Muhammad Aditya Jibran: Maluku itu Cinta dan Manusia











Passion saya memang jatuh pada musik dan film, tapi sebenarnya, keinginan terbesar saya adalah menjadi seorang pemimpin di kota kelahiran saya sendiri, entah menjadi seorang walikota ataupun gubernur, passion terbesar saya adalah memimpin.” Jawabnya ketika ditanya tentang kegairahannya.

Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa, “seperti ikan tidak punya sirip, ia akan tenggelam dengan sendirinya.” Ia pun yakin bahwa passion bagi seorang anak muda, itu sangatlah penting. “Memiliki tujuan yang jelas, agar tidak mudah terombang-ambing oleh arus zaman.” Ujar laki-laki berusia sembilan belas tahun yang akrab disapa G ini.

Profesi yang digelutinya sekarang adalah musisi part-time, designer dan filmmaker. Tentu saja hal-hal yang ia tekuni tersebut kemudian menjadi ladang  utama untuk hidupnya. Dan yang menyenangkan baginya adalah melalui bidang yang ia tekuni sekarang, orang-orang lebih mengenal kepribadiannya yang selalu ia munculkan melalui karya-karyanya. “Networking jauh lebih berkembang, kenal dengan banyak orang dan sebagian dari mereka tertarik mengajak saya bekerja sama. Sungguh mengubah pandangan hidup saya dan memotivasi agar harus berbuat lebih ke depan.” Tandas G, yang saat ini tengah menyelesaikan kuliahnya di Desain Komunikasi Visual Universitas Binus, Jakarta.

Mengenai apa yang akan ia capai dalam beberapa tahun yang akan datang, ia pun antusias menceritakan tentang cita-citanya, “pertama, saya ingin membuat album hip hop terbaik yang pernah Indonesia buat, kedua, target utama saya adalah menjadikan part-time ini menjadi pekerjaan full-time, karena senang juga sih hobi dan passion menjadi pekerjaan utama.”

Saat ini ia menggarap beberapa singelnya di bawah rumah produksi Blvckminds. Salah satu singel teranyar berjudul Tara Basro dapat disimak di sini. “Goal saya beberapa tahun ke depan adalah, mendapatkan penghargaan AMI. Serius!” Selorohnya lagi sambil tertawa.

Bicara soal Maluku adalah bicara tentang keyakinannya sendiri. G yang menghabiskan masa kecilnya tinggal di daerah Nania ini berpendapat, membangun Maluku itu memiliki dua aspek yaitu membangun infrastruktur dan membangun manusianya. Yang paling penting baginya saat ini adalah “biking bae kampong” karena menurutnya lagi membangun kepercayaan diri masyarakat Maluku itu prioritas. Cerita G yang juga senang mengisi waktu senggangnya dengan pergi ke Lubang Buaya Morella atau Pantai Liang untuk bersantai sambil menulis lirik lagu ini.

“Musik jangan dijadikan sebagai ajang gaya-gayaan! angkatlah musik daerahmu sendiri, jadikan karya terbaik, buatlah sebuah karya jangka panjang, pajanglah Maluku dalam bingkai karya indahmu,” jelasnya mantap. G yang sangat mengidolakan kedua orang tuanya ini juga mengaku, “anak muda Maluku sekarang suka banyak bastel maar balom bisa biking apa-apa, hanya menjadi kosumen tetapi tak mau belajar produksi. Hal ini sebenarnya bisa dicegah agar tidak menjadi budaya turun menurun. Intinya, be passionate!” 

“Harapan saya sederhana saja, saya ingin Maluku punya anak muda yang produktif, punya daya saing, memiliki sumber daya manusia yang tinggi. Karena masa depan Maluku, ada di tangan kita dan anak-anak muda ke depannya, jangan sampai salah langkah!” Ia kemudian menutup percakapan bersama MP dengan tak lupa mengutarakan  doa dan harapannya untuk Maluku.



*foto via instagram lifeofgbran


Comments