Skip to main content

Priska Akwila Birahy : Maluku itu Gairah, Lantang, dan Rumah









Apa sih sebenarnya yang jadi passion kamu? 

Passion saya jadi perempuan berani, bermoral dan berahklak. Itu tiga hal yang mendorong saya jadi maju. Tak banyak lagi saya temukan perempuan seperti itu. Semangat perubahan ke arah yang baik harusnya digaungkan juga dari perempuan. Ibaratnya ketiga hal itu merupakan nafas, cinta, nafsu. Jujur saya tidak bisa bergairah membangun tanpa mereka. 

Menurut kamu penting tidak sih jika anak muda harus punya passion? 

Anak dan muda. Bisa dibayangkan kelak jika berganti orang dan tua mereka bakal lebih dulu mati. Passion itu ibarat jembatan menuju mimpi-mimpi. Jembