Skip to main content

Tempat Paling Liar Di Muka Bumi : Salatiga





menampilkan rumah ombak 



Salatiga tetap kota yang menyenangkan meski beberapa hari belakangan kerap bertabur gerimis. Kota yang ramah ini tidak sepi dari gerilya-gerilya seni. Membawa buku kami, Tempat Paling Liar Di Muka Bumi, ke kota ini adalah sebuah pengalaman baru yang menggairahkan. Kami disambut dengan hangat oleh kawan-kawan asal Maluku yang sementara belajar sambil mengerjakan seni dan hal-hal kecintaan mereka di Salatiga.

Rabu malam di kampus Universitas Kristen Satya Wacana kami berjumpa dengan Gracia Miranda Matruty, Minondhy Kastanya, Big Greogory, Ramli Tomagola, Endik Boro, Hanny Tuhuteru, dan Beryl Syahailatua. Mereka dengan senang hati mau merayakan Tempat Paling Liar Di Muka Bumi bersama kami.

terima kasih kawan-kawan

Hujan yang turun sejak pagi perlahan berhenti. Pukul lima sore kami tiba di  Fifty/Fifty Coffee Shop milik Bram dan Wawan yang terletak di jalan Imam Bonjol 31. Dimas dan kawan-kawan telah menata ruangan sedemikian rupa untuk acara yang akan berlangsung satu jam mendatang. Bram dan Wawan menyediakan, tidak hanya tempat, tetapi sound system sederhana yang bisa kami gunakan secara cuma-cuma.

kehangatan di tempat paling liar di salatiga

Kami merasakan kehangatan yang meluap-luap. Perayaan malam itu berlangsung hangat dan sederhana. Semua wajah kami kenali. Kawan-kawan dari program studi Magister Sosiologi Agama UKSW, orang-orang muda pencinta musik dan puisi, dan  kawan-kawan dari media salatigacity.com menyambut dan mengapresiasi buku kami dengan senang hati. Kami pun bahagia karena di tengah kesibukan berkunjung ke Salatiga, Bapak pendeta Jan Matatula dan kekasih hati juga datang dan merayakan buku ini. Malam yang menyenangkan.

kiri-kanan: benny soumokil, vinsent oematan, usi nova latuny, theovania, ibu ma, bapak jan matatula



Kami membaca dan melagukan beberapa puisi dari buku Tempat Paling Liar Di Muka Bumi sebagai permulaan. Malam jadi syahdu ketika Fis Project, duet pasangan kekasih Fredy Soukotta dan Chrisema Latuheru, mulai memetik senar gitar dan mengiris dawai biola. Lagu-lagu terlantun begitu tenang dan menghanyutkan. Pasangan kekasih yang sedang menggarap album perdana ini menebarkan cinta lewat permainan musik dan lagu.

fis project - duet kekasih yang bikin malam tempat paling liar di salatiga makin mesra

Malam bertambah ramai, ketika Kurang Kerjaan Project membawakan lagu-lagu cinta. Kurang Kerjaan Project adalah proyek musik akustik yang dikerjakan bersama-sama oleh kawan-kawan di Salatiga. Mereka adalah Anes (vocal), Olivia (vocal)  Endik (guitar), Wanly (guitar), Ian Virion (instrument, beat producing, & cajon) Hanny (bass). Kami beruntung dan sangat senang memiliki mereka di Tempat Paling Liar Di Muka Bumi, Salatiga.

kurang kerjaan project dengan lagu-lagu yang tenang dan menghanyutkan

Empat single mereka (Bersama Malam, Harapku Dalam Diam, Hijauku Pergi, dan Dalam Cinta) yang sejauh ini telah dinikmati ribuan pendengar melalui saluran soundcloud, ditampilkan dengan sangat natural.

Di antara keramaian musik yang bersahut-sahutan dengan puisi, Beryl Syahailatua kami ajak untuk menceritakan lukisan-lukisannya. Bagaimana ia kini membangkitkan kembali kegairahannya untuk melukis di sela-sela kesibukan kuliahnya di Universitas Kristen Satya Wacana.

beryl dengan salah satu karyanya

Selain hangat, malam itu romantik. Ariel dan Adel, juga Mas Bayu dan Mbak Feri adalah pasangan-pasangan kekasih yang kami todong untuk mendialogkan puisi-puisi dari buku Tempat Paling Liar Di Muka Bumi pada malam itu.

adel & ariel membaca puisi lelaki dan gelisah - perempuan dan gelisah

Perayaan ‘Tempat Paling Liar Di Salatiga’ diakhiri dengan hangat dan manis. Kurang Kerjaan Project membawa semua orang ke dalam lagu ‘Buka Pintu’ dan ‘Three Little Birds’ yang dinyanyikan beramai-ramai. Terima kasih untuk semua kawan yang telah menyambut kami untuk berkolaborasi, menciptakan, dan merayakan ‘Tempat Paling Liar Di Salatiga’ tadi malam.

