Skip to main content

Posts

Showing posts from January, 2017

19 Things I Love About Ambon Manise

Ambon Manise masih seksi. Bukan karena saya lahir dan besar di kota ini saja, tetapi karena saya memilih untuk mencintai kota ini dengan segala kelebihan pun kekurangannya. 
Bukan berarti melupakan yang pahit begitu saja, namun izinkan saya move on dengan mengumpulkan ingatan-ingatan manis di kota Ambon Manise. Karena saya percaya ini adalah satu cara dari banyaknya cara untuk mencintai kota Ambon Manise lebih lagi. Pada tanggal 19 Januari ini, sebagaimana banyak masyarakat mengingat tanggal sakral ini sebagai pecahnya kerusuhan di Ambon. Saya mau mengingat tanggal ini dengan cara lain. Yaitu cara-cara kecil, sederhana, dan manis, tentang Ambon Manise yang masih magis. 

Maka inilah 19 Things I Love About Ambon Manise (19 Hal Yang Paling Dicintai dari Ambon Manise) selamat menikmati.
1. Langit biru yang tidak basa-basi 

Kota ini memang diberkahi dengan langit biru yang tidak basa-basi. Coba sekali-kali sempatkan jalan kaki dan nikmati kesenangan di kota ini dengan memandangi langit biru. S…

Ecko Saputra Pocerato : Maluku itu Sarang Pemimpi

ecko membaca puisi di acara tempat paling liar di ambon akhir desember kemarin.




Ecko Saputra Pocerato, akrab disapa Ecko adalah laki-laki mungil dengan nyali besar. Kamu dapat menemukan ia di berbagai panggung puisi. Dengan sigap ia akan membacakan puisi dan membawamu untuk memasuki relung-relung terdalam manusia yang mungkin selama ini tak pernah kamu pahami.
Baru-baru ini ia membuka rumah baca yang berlokasi di rumahnya, daerah Karang Panjang Ambon. Dengan menyediakan buku-buku, Ecko sengaja memberikan ruang pengetahuan kepada siapapun yang hendak mampir. Ecko dengan semangat menulisnya yang tidak pernah redup, sudah menghasilkan banyak sekali puisi. Saya berkesempatan untuk membawakan Puisi Sopi yang ia karang pada pertemuan we go hangout yang diadakan oleh Wego Indonesia di Bandung beberapa tahun lalu. Ecko pun sudah merambah dunia penulisan novel. Hal ini pun dibuktikannya dengan berani menerbitkan debut novel perdananya bertajuk Pelangi Biru secara indie. Mari simak ide dan inspi…

Oleh-Oleh Perjalanan Natal Dari Ambon

tiba di ambon dan menikmati langit senja dari depan rumah saya. 
Natal di Ambon selalu heboh setiap tahunnya. Jalan-jalan sudah penuh dengan hiasan pohon terang sejak bulan November. Di jalan-jalan tertentu berbagai pohon pun sudah dihias dengan lampu kelap-kelip. Ini juga merupakan ajang kreativitas masyarakan untuk ide membuat pohon terang yang tidak biasa. Setiap tahun kawan-kawan dapat menemukan ide pohon terang yang berbeda.
pohon terang yang sudah berdiri sejak bulan november.

Yang menyenangkan juga bagi saya merayakan Natal di kota ini adalah aroma cat dari setiap rumah dan aroma bakaran kue dari setiap rumah. Setiap rumah pun penuh dengan kreasi masing-masing, tidak hanya pohon terang yang dihadirkan tetapi juga hiasan di dalam rumah masing-masing.
Ini salah satu contoh pohon terang yang terbuat dari botol bir.


Setiap malam tanggal 24 Desember, kebiasaan keluarga kami adalah berdoa tepat jam duabelas malam. Pada jam itu juga ada tradisi gereja membunyikan loncengnya. Tetapi sekara…

#trotoARTisback : biarkan kesenian tumbuh di jalan dengan liar!

#trotoARTisback bukan hanya sebuah tagar. Ini adalah sebuah kabar gembira kepada siapa saja yang pernah menikmati panggung trotoART sebelumnya. Baik itu sebagai pengisi acara atau hanya menjadi penonton dan tidak pernah absen dari trotoART volume satu sampai ke-tiga belas yang diadakan kurang lebih dua tahun yang lalu.
Dari namanya saja, kita sudah dapat bayangkan bahwa ini adalah panggung jalanan yang liar. Yang dapat menghadirkan siapa saja untuk merayakan kebebasan berkeseniannya di sini.
Panggung ini muncul karena adanya kebutuhan. Kebutuhan tiap seniman untuk tampil dan dapat mengekspresikan diri mereka melalui karya mereka. Dan itu bisa jadi siapa saja. Antusias setiap penampil juga bukan karena apa-apa, tetapi karena kepuasan yang mereka dapatkan untuk menghibur setiap penonton. 

Semua yang hadir untuk tampil maupun untuk menonton itu semua karena rasa sayang. Rasa sayang-lah yang pada akhirnya menyatukan setiap perbedaan yang ada. Tidak hanya rasa sayang tapi juga rasa bangga k…

Tempat Paling Liar di Muka Bumi: Ambon Manise

Akhirnya, “Tempat Paling Liar Di Muka Bumi” bisa kami bawa pulang ke Ambon Manise. Perjalanan panjang buku kami ini adalah sebentuk tanggung jawab kami berdua untuk memperkenalkannya kepada khalayak. Kami percaya itu dan kami melakukannya. Dari Bandung ke Salatiga hingga Jogjakarta lalu Jakarta, dan kini di Ambon.
Lima belas Desember kami menjejakkan kaki di tanah yang manis ini. Sinar matahari yang hangat menghalau sisa-sisa kantuk di mata kami. Rindu berjatuhan sepanjang perjalanan menyisir pesisir. Angin dari laut yang bertiup pagi-pagi menebar aroma bau laut yang selalu kami rindukan. Ambon memang tempat paling liar di muka bumi.
Selain Ramadhan, Desember adalah kata lain untuk salah satu keramaian yang khas kota ini. Liburan yang lumayan panjang memberi kesempatan bagi banyak orang untuk pulang dan menikmati kota tua di Teluk Ambon ini. Sebuah reuni akbar. Saat-saat yang menyenangkan menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru. Kami pun ikut merasakan euphoria itu.
Setelah …