Skip to main content

Kurang Kerjaan Project : Maluku itu Identitas, Harmoni, dan Manis









Mari berkenalan dengan Kurang Kerjaan Project. Grup akustik perpaduan Maluku dan Kupang yang bertemu di Salatiga. Digawangi oleh Johannes Latuny (Anes), Olivia Tuhumena (Oliv), Frellian Tuhumury (Ian), Hendrik Boro (Endik), Wanly Bia, dan Hanny Tuhuteru. Mereka pun ikut menghibur penonton yang hadir pada acara Tempat Paling Liar di Salatiga dengan lagu-lagu mereka yang syahdu.

Kurang Kerjaan Project terbentuk dua tahun lalu. Lahir begitu saja bersamaan dengan lagu Bersama Malam. Bersama Malam tercipta ketika Anes, Endik, dan Michael Metekohy (Mike, salah satu teman) sedang bersantai di halaman kos. Suasana kos pada waktu itu sedang mati lampu dan sambil membuat api unggun di halaman kos dan menikmati bulan purnama di atas kepala. Lalu ide awal nama Kurang Kerjaan tercetus begitu saja oleh Mike. Sejak saat itu Kurang Kerjaan Project lalu mengajak beberapa teman lagi untuk bergabung dan memulai panggung pertama mereka.

Beberapa kali mereka terima undangan manggung di food court atau pernikahan. Dan seiiring dengan berjalannya waktu, saat ini mereka berkonsentrasi untuk menyelesaikan album perdana mereka. Namun sayang sekali ada kesibukan-kesibukan lain yang membuat album ini sedikit tertunda. Kurang Kerjaan Project termasuk saah salah satu band yang sangat produktif dalam membuat lagu. Hal ini terbukti dengan beberapa single yang sudah diluncurkan di soundcloud maupun di yutub mereka yaitu, Hijauku Pergi, Bersama Malam, Untuk Sahabat dan Juwita.

Inspirasi lagu dari Kurang Kerjaan Project biasanya datang dari dalam (cerita para personil) dan juga dari luar yaitu sahabat-sahabat. Misalnya Lagu Untuk Sahabat itu tercipta karena melihat sahabat yang saat itu sedang menyelesaikan skrispinya. “Hijauku Pergi dan Juwita pun demikian, kebanyakan nada-nada awal dari lagu-lagu itu datang begitu saja.” Cerita Anes. “Sementara aransemen musiknya sendiri nanti akan ditambahkan oleh teman-teman yang lain, biasanya Endik dan Wanly, yang akan membantu meramunya menjadi enak didengar.” Ujarnya lagi.

“Untuk aransemen musik, kami tak punya rencana awal bahwa musiknya bakal seperti apa. Semua mengalir saja dan yang penting sederhana tapi tetap menghibur.” Wanly menceritakan pengalamannya dalam meramu musik Kurang Kerjaan Project. “Tidak ada aransemen yang cukup terstruktur. Semua mengikuti rasa saja dan kombinasi dari semua pegalaman mendengarkan musik yang kami punya.” Endik pun menambahkan.

Masing-masing personil di Kurang Kerjaan Project pun punya proses mencipta sendiri-sendiri. Hanny kebanyakan menemukan nada-nada yang jarang ditemukan ketika sedang berada di dalam kamar mandi. Anes banyak mendapat inspirasi ketika sedang di jalan. Olive yang aktif di Vocal Group Lentera Kasih asuhan civitas UKSW biasanya mendapat inspirasi ketika sedang bernyanyi. Endik biasanya ketika sedang memegang gitarnya begitupun dengan Wanly. Sementara Ian tidak hadir ketika proses wawancara ini dilakukan karena baru saja di-wisuda dan berkumpul bersama keluarganya.

Album Kurang Kerjaan Project memang masih digarap. Namun ada bocoran sedikit mengenai album mereka yaitu dari mulai proses rekaman sampai pasca rekaman semuanya digarap sendiri termasuk mixing, mastering dan pembuatan cover album. Jadi dapat dikatakan mereka sangat independent. 