Salam sayang dari Tempat Paling Liar Di Muka Bumi,


Theoresia Rumthe & Weslly Johannes

-

* Foto oleh Beny Doulan Soumokil dan Juan Belegur 

* Bagi yang penasaran dan ingin menikmati lagu-lagu Kurang Kerjaan Project dan Fis Project, silakan   kunjungi saluran mereka di soundcloud:

Comments

Popular posts from this blog

Tunjukkan Apa yang Kita Cintai Dari Atas Panggung

GRIZZLY CLUIVERT NAHUSULY mulai menyayangi Hip Hop sejak ia masih duduk di kelas tiga SMP. Di tengah-tengah pencarian jati dirinya, Icy, begitu ia disapa, menemukan Hip Hop. Ia merasa tidak hanya menemukan apa yang selama ini ia gemari, ia justru menemukan dirinya sendiri.
"Saya sempat gabung di dalam paduan suara, dan kemudian saya temukan satu warna, yang rasanya saya banget, karena musiknya tidak terlalu mengandalkan suara yang merdu. Akhir 2010, saya tertarik, dan mulai mengikuti sebuah lomba namanya, BKKBN rap contest." Icy memulai ceritanya pada satu petang yang syahdu sambil menyeruput kopi hitam.
Dengan bekal binaan Hanny Wattimena (Hanny, seorang musisi Hip Hop 90-an), Hanny mendedikasikan waktunya untuk mengajar vokal, penguasaan panggung, dan bagaimana berinteraksi di panggung.
"Jam latihan kami waktu itu, biasanya jam 9 malam ke atas. Sejak saat itulah kecintaan saya terhadap Hip Hop mulai menjadi-jadi. Saya merasa bisa berekspresi dengan sesuatu yang membua…

MANUMATA Dekat di Mata Tinggal di Hati

Manumata, artinya satu atap atau berasal dari satu mata rumah. “Karena katong samua basudara.” Filosofi inilah yang menjaga Manumata sebagai sebuah grup hip-hop  dan berhasil membawa mereka tinggal di hati banyak orang.

Pertama kali saya melihat Manumata tampil di panggung pada tahun 2015, dalam sebuah acara yang digelar di Pattimura Park. Karena mereka tinggal dan berasal dari ‘satu atap’ yang sama, Manumata lekas menarik perhatian saya dengan kekompakan mereka ketika di panggung.

Pada suatu petang, saya berkesempatan mengunjungi basecamp Manumata di kawasan Air Putri-Ambon untuk mengobrol dengan empat anak keren ini. Manumata yang terdiri dari Friti Putreisya Riry (Uthe, 13 tahun), Johanes Philipus Eurilwen Petrusz (Jho, 13 tahun), Everd Arnold Riry (Ever, 15 tahun), dan Oscar Imanuel Lena (Oscar, 12 tahun), selalu mampu mengambil hati penonton dari atas panggung. Bukan hanya muda, lincah, mereka juga energik dan penuh percaya diri.

Ternyata keluwesan mereka di atas panggung sudah terb…

Beberapa Spot Favorit Lainnya di Pusat Kota Ambon: Silakan Jalan Kaki Atau Naik Becak

Kota Ambon dengan jalan-jalan utamanya, masih bisa dijangkau dengan jalan kaki. Masih ramah, mengingat pusat kotanya yang tidak terlalu luas. Atau alternatif lainnya adalah menggunakan becak. Becak di Kota Ambon, relatif masih sangat terjangkau. Dari harga 5000 rupiah hingga 20.000 ribu rupiah. Semuanya kembali kepada jarak tempuh. 
Jalan utama Ay. Patty adalah salah satu jalan utama yang asik untuk dipakai jalan kaki dari ujung satu ke ujung lainnya. Berbagai toko berderet di sepanjang jalan ini. Ada sebuah Kafe bernama D'Street yang menjadi alternatif tempat nongkrong sambil ber-wifi-an dan minum kopi sore. 
Beberapa toko di jalan Ay. Patty ini memang terbakar ketika konflik Maluku yang lalu, tetapi kini sudah dibangun kembali dan ditata dengan apik. Ingatan saya kembali ke tahun 90-an ketika itu Bakso di Puskud (salah satu bangunan yang ada di Jl. Ay. Patty, kini bentuk bangunannya masih ada, tetapi sudah beralih fungsi) masih menjadi salah satu yang favorit. 
Di jalan Ay. Patty j…