdiri dari Friti Putreisya Riry (Uthe, 13 tahun), Johanes Philipus Eurilwen Petrusz (Jho, 13 tahun), Everd Arnold Riry (Ever, 15 tahun), dan Oscar Imanuel Lena (Oscar, 12 tahun), selalu mampu mengambil hati penonton dari atas panggung. Bukan hanya muda, lincah, mereka juga energik dan penuh percaya diri.

Ternyata keluwesan mereka di atas panggung sudah terb…

Beberapa Spot Favorit Lainnya di Pusat Kota Ambon: Silakan Jalan Kaki Atau Naik Becak

Kota Ambon dengan jalan-jalan utamanya, masih bisa dijangkau dengan jalan kaki. Masih ramah, mengingat pusat kotanya yang tidak terlalu luas. Atau alternatif lainnya adalah menggunakan becak. Becak di Kota Ambon, relatif masih sangat terjangkau. Dari harga 5000 rupiah hingga 20.000 ribu rupiah. Semuanya kembali kepada jarak tempuh. 
Jalan utama Ay. Patty adalah salah satu jalan utama yang asik untuk dipakai jalan kaki dari ujung satu ke ujung lainnya. Berbagai toko berderet di sepanjang jalan ini. Ada sebuah Kafe bernama D'Street yang menjadi alternatif tempat nongkrong sambil ber-wifi-an dan minum kopi sore. 
Beberapa toko di jalan Ay. Patty ini memang terbakar ketika konflik Maluku yang lalu, tetapi kini sudah dibangun kembali dan ditata dengan apik. Ingatan saya kembali ke tahun 90-an ketika itu Bakso di Puskud (salah satu bangunan yang ada di Jl. Ay. Patty, kini bentuk bangunannya masih ada, tetapi sudah beralih fungsi) masih menjadi salah satu yang favorit. 
Di jalan Ay. Patty j…