Skip to main content

Posts

Showing posts from October, 2016

Kurang Kerjaan Project : Maluku itu Identitas, Harmoni, dan Manis

Mari berkenalan dengan Kurang Kerjaan Project. Grup akustik perpaduan Maluku dan Kupang yang bertemu di Salatiga. Digawangi oleh Johannes Latuny (Anes), Olivia Tuhumena (Oliv), Frellian Tuhumury (Ian), Hendrik Boro (Endik), Wanly Bia, dan Hanny Tuhuteru. Mereka pun ikut menghibur penonton yang hadir pada acara Tempat Paling Liar di Salatiga dengan lagu-lagu mereka yang syahdu.
Kurang Kerjaan Project terbentuk dua tahun lalu. Lahir begitu saja bersamaan dengan lagu Bersama Malam. Bersama Malam tercipta ketika Anes, Endik, dan Michael Metekohy (Mike, salah satu teman) sedang bersantai di halaman kos. Suasana kos pada waktu itu sedang mati lampu dan sambil membuat api unggun di halaman kos dan menikmati bulan purnama di atas kepala. Lalu ide awal nama Kurang Kerjaan tercetus begitu saja oleh Mike. Sejak saat itu Kurang Kerjaan Project lalu mengajak beberapa teman lagi untuk bergabung dan memulai panggung pertama mereka.
Beberapa kali mereka terima undangan manggung di food court atau per…

Tempat Paling Liar Di Muka Bumi : Salatiga

menampilkan rumah ombak 


Salatiga tetap kota yang menyenangkan meski beberapa hari belakangan kerap bertabur gerimis. Kota yang ramah ini tidak sepi dari gerilya-gerilya seni. Membawa buku kami, Tempat Paling Liar Di Muka Bumi, ke kota ini adalah sebuah pengalaman baru yang menggairahkan. Kami disambut dengan hangat oleh kawan-kawan asal Maluku yang sementara belajar sambil mengerjakan seni dan hal-hal kecintaan mereka di Salatiga.
Rabu malam di kampus Universitas Kristen Satya Wacana kami berjumpa dengan Gracia Miranda Matruty, Minondhy Kastanya, Big Greogory, Ramli Tomagola, Endik Boro, Hanny Tuhuteru, dan Beryl Syahailatua. Mereka dengan senang hati mau merayakan Tempat Paling Liar Di Muka Bumi bersama kami.
terima kasih kawan-kawan
Hujan yang turun sejak pagi perlahan berhenti. Pukul lima sore kami tiba diFifty/Fifty Coffee Shop milik Bram dan Wawan yang terletak di jalan Imam Bonjol 31. Dimas dan kawan-kawan telah menata ruangan sedemikian rupa untuk acara yang akan berlangsung satu …

Fis Project : Maluku itu Cinta, Negeri, dan Masa Depan

foto oleh juan belegur


Duet pasangan kekasih Ferdy Soukotta dan Chrisema Latuheru ini cukup menggemaskan. Tidak hanya jagoan bermain musik namun mereka juga mengkolaborasikan gitar dan biola sehingga menghasilkan bunyi yang apik. Di malam Tempat Paling Liar di Muka Bumi : Salatiga, mereka tidak hanya berbagi tentang musik mereka tetapi juga berbagi tentang perjalanan cinta dan karya-karya yang kemudian dihasilkan seiiring dengan perjalanan cinta mereka.
“Fis Project ini lahir karena musik ini menyatukan kita. Kita berdua punya kecintaan yang sama.” Ujar Ferdy ketika ditanya tentang bagaimana awalnya Fis Project lahir. Selain itu Fis Project juga adalah proyek yang dibentuk supaya ‘kisah cinta’ mereka pun dapat diterima oleh keluarga. Berbekal semangat untuk menebarkan cinta lewat setiap karya yang dibuat mereka percaya bahwa dengan cinta tembok sebesar apapun dapat mereka tembus.

Setahun sudah Fis Project berjalan dan diawali dengan meng-cover lagu-lagu orang lain sampai akhirnya lagu …

Teru; hiduplah mantra-mantra

moro; salah satu judul lagu dalam album teru karya morika tetelepta





MORIKA TETELEPTA akan meluncurkan album solo perdananya, Teru:solum, voda un aria. “Teru berasal dari bahasa tana (sebutan untuk bahasa-bahasa asli di Maluku) yang berarti tiga. Tiga yang dimaksud,” menurut Morika, “adalah tanah, air dan udara; unsur dominan yang direkam sebagai bunyi dalam lagu-lagu di album ini.” Kekuatan besar yang menggerakannya untuk menggarap album ini adalah rasa cintanya yang penuh kepada musik dan semesta; tanah, air, dan udara yang tak lain adalah dirinya. Dalam pergerakan Hip-hop di Maluku, Morika Tetelepta bukanlah nama yang asing. Sejak 2008 bersama kawan-kawan rapper, DJ, dan dancer, ia membangun Molukka Hip-Hop Community. Gerilyanya bersama MHC berhasil membuat pundi-pundi musik Maluku diperkaya dengan satu genre musik yang belum pernah digarap sebelumnya, dan kepada anak-anak muda: sebuah pilihan bermusik yang baru. Gerilya Morika dan MHC berdampak besar. Hip-hop di mana-mana; Ambon, Sera…

Selamat Datang di “Tempat Paling Liar Di Muka Bumi”

Bandung, 2 Oktober 2016 – Sejak jam dua belas, bulir-bulir hujan menciumi kota kembang. Tetapi seperti takdirnya, hujan tak bisa menghentikan cinta; lalu lalang kendaraan di jalanan, orang-orang masih saja bekerja untuk hidup yang dicintai: orang tua kepada anak, anak kepada orang tua, orang-orang muda kepada kecintaannya. Bandung tak sunyi, walau hujan ramai sekali.
Jam dua siang, hujan baru reda. Saya dan Weslly bergerak meninggalkan tempat nongkrong kami, Senemu Coffee, menuju Daily Routine Coffee untuk mempersiapkan peluncuran, “Tempat Paling Liar Di Muka Bumi.” Kami tiba di halaman rumah Zaky Yamani dan Reita Ariyanti yang luas dan asri. Beberapa meja mulai diletakkan dan kursi-kursi mengelilinginya.



Tiga minggu sebelumnya, Aki dan Ucok sudah menyetujui perayaan “Selamat Datang di Tempat Paling Liar Di Muka Bumi” dilakukan di Daily Routine Coffee. Kami beruntung sekali masih dipertemukan dengan kawan-kawan seperti di Daily Routine Coffee yang menyediakan tempat sebagus itu dengan …