Skip to main content

Molucca Project: Sebuah Proyek Merayakan Kegairahan








Dua hari jelang ulang tahun ke-dua Molucca Project, saya mewawancarai beberapa anak muda Maluku yang memiliki kegairahan melakukan hal-hal kecil yang mereka cintai. Molucca Project adalah sebuah platform untuk belajar mengapresiasi apa yang kecil. Mengapresiasi kegairahan. Merayakan sesuatu yang tidak kelihatan. Bukan apa yang besar. Sesuatu yang juga disebut sebagai sebuah keyakinan. Sesuatu yang kemudian darinya saya belajar.

Media sosial dengan hal-hal yang terlalu kini, itu bagus, tapi terkadang membuat lupa bahwa sesuatu yang berada di dalam dan tidak populer itu ternyata jauh lebih penting. Karena sesuatu yang berada di dalam, yang bernama kegairahan itulah yang kemudian memelihara.

Baru-baru ini saya menonton sebuah film berjudul Queen of Katwe, film tentang seorang gadis miskin yang berasal dari Uganda yang berhasil memenangkan festival catur Internasional dan kemudian mengubah hidupnya. Mira Nair, sang sutradara yang berdarah India tetapi sudah menganggap Uganda sebagai rumahnya sendiri, berulang kali mengucap kutipan ini pada beberapa wawancaranya, “If we don’t tell our own stories, no one else will.”

Sama seperti Mira, saya percaya bahwa sebuah kegairahan adalah sebuah kabar baik yang mesti diberitakan. Di dalam setiap orang, paling tidak ada satu kabar baik yang dapat ia ceritakan. Itu yang kemudian Molucca Project dan saya lakukan. Namun memelihara kegairahan adalah sebuah soal yang sama sekali lain. Tak ada yang gampang. Tidak ada yang instan.

Saya bukan Queen of Katwe. Saya memulainya dari sebuah rumah di wilayah kecil bernama Kudamati, di kota Ambon, di mana saya dibesarkan bersama kedua Kakak perempuan saya. Satu hal yang paling saya ingat adalah kamar mandi. Kamar mandi dengan bak mandi berbetuk persegi panjang dilapisi keramik berwarna biru pucat. Lantai kamar mandi tersebut dilapisi keramik kotak-kotak kecil berwarna kuning pudar. Terdapat sebuah kloset jongkok di dalamnya, tempat saya biasanya duduk lama-lama memandang dinding kamar mandi yang terkelupas dan melihat keramik pecah dan tidak rapi di lantai. Tetapi bukan dinding terkelupas atau lantai keramik pecah yang saya lihat, melainkan saya sering melihat “sebuah kota” di sana, atau ada waktu-waktu tertentu saya melihat “jalan-jalan perkampungan,” “sebuah wajah sedih” atau pada kesempatan lainnya saya melihat “dua tokoh yang sedang berbicara satu dengan yang lain.” Bayangan-bayangan itu biasanya muncul menjadi “teman” saya ketika sedang berada di dalam kamar mandi tersebut.

Saya suka membayangkan sesuatu. Saya menulis mimpi-mimpi saya. Saya suka menciptakan imaji di dalam kepala saya. Segala sesuatu yang saya kerjakan, kebanyakan memang dimulai dari sana: membayangkan sesuatu. Tetapi tidak hanya dibayangkan saja, sesuatu itu kemudian harus dipikirkan untuk menjadi nyata. Kamar mandi hingga saat ini tetap menjadi sebuah tempat kesukaan di mana saya dapat menemukan ide-ide. Kemudian pekerjaan rumah itu dimulai: jatuh bangun untuk merealisasikannya.

Akhirnya saya paham kenapa banyak ide kemudian muncul dan ditemukan di dalam kamar mandi. Ketika melakukan aktivitas di dalam kamar mandi, apalagi sedang berada di atas kloset, biasanya kita tidak buru-buru. Saya lalu menyadari satu hal: ketika hidupmu lebih pelan, maka ide akan datang.

Molucca Project pun lahir di kamar mandi. Yang dikerjakan oleh Molucca Project saat ini adalah berkonsentrasi kepada kegairahan. Kami percaya kepada anak-anak muda yang berani. Kami percaya kepada anak-anak muda yang merayakan berpuluh-puluh keyakinan di dalam diri mereka. Bahwa dari mana kita berasal, kita tidak akan berakhir di situ juga. Suatu saat nanti kita tidak akan pernah tahu, bahwa kegairahan itu dapat membawa kita ke mana. Namun, semoga cerita dan kabar baik dari Molucca Project dapat sampai ke mana saja.

