Skip to main content

Teru; hiduplah mantra-mantra









moro; salah satu judul lagu dalam album teru karya morika tetelepta






MORIKA TETELEPTA akan meluncurkan album solo perdananya, Teru: solum, voda un aria. “Teru berasal dari bahasa tana (sebutan untuk bahasa-bahasa asli di Maluku) yang berarti tiga. Tiga yang dimaksud,” menurut Morika, “adalah tanah, air dan udara; unsur dominan yang direkam sebagai bunyi dalam lagu-lagu di album ini.” Kekuatan besar yang menggerakannya untuk menggarap album ini adalah rasa cintanya yang penuh kepada musik dan semesta; tanah, air, dan udara yang tak lain adalah dirinya.
Dalam pergerakan Hip-hop di Maluku, Morika Tetelepta bukanlah nama yang asing. Sejak 2008 bersama kawan-kawan rapper, DJ, dan dancer, ia membangun Molukka Hip-Hop Community. Gerilyanya bersama MHC berhasil membuat pundi-pundi musik Maluku diperkaya dengan satu genre musik yang belum pernah digarap sebelumnya, dan kepada anak-anak muda: sebuah pilihan bermusik yang baru.
Gerilya Morika dan MHC berdampak besar. Hip-hop di mana-mana; Ambon, Seram, Saumlaki, Buru, dan segala penjuru Maluku. Album mereka yang bertajuk ‘Beta Maluku’ membawa masuk Maluku ke dalam peta hip-hop Indonesia. Morika dikenal oleh pencinta rap dan puisi, karena lagu-lagu rap, lirik-liriknya, dan puisi-puisinya yang berkesadaran sejarah, tajam, dan berkekuatan. Kini ia kembali menciptakan sesuatu yang baru.
Teru adalah kisah baru. Sebagai album solo perdana yang dikerjakan Morika, Teru tidak hanya menjadi sebuah karya paling perdana, tetapi juga rambahan baru dalam perjalanan bermusiknya, dalam hidupnya. Teru adalah sebuah gerakan keluar dari zona nyaman. Morika bergerak keluar dari kecenderungan dominasi instrumen-instrumen elektrik dan kata-kata yang banyak seperti yang pernah dikerjakannya selama bertahun-tahun bersama Molukka Hip-Hop Community. Di dalam album ini Morika memperhadapkan kepada dirinya sendiri soal-soal ujian yang lebih berat.
Di sini, Morika bergerak merambah unsur-unsur alamiah. Bertekun mengindra bunyi, bau, tekstur, dan warna yang bertebaran di alam, mencoba menafsir dan menerjemahkannya ke dalam nada-nada dan irama yang kemudian dieksplorasi dengan hanya satu-dua kalimat pendek yang tak lain adalah mantra-mantra tua Maluku yang hampir punah. Morika berusaha memberi kepada mantra-mantra yang hampir mati itu kesempatan kedua.
Jikalau mantra habis, kita mungkin hanya akan mewarisi kenangan tentang mantra – dan pertanyaan pentingnya adalah: “Seberapa lamakah kenangan bisa bertahan?” tuturnya.
Keputusan Morika untuk memberi tenaga dan kemampuannya, juga jam-jam malamnya untuk merawat mantra-mantra berangkat dari kesadaran akan sebuah krisis. Semesta bahasa yang kian waktu kian miskin, karena pelan-pelan orang meninggalkan bahasa ibunya. Di dalam arus itu, mantra-mantra yang terlanjur dibikin kalah dan dicitrakan sebagai keburukan mengalami nasib yang jauh lebih buruk. Baginya, usaha merawat mantra-mantra ini belum terlambat.






14563299_10210439823173368_8609830614536835073_n
morika tetelepta, saparua 2016

Pengerjaan album ini, mulai dari perburuan mantra, penafsiran dan penerjemahannya ke dalam dunia musik hingga perampungannya,  berdampak tidak sedikit bagi Morika secara personal. Ia digerakkan untuk mempertajam kepekaan inderawi. Kepekaan yang membawanya ke dalam dunia dengar yang sama sekali baru dan membuatnya lebih jeli menangkap segala bebunyi, bebauan, tekstur, warna dan rasa.
Menurut Morika, mengerjakan Teru adalah pelatihan menafsir sekaligus menerjemahkan respon inderawi. Tak mengherankan bila Morika lebih gemar mendatangi Pulau Tiga dan Tapi di Wakasihu untuk memancing dan re-kreasi. Sebuah pilihan untuk lebih banyak bersentuhan langsung dengan elemen-elemen natural di dalam album Teru yang telah dirampungkan untuk segera diluncurkan itu.
Teru adalah kesadaran sejarah dan sebuah solusi sekaligus kritik. Pemberangusan bahasa-bahasa lokal seperti tampak dalam mantra-mantra yang nyaris punah disadari dan coba dicari jalan keluarnya. Beberapa mantra yang diselamatkan dengan indah oleh album ini sekaligus menjadi peringatan bagi kecenderungan pengabaian atas kekayaan bahasa asli dan energi budaya yang bertalian dengan sebab-sebab kerusakan tatanan kosmis yang hari-hari ini mulai dirasakan dampaknya.
Morika mencintai musik. Ia merdeka di sana. Baginya musik bukan hal yang remeh. “Musik meyelematkan hidup saya. Bagi saya pribadi, suatu karya keselamatan adalah perkara yang tidak main-main,” kata Morika ketika berkorespondensi dengan Molucca Project. Dengan album ini, Morika melakukan hal yang persis sama dengan apa yang telah diperbuat musik kepada dirinya: memberi kehidupan, satu nyawa yang lebih panjang, bagi mantra-mantra tua di Maluku.

