Skip to main content

#PoetryHunt 11-12 September 2016: Ketika Puisi Ilustrasi Berdampingan Dengan Himbauan Dilarang Kencing Sembarangan






Dalam pergerakan hip - hop, grafiti adalah satu dari sekian hal penting yang turut membuat kultur hip-hop terus bergeliat sampai hari ini.  Game berburu puisi ilustrasi #poetryhunt  terinspirasi dari pergerakan artis grafiti Amerika ketika mereka meletakan banyak bom dan menjadi all city. Dan soundtrack lagu kartun Sinchan “seluruh kota merupakan tempat bermain yang asik…… dst” adalah penggalan lirik yang terus terputar di kepala ketika merancang bangunan gagasan #poetryhunt.

Selain itu, Bengkel Sastra Maluku merasa perlu untuk memelihara keberlangsungan puisi-puisi   di   jalanan.   Meneruskan   hal   ajaib   yang   sudah   dilakukan   pada   kegiatan #PoetryOnTheStreet   yang   digagas   oleh   Weslly  Johannes dan Theoresia Rumthe beberapa bulan lalu di Jl. Anthony Rhebok, Ambon.  Yang mana puisi tiba-tiba turun ke jalanan guna menggantikan kata-kata makian dan gambar-gambar alat kelamin yang ditulis besar-besar di tempat umum. Maka #poetryhunt dibuat dengan pengandaian bahwa akan ada keseruan tersendiri jikalau puisi dan ilustrasi disebar di beberapa titik kota secara tersembunyi dan melibatkan khalayak umum dalam keseruan berburu, menemukan dan menciptakan cerita-cerita unik mereka.

Game #poetryhunt dirancang dengan menuliskan kalimat-kalimat puitik beserta ilustrasi yang berfungsi sebagai petunjuk yang akan mengarahkan para pemburu menelusuri satu lokasi ke lokasi yang lain, sampai pada akhirnya. Atau dengan kata lain, puisi ilustrasi diandaikan sebagai buruan yang harus disusur jejak-jejaknya. Yang membuat game ini menarik   adalah   tim   pemburu  diharapkan mampu  membaca pola dan menafsir jejak buruan supaya bisa menyelesaikan tantangan #poetryhunt. Pada akhirnya, permainan ini berhasil menghasilkan empat tim yang mampu berburu sampai kesudahannya. Bengkel Sastra Maluku bersama Kanvas Alifuru dan Ambon Bergerak adalah tiga simpul yang berinisiatif dan bekerja sehingga perburuan ini bisa terlaksana; manis-manis. Selain tiga inisiator ini, game #poetryhunt juga turut dibantu oleh Kantor Bahasa Provinsi Maluku yang ikut menyumbangkan buku-buku sebagai hadiah kepada para pemenang. Butuh dua  minggu untuk membicarakan konsep, mengurus  perizinan  dan  melakukan eksekusi di tembok-tembok.


Dari sekian banyak tembok di jantung kota Ambon, hanya tujuh lokasi saja yang bisa dijangkau oleh teman-teman ilustrator. Dan dari tujuh lokasi, hanya satu tembok milik The Street Cafe yang diizinkan oleh pemiliknya untuk dilukis. Sisanya, dieksekusi secara liar pada poka-poka. Puisi-puisi dalam game ini dikerjakan secara sukarela oleh penulis-penulis dari Bengkel Sastra Maluku yakni David Yondri Leimena, Sven Emerson, Ecko Saputra Poceratu, Morika Tetelepta, Revelino Bery Nepa dan Weslly Johannes. Sementara ilustrasi dikerjakan oleh ilustrator Kanvas Alifuru yakni Joner Lakburlawal, Erick Leunufna, Ando Wattimena, Petra Ayowembun, Theizard Saiya dan @kevin.synyster.



Perburuan puisi ilustrasi kali ini sudah berakhir sebelum senja turun di kota Ambon yang sedang  digempur hujan lari-lari.  Namun,  setidaknya  di  tengah   cuaca   mendung September ini, ada beberapa puisi ilustrasi di tembok-tembok kota yang mungkin saja bisa bikin terang mata dan mata hati. Akhirnya, salam paling cinta untuk semuanya. Sampai jumpa lagi di perburuan berikutnya.

Beberapa komentar kawan-kawan untuk #PoetryHunt

Bery : "menulis untuk #poetryhunt cukup menantang sebab penyair dituntut untuk bisa menyembunyikan makna puisi."

