Skip to main content

Josua Simeon : Maluku itu Rumah, Harapan, dan Mutiara




photo: dok. pribadi










Apa sih sebenarnya yang jadi passion kamu? 

Bicara soal Passion, saya suka kata ini "membangun." Passion yang saya hidupi dan jalani selama ini yaitu mengajar dan mengarahkan. Mengajar dan mengarahkan di sini dalam artian bukan mengajar  di sekolah tapi lebih berbagi hidup, dan berbagi apa yang  jadi tujuan hidup kita atau juga tentang kota Ambon ke depan dan juga generasi muda ke depan (mungkin dalam kelompok kecil, atau komunitas besar, atau bahkan antara teman atau sahabat). Hal ini yang jadi satu landasan buat saya yang cukup tidak suka dengan satu kerjaan yang namanya kerja "kantoran" karena menurut pendapat saya kerja kantor bakal banyak menyita banyak waktu dan membuat kita tidak maksimal dengan potensi yang kita punya.

Menurut kamu penting nggak sih jika anak muda harus punya passion? 

Bagi saya passion itu penting. Karena kalau seseorang yang punya passion yang kuat dia akan latih dirinya dan mengarahkan dirinya untuk terus lakukan apa yang ada dalam hati dia tentunya untuk tujuan yang "BENAR" dan bukan karena ambisi atau ada kepentingan tertentu.

Apakah profesi kamu sekarang? dan apakah profesi itu mengubah hidup kamu?

Profesi saya sekarang sebagai seorang pengusaha muda yang masih terus belajar. Profesi yang dipercayakan sekarang ini cukup merubah banyak hal dalam hidup saya untuk bagaimana memikirkan orang lain dan juga memikirkan apa yang dapat saya buat bagi kota kita.

Adakah hal lain lagi yang ingin kamu capai dalam beberapa tahun kedepan? 

Untuk beberapa tahun kedepan yang masih saya rindukan untuk terus melahirkan pemimpin pemimpin muda yang tentunya pintar tapi dengan standart hidup yang benar. 

Apa pendapat kamu tentang "membangun Maluku" atau "membangun kampung halaman"?

Membangun Maluku yaitu membangun manusia. Membangun Maluku yaitu membangun budaya baru.

Bagaimana pendapat kamu tentang anak muda Maluku pada saat ini? 

Anak muda Maluku punya potensi yang besar, namun kadang yang terjadi mereka menemukan komunitas atau pergaulan yang salah yang mengakibatkan potensi itu mati. Anak muda Maluku juga masih terperangkap dalam budaya ikut ikutan yang sudah turun temurun tanpa ada tujuan yang jelas. 

Tempat favorit kamu kalau sedang liburan ke Maluku (berada di kota Ambon) dan kenapa? 

Di tapal kuda dan di tirta. Kalau di tapal kuda sekarang sudah ada tampat duduk santai di tepi pantai (paling enak kalau duduk pagi-pagi sambil baca buku). Kalau tirta tempat paling nyaman dan tenang untuk tunggu sunset sambil minum teh dengan kasbi goreng. 

Siapa inspirasi terbesar buat kamu? 

Mama, Papa, dan kakak perempuan. Juga kakak-kakak rohani saya.

Apa harapan kamu untuk Maluku?  

Harapan saya, biar semua orang Maluku merasa "Memiliki Maluku" harus memulai berhenti mementingkan kepentingan diri sendiri, egois, ambisi, stop kasih jatuh orang lain, tapi harus bangun budaya yang dulu dibilang ambon manise. Orang Maluku harus merasa bahwa Maluku ini Rumah saya, kenapa? kalau semua orang Maluku merasa bahwa Maluku ini rumahnya, tidak mungkin seorang mencuri (hak, jabatan, kuasa) dalam rumahnya sendiri.


