Skip to main content

#SeniBeta Perhelatan Seni Jalanan yang Terancam Dibubarkan







Pada Sabtu tanggal 12 November kemarin ada kerumunan besar yang terjadi di depan trotoar Hotel Mutiara. Pasalnya di hari itu sebuah perhelatan bertajuk #SeniBeta diselenggarakan di sana. Inisiator utama dari acara ini adalah Glenn Fredly bersama Ruma Beta. Tim Kreatif kecil-kecilan yang dibentuk: Sierra Latupeirissa, Pierre Ajawaila, dan Debra Soplantila (kawan-kawan Paparisa Ambon Bergerak) berhasil menghimpun pengisi acara untuk tampil di malam itu.

Deretan nama-nama penampil seperti: Dalenz & Friends, CN9 Band, General Expo Band, One Story Band, Pasir Putih Band, Ikan Asar Band, JP Band, Softeast Band adalah nama-nama yang sudah tidak asing lagi di telinga masyarakat penikmat musik di kota Ambon. Selain itu Eros YAKUZA dan Filasz Inmiasa mewakili komunitas hip-hop. Tidak lupa Manumata, adik-adik rapper cilik yang berhasil memecahkan panggung malam itu pun turut serta. Diramaikan juga oleh Marthen Reasoa yang membaca dua buah puisi. HLND Dancer dengan gerakan-gerakan enerjik ketika membuka acara. Bahkan kawan-kawan yang memukul Totobuang dari Amahusu juga hadir untuk membunyikan pukulan mistisnya. 

kerumunan penonton yang menyaksikan eros dan filasz



#SeniBeta disengajakan untuk Ambon untuk mengumpulkan pelaku seni dengan latar belakang apa saja untuk dapat tampil. Helatan yang dibuat sangat minimalis dengan peralatan musik yang juga tidak ribet berhasil mencuri kerumunan penonton di malam itu. Setiap penampil mendapat kesempatan untuk membawakan dua sampai tiga lagu mereka. Tanpa malu-malu penonton yang datang duduk bersila di jalanan untuk menikmati acara.

totobuang dari amahusu


ikan asar band

Walaupun sempat tersendat-sendat, kendaraan tetap melewati depan panggung. Karena kesepakatan awal adalah jalan di depan Hotel Mutiara tidak boleh ditutup semua. Di antara lalu lalang kendaraan yang lewat, sempat beberapa kali mobil patroli polisi pun terlihat. Yang ada di dalam pikiran, hanya patroli biasa saja karena malam minggu. Semakin lama, mobil patroli semakin sering lewat. Dan puncaknya adalah, saya lupa, tepat pada pukul berapa, namun ketika itu Ikan Asar Band sedang membawakan lagu Ambon Manise persis di bagian reff-nya “Ambon Manise, su talalu manise, Ambon Manise su talalu manise ...” terlihat polisi memasuki kerumunan, melewati depan panggung dan berjalan berbaris dan langsung menemui Bapak Hen Toisuta, yang pada saat itu hadir dari Dinas Perhubungan. Setelah itu saya tidak tahu lagi apa yang mereka dikusikan. Kerumunan kemudian terpecah menjadi dua. Kali ini kerumunan kecil persis di sebelah panggung sedang berdiskusi alot dengan pihak kepolisian.

Cerita punya cerita, katanya acara di malam itu tidak punya izin keramaian. Hal tersebut mengkhawatirkan, karena bisa saja terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Acara terancam bubar pada saat itu juga. Tapi karena proses melobi yang dilakukan dari pihak tim kreatif #SeniBeta dibantu dengan beberapa rekan maka hasilnya adalah pihak kepolisian mengizinkan acara tetap dilanjutkan dengan catatan hanya boleh membawakan dua lagu terakhir. 

Sayang sekali padahal acara #SeniBeta ini dilakukan tepat dua minggu setelah dicanangkannya Ambon Kota Musik Dunia. Semboyan yang memang masih kontroversial di antara masyarakat Ambon sendiri, teristimewa pengguna media sosial. Dan terlepas dari izin keramaian yang sempat tidak diperhitungkan dengan baik. Semoga lain kali hal ini adalah yang paling pokok yang harus diperhatikan. Sementara itu kepada pihak kepolisian yang datang, seharusnya tidak datang dengan sikap yang mengintimidasi. Baiknya lebih santai sedikit dan jika memang harus memeriksa dapat langsung menghubungi panitia yang ada. Bukan lalu menunjukkan lagak yang malah membuat penonton bertanya-tanya.