Sven : "#poetryhunt membuat beta banyak berkenalan dengan banyak teman yang suka-suka puisi. Juga membuat beta mencari beberapa referensi puisi. Keseruan #poetryhunt adalah seperti menemuka rasa kopi yang baru."

Petra: "kegiatan ini keren, sebab menyuarakan seni rupa dan sastra di jalanan adalah sesuatu yang seksi."

Ditulis oleh Morika Tetelepta. Foto-foto dalam tulisan ini adalah dokumen pribadi yang dimuat sudah atas izin pemiliknya. ]



Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

MANUMATA Dekat di Mata Tinggal di Hati

Manumata, artinya satu atap atau berasal dari satu mata rumah. “Karena katong samua basudara.” Filosofi inilah yang menjaga Manumata sebagai sebuah grup hip-hop  dan berhasil membawa mereka tinggal di hati banyak orang.

Pertama kali saya melihat Manumata tampil di panggung pada tahun 2015, dalam sebuah acara yang digelar di Pattimura Park. Karena mereka tinggal dan berasal dari ‘satu atap’ yang sama, Manumata lekas menarik perhatian saya dengan kekompakan mereka ketika di panggung.

Pada suatu petang, saya berkesempatan mengunjungi basecamp Manumata di kawasan Air Putri-Ambon untuk mengobrol dengan empat anak keren ini. Manumata yang terdiri dari Friti Putreisya Riry (Uthe, 13 tahun), Johanes Philipus Eurilwen Petrusz (Jho, 13 tahun), Everd Arnold Riry (Ever, 15 tahun), dan Oscar Imanuel Lena (Oscar, 12 tahun), selalu mampu mengambil hati penonton dari atas panggung. Bukan hanya muda, lincah, mereka juga energik dan penuh percaya diri.

Ternyata keluwesan mereka di atas panggung sudah terb…

Tunjukkan Apa yang Kita Cintai Dari Atas Panggung

GRIZZLY CLUIVERT NAHUSULY mulai menyayangi Hip Hop sejak ia masih duduk di kelas tiga SMP. Di tengah-tengah pencarian jati dirinya, Icy, begitu ia disapa, menemukan Hip Hop. Ia merasa tidak hanya menemukan apa yang selama ini ia gemari, ia justru menemukan dirinya sendiri.
"Saya sempat gabung di dalam paduan suara, dan kemudian saya temukan satu warna, yang rasanya saya banget, karena musiknya tidak terlalu mengandalkan suara yang merdu. Akhir 2010, saya tertarik, dan mulai mengikuti sebuah lomba namanya, BKKBN rap contest." Icy memulai ceritanya pada satu petang yang syahdu sambil menyeruput kopi hitam.
Dengan bekal binaan Hanny Wattimena (Hanny, seorang musisi Hip Hop 90-an), Hanny mendedikasikan waktunya untuk mengajar vokal, penguasaan panggung, dan bagaimana berinteraksi di panggung.
"Jam latihan kami waktu itu, biasanya jam 9 malam ke atas. Sejak saat itulah kecintaan saya terhadap Hip Hop mulai menjadi-jadi. Saya merasa bisa berekspresi dengan sesuatu yang membua…

Cidade De Amboino : Lewat Rap Mari Melakukan Kebaikan!

CIDADE DE AMBOINO atau CDArap adalah salah satu dari sekian banyak grup maupun komunitas rap yang berdomisili di kota Ambon. 
Beranggotakan, Berixter Marceloy Tiwery a.k.a Q’Angel, Norman Schawarzkopf Angwarmase a.k.a Noro/Baik’ MC, Nathanel G Tuju a.k.a Ghey’C, Mozes Muskitta a.k.a Oceez, Ryo Diasz a.k.a RDZ, Klinton Tumangken a.k.a KLYN, Maryos Siahaya a.k.a i’OZ.  
Tapi sore itu saya hanya berhasil meng-interview tiga orang di antara ke tujuh personil. Simak interview saya dengan mereka, berikut ini. 
TR: selamat sore, kalau boleh mengutip seorang teman bahwa passion adalah sesuatu yang membakar diri kita dari dalam, nah kira-kira, apa yang menjadi passion dari teman-teman semua, baik itu dalam hal musik, hip-hop, rap, atau apapun?
RDZ: sebagai anak muda, kita suka melakukan banyak hal. Kita bergairah dengan hal itu. Tapi kalau bicara soal rap yang saat ini CDArap tekuni, orang-orang mulai menekuni bikin rima, bikin lirik. Awalnya, saya tidak punya motivasi lain, sama-sama asik saja, d…