Kegairahan kecil ini pun berubah menjadi mimpi-mimpi, ini salah dua (dari sekian banyak yang saya punya di kepala) adalah suatu saat nanti pergi bermain-main di the museum of modern art, atau sekedar baca buku sambil ngopi di coffee shop sepanjang New York. Dan punya toko kecil bernama Molucca Project di sebuah sudut manis kota Ambon, dengan banyak proyek kegairahan yang akan dikerjakan di dalamnya dan terkenal sampai di New York.


-
salam hangat
ibu redaksi


Comments

Popular posts from this blog

MANUMATA Dekat di Mata Tinggal di Hati

Manumata, artinya satu atap atau berasal dari satu mata rumah. “Karena katong samua basudara.” Filosofi inilah yang menjaga Manumata sebagai sebuah grup hip-hop  dan berhasil membawa mereka tinggal di hati banyak orang.

Pertama kali saya melihat Manumata tampil di panggung pada tahun 2015, dalam sebuah acara yang digelar di Pattimura Park. Karena mereka tinggal dan berasal dari ‘satu atap’ yang sama, Manumata lekas menarik perhatian saya dengan kekompakan mereka ketika di panggung.

Pada suatu petang, saya berkesempatan mengunjungi basecamp Manumata di kawasan Air Putri-Ambon untuk mengobrol dengan empat anak keren ini. Manumata yang terdiri dari Friti Putreisya Riry (Uthe, 13 tahun), Johanes Philipus Eurilwen Petrusz (Jho, 13 tahun), Everd Arnold Riry (Ever, 15 tahun), dan Oscar Imanuel Lena (Oscar, 12 tahun), selalu mampu mengambil hati penonton dari atas panggung. Bukan hanya muda, lincah, mereka juga energik dan penuh percaya diri.

Ternyata keluwesan mereka di atas panggung sudah terb…

Tunjukkan Apa yang Kita Cintai Dari Atas Panggung

GRIZZLY CLUIVERT NAHUSULY mulai menyayangi Hip Hop sejak ia masih duduk di kelas tiga SMP. Di tengah-tengah pencarian jati dirinya, Icy, begitu ia disapa, menemukan Hip Hop. Ia merasa tidak hanya menemukan apa yang selama ini ia gemari, ia justru menemukan dirinya sendiri.
"Saya sempat gabung di dalam paduan suara, dan kemudian saya temukan satu warna, yang rasanya saya banget, karena musiknya tidak terlalu mengandalkan suara yang merdu. Akhir 2010, saya tertarik, dan mulai mengikuti sebuah lomba namanya, BKKBN rap contest." Icy memulai ceritanya pada satu petang yang syahdu sambil menyeruput kopi hitam.
Dengan bekal binaan Hanny Wattimena (Hanny, seorang musisi Hip Hop 90-an), Hanny mendedikasikan waktunya untuk mengajar vokal, penguasaan panggung, dan bagaimana berinteraksi di panggung.
"Jam latihan kami waktu itu, biasanya jam 9 malam ke atas. Sejak saat itulah kecintaan saya terhadap Hip Hop mulai menjadi-jadi. Saya merasa bisa berekspresi dengan sesuatu yang membua…

Beberapa Spot Favorit Lainnya di Pusat Kota Ambon: Silakan Jalan Kaki Atau Naik Becak

Kota Ambon dengan jalan-jalan utamanya, masih bisa dijangkau dengan jalan kaki. Masih ramah, mengingat pusat kotanya yang tidak terlalu luas. Atau alternatif lainnya adalah menggunakan becak. Becak di Kota Ambon, relatif masih sangat terjangkau. Dari harga 5000 rupiah hingga 20.000 ribu rupiah. Semuanya kembali kepada jarak tempuh. 
Jalan utama Ay. Patty adalah salah satu jalan utama yang asik untuk dipakai jalan kaki dari ujung satu ke ujung lainnya. Berbagai toko berderet di sepanjang jalan ini. Ada sebuah Kafe bernama D'Street yang menjadi alternatif tempat nongkrong sambil ber-wifi-an dan minum kopi sore. 
Beberapa toko di jalan Ay. Patty ini memang terbakar ketika konflik Maluku yang lalu, tetapi kini sudah dibangun kembali dan ditata dengan apik. Ingatan saya kembali ke tahun 90-an ketika itu Bakso di Puskud (salah satu bangunan yang ada di Jl. Ay. Patty, kini bentuk bangunannya masih ada, tetapi sudah beralih fungsi) masih menjadi salah satu yang favorit. 
Di jalan Ay. Patty j…