Setelah trotoART, Bagara, kini #SeniBeta. Sejujurnya kota ini memang haus dan butuh lebih banyak lagi asupan panggung di jalanan. 

(foto via. facebook: debra soplantila)



Comments

  1. :)
    Danke untuk ulasan menariknya, the!

    ReplyDelete
  2. Julukan City Of Music perlu dikembangkan lwt musik jalanan sehingga dpt menghibur para masyarakat yg ada. Pihak kepolisian juga jangan bertindak sepihak tanpa kordinasi dgn panitia. Harapannya pemkot hrs melihat hal ini utk terus dikembangkan dari waktu ke wktu... salam

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Tunjukkan Apa yang Kita Cintai Dari Atas Panggung

GRIZZLY CLUIVERT NAHUSULY mulai menyayangi Hip Hop sejak ia masih duduk di kelas tiga SMP. Di tengah-tengah pencarian jati dirinya, Icy, begitu ia disapa, menemukan Hip Hop. Ia merasa tidak hanya menemukan apa yang selama ini ia gemari, ia justru menemukan dirinya sendiri.
"Saya sempat gabung di dalam paduan suara, dan kemudian saya temukan satu warna, yang rasanya saya banget, karena musiknya tidak terlalu mengandalkan suara yang merdu. Akhir 2010, saya tertarik, dan mulai mengikuti sebuah lomba namanya, BKKBN rap contest." Icy memulai ceritanya pada satu petang yang syahdu sambil menyeruput kopi hitam.
Dengan bekal binaan Hanny Wattimena (Hanny, seorang musisi Hip Hop 90-an), Hanny mendedikasikan waktunya untuk mengajar vokal, penguasaan panggung, dan bagaimana berinteraksi di panggung.
"Jam latihan kami waktu itu, biasanya jam 9 malam ke atas. Sejak saat itulah kecintaan saya terhadap Hip Hop mulai menjadi-jadi. Saya merasa bisa berekspresi dengan sesuatu yang membua…

MANUMATA Dekat di Mata Tinggal di Hati

Manumata, artinya satu atap atau berasal dari satu mata rumah. “Karena katong samua basudara.” Filosofi inilah yang menjaga Manumata sebagai sebuah grup hip-hop  dan berhasil membawa mereka tinggal di hati banyak orang.

Pertama kali saya melihat Manumata tampil di panggung pada tahun 2015, dalam sebuah acara yang digelar di Pattimura Park. Karena mereka tinggal dan berasal dari ‘satu atap’ yang sama, Manumata lekas menarik perhatian saya dengan kekompakan mereka ketika di panggung.

Pada suatu petang, saya berkesempatan mengunjungi basecamp Manumata di kawasan Air Putri-Ambon untuk mengobrol dengan empat anak keren ini. Manumata yang terdiri dari Friti Putreisya Riry (Uthe, 13 tahun), Johanes Philipus Eurilwen Petrusz (Jho, 13 tahun), Everd Arnold Riry (Ever, 15 tahun), dan Oscar Imanuel Lena (Oscar, 12 tahun), selalu mampu mengambil hati penonton dari atas panggung. Bukan hanya muda, lincah, mereka juga energik dan penuh percaya diri.

Ternyata keluwesan mereka di atas panggung sudah terb…

Beberapa Spot Favorit Lainnya di Pusat Kota Ambon: Silakan Jalan Kaki Atau Naik Becak

Kota Ambon dengan jalan-jalan utamanya, masih bisa dijangkau dengan jalan kaki. Masih ramah, mengingat pusat kotanya yang tidak terlalu luas. Atau alternatif lainnya adalah menggunakan becak. Becak di Kota Ambon, relatif masih sangat terjangkau. Dari harga 5000 rupiah hingga 20.000 ribu rupiah. Semuanya kembali kepada jarak tempuh. 
Jalan utama Ay. Patty adalah salah satu jalan utama yang asik untuk dipakai jalan kaki dari ujung satu ke ujung lainnya. Berbagai toko berderet di sepanjang jalan ini. Ada sebuah Kafe bernama D'Street yang menjadi alternatif tempat nongkrong sambil ber-wifi-an dan minum kopi sore. 
Beberapa toko di jalan Ay. Patty ini memang terbakar ketika konflik Maluku yang lalu, tetapi kini sudah dibangun kembali dan ditata dengan apik. Ingatan saya kembali ke tahun 90-an ketika itu Bakso di Puskud (salah satu bangunan yang ada di Jl. Ay. Patty, kini bentuk bangunannya masih ada, tetapi sudah beralih fungsi) masih menjadi salah satu yang favorit. 
Di jalan Ay. Patty j…