* Moro; salah satu lagu dari Album Teru akan dibagikan secara cuma-cuma menjelang peluncuran album. Ikuti kabar-kabar terbaru tentang paluncuran Album Teru via twitter:  @morikatetelepta (tulisan ini juga diterbitkan di sini). 

Comments

Popular posts from this blog

Kegelisahan: musisi dan penikmat musik

Saya pernah menulis sebuah lirik berjudul “Tetanggaku Pergi ke Kota” yang kemudian dinyanyikan oleh Tetangga Pak Gesang, duo musisi indie yang berasal dari Bandung. Mereka adalah Arum Dayu dan Meicy Sitorus, yang aslinya adalah penggiat foto dan dua teman baik saya.  Sampai saat ini, album mereka sementara dikerjakan secara gerilya. Memang belum ada hasil yang bisa didengarkan secara fisik, baik itu berupa CD, kaset, maupun vinyl yang sedang menjamur akhir-akhir ini. Tetapi lagu-lagu mereka dapat didengarkan di soundcloud.  Produktivitas meng-aransemen lagu-lagu lama dan mencipta lagu-lagu baru, kemudian diakui oleh beberapa musisi besar seperti Slank dan Efek Rumah Kaca. Yang pada akhirnya mengajak mereka untuk berkolaborasi di satu panggung.  Yang ingin saya bahas di sini adalah bukan secara spesifik menyangkut Tetangga Pak Gesang tetapi sepenggal lirik yang saya tulis di dalam lagu Tetanggaku Pergi ke Kota:  kita tak perlu ke kota, kita kan membuat kot

Tunjukkan Apa yang Kita Cintai Dari Atas Panggung

GRIZZLY CLUIVERT NAHUSULY mulai menyayangi Hip Hop sejak ia masih duduk di kelas tiga SMP. Di tengah-tengah pencarian jati dirinya, Icy, begitu ia disapa, menemukan Hip Hop. Ia merasa tidak hanya menemukan apa yang selama ini ia gemari, ia justru menemukan dirinya sendiri. "Saya sempat gabung di dalam paduan suara, dan kemudian saya temukan satu warna, yang rasanya saya banget , karena musiknya tidak terlalu mengandalkan suara yang merdu. Akhir 2010, saya tertarik, dan mulai mengikuti sebuah lomba namanya, BKKBN rap contest ." Icy memulai ceritanya pada satu petang yang syahdu sambil menyeruput kopi hitam. Dengan bekal binaan Hanny Wattimena (Hanny, seorang musisi Hip Hop 90-an), Hanny mendedikasikan waktunya untuk mengajar vokal, penguasaan panggung, dan bagaimana berinteraksi di panggung. "Jam latihan kami waktu itu, biasanya jam 9 malam ke atas. Sejak saat itulah kecintaan saya terhadap Hip Hop mulai menjadi-jadi. Saya merasa bisa berekspresi

Puisi Memberikan Jalan Untuk Menyembuhkan Diri

“Puisi mampu membantu beta memberikan jalan untuk menyembuhkan diri sendiri sebab manusia pada dasarnya ‘berpenyakitan’ betul bukan? Puisi benar-benar jadi obat di kala itu,” ujar Chalvin. Chalvin Papilaya satu dari sekian banyak anak muda yang mencintai puisi, dan punya semacam keyakinan kecil, puisi dapat menyembuhkan. Pada tahun 2016, ia terpilih sebagai salah seorang “emerging writer” yang berangkat ke Makassar International Writers Festival. Bersama beberapa kawan lainnya yang juga berasal dari timur Indonesia, mereka menerbitkan sajak dan cerita pendek, dengan tajuk “Dari Timur 2” yang diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama. Chalvin katakan, “Puisi adalah pergulatan kecemasan terhadap tanda-tanda yang ada di luar diri penyair maupun di dalam dirinya sendiri—puisi bukanlah sekadar susunan kata-kata belaka.” Ungkapan ini, kemudian mengantar Chalvin untuk menerbitkan buku puisinya sendiri pada tahun 2019, berjudul “Mokolo”. “Mokolo adalah kata