Yang menarik dari Kurang Kerjaan Project adalah mereka adalah anak-anak muda yang berani untuk membawakan lagu ciptaan mereka sendiri dimana pun mereka tampil. Semoga ketika album Kurang Kerjaan Project rampung nanti, lantas menjadi Banyak Kerjaan Project ya kawan-kawan! Sukses terus!

Comments

Popular posts from this blog

Kegelisahan: musisi dan penikmat musik

Saya pernah menulis sebuah lirik berjudul “Tetanggaku Pergi ke Kota” yang kemudian dinyanyikan oleh Tetangga Pak Gesang, duo musisi indie yang berasal dari Bandung. Mereka adalah Arum Dayu dan Meicy Sitorus, yang aslinya adalah penggiat foto dan dua teman baik saya. 
Sampai saat ini, album mereka sementara dikerjakan secara gerilya. Memang belum ada hasil yang bisa didengarkan secara fisik, baik itu berupa CD, kaset, maupun vinyl yang sedang menjamur akhir-akhir ini. Tetapi lagu-lagu mereka dapat didengarkan di soundcloud. 
Produktivitas meng-aransemen lagu-lagu lama dan mencipta lagu-lagu baru, kemudian diakui oleh beberapa musisi besar seperti Slank dan Efek Rumah Kaca. Yang pada akhirnya mengajak mereka untuk berkolaborasi di satu panggung. 
Yang ingin saya bahas di sini adalah bukan secara spesifik menyangkut Tetangga Pak Gesang tetapi sepenggal lirik yang saya tulis di dalam lagu Tetanggaku Pergi ke Kota: 
kita tak perlu ke kota, kita kan membuat kota.
Ketika menuliskan lirik tersebut…

Tunjukkan Apa yang Kita Cintai Dari Atas Panggung

GRIZZLY CLUIVERT NAHUSULY mulai menyayangi Hip Hop sejak ia masih duduk di kelas tiga SMP. Di tengah-tengah pencarian jati dirinya, Icy, begitu ia disapa, menemukan Hip Hop. Ia merasa tidak hanya menemukan apa yang selama ini ia gemari, ia justru menemukan dirinya sendiri.
"Saya sempat gabung di dalam paduan suara, dan kemudian saya temukan satu warna, yang rasanya saya banget, karena musiknya tidak terlalu mengandalkan suara yang merdu. Akhir 2010, saya tertarik, dan mulai mengikuti sebuah lomba namanya, BKKBN rap contest." Icy memulai ceritanya pada satu petang yang syahdu sambil menyeruput kopi hitam.
Dengan bekal binaan Hanny Wattimena (Hanny, seorang musisi Hip Hop 90-an), Hanny mendedikasikan waktunya untuk mengajar vokal, penguasaan panggung, dan bagaimana berinteraksi di panggung.
"Jam latihan kami waktu itu, biasanya jam 9 malam ke atas. Sejak saat itulah kecintaan saya terhadap Hip Hop mulai menjadi-jadi. Saya merasa bisa berekspresi dengan sesuatu yang membua…

Puisi Memberikan Jalan Untuk Menyembuhkan Diri

“Puisi mampu membantu beta memberikan jalan untuk menyembuhkan diri sendiri sebab manusia pada dasarnya ‘berpenyakitan’ betul bukan? Puisi benar-benar jadi obat di kala itu,” ujar Chalvin. Chalvin Papilaya satu dari sekian banyak anak muda yang mencintai puisi, dan punya semacam keyakinan kecil, puisi dapat menyembuhkan.
Pada tahun 2016, ia terpilih sebagai salah seorang “emerging writer” yang berangkat ke Makassar International Writers Festival. Bersama beberapa kawan lainnya yang juga berasal dari timur Indonesia, mereka menerbitkan sajak dan cerita pendek, dengan tajuk “Dari Timur 2” yang diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama.
Chalvin katakan, “Puisi adalah pergulatan kecemasan terhadap tanda-tanda yang ada di luar diri penyair maupun di dalam dirinya sendiri—puisi bukanlah sekadar susunan kata-kata belaka.” Ungkapan ini, kemudian mengantar Chalvin untuk menerbitkan buku puisinya sendiri pada tahun 2019, berjudul “Mokolo”.



“Mokolo adalah kata sifat yang menggambarkan konteks per…