Comments

Popular posts from this blog

Kegelisahan: musisi dan penikmat musik

Saya pernah menulis sebuah lirik berjudul “Tetanggaku Pergi ke Kota” yang kemudian dinyanyikan oleh Tetangga Pak Gesang, duo musisi indie yang berasal dari Bandung. Mereka adalah Arum Dayu dan Meicy Sitorus, yang aslinya adalah penggiat foto dan dua teman baik saya. 
Sampai saat ini, album mereka sementara dikerjakan secara gerilya. Memang belum ada hasil yang bisa didengarkan secara fisik, baik itu berupa CD, kaset, maupun vinyl yang sedang menjamur akhir-akhir ini. Tetapi lagu-lagu mereka dapat didengarkan di soundcloud. 
Produktivitas meng-aransemen lagu-lagu lama dan mencipta lagu-lagu baru, kemudian diakui oleh beberapa musisi besar seperti Slank dan Efek Rumah Kaca. Yang pada akhirnya mengajak mereka untuk berkolaborasi di satu panggung. 
Yang ingin saya bahas di sini adalah bukan secara spesifik menyangkut Tetangga Pak Gesang tetapi sepenggal lirik yang saya tulis di dalam lagu Tetanggaku Pergi ke Kota: 
kita tak perlu ke kota, kita kan membuat kota.
Ketika menuliskan lirik tersebut…

Tunjukkan Apa yang Kita Cintai Dari Atas Panggung

GRIZZLY CLUIVERT NAHUSULY mulai menyayangi Hip Hop sejak ia masih duduk di kelas tiga SMP. Di tengah-tengah pencarian jati dirinya, Icy, begitu ia disapa, menemukan Hip Hop. Ia merasa tidak hanya menemukan apa yang selama ini ia gemari, ia justru menemukan dirinya sendiri.
"Saya sempat gabung di dalam paduan suara, dan kemudian saya temukan satu warna, yang rasanya saya banget, karena musiknya tidak terlalu mengandalkan suara yang merdu. Akhir 2010, saya tertarik, dan mulai mengikuti sebuah lomba namanya, BKKBN rap contest." Icy memulai ceritanya pada satu petang yang syahdu sambil menyeruput kopi hitam.
Dengan bekal binaan Hanny Wattimena (Hanny, seorang musisi Hip Hop 90-an), Hanny mendedikasikan waktunya untuk mengajar vokal, penguasaan panggung, dan bagaimana berinteraksi di panggung.
"Jam latihan kami waktu itu, biasanya jam 9 malam ke atas. Sejak saat itulah kecintaan saya terhadap Hip Hop mulai menjadi-jadi. Saya merasa bisa berekspresi dengan sesuatu yang membua…

Puisi Memberikan Jalan Untuk Menyembuhkan Diri

“Puisi mampu membantu beta memberikan jalan untuk menyembuhkan diri sendiri sebab manusia pada dasarnya ‘berpenyakitan’ betul bukan? Puisi benar-benar jadi obat di kala itu,” ujar Chalvin. Chalvin Papilaya satu dari sekian banyak anak muda yang mencintai puisi, dan punya semacam keyakinan kecil, puisi dapat menyembuhkan.
Pada tahun 2016, ia terpilih sebagai salah seorang “emerging writer” yang berangkat ke Makassar International Writers Festival. Bersama beberapa kawan lainnya yang juga berasal dari timur Indonesia, mereka menerbitkan sajak dan cerita pendek, dengan tajuk “Dari Timur 2” yang diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama.
Chalvin katakan, “Puisi adalah pergulatan kecemasan terhadap tanda-tanda yang ada di luar diri penyair maupun di dalam dirinya sendiri—puisi bukanlah sekadar susunan kata-kata belaka.” Ungkapan ini, kemudian mengantar Chalvin untuk menerbitkan buku puisinya sendiri pada tahun 2019, berjudul “Mokolo”.



“Mokolo adalah kata sifat yang menggambarkan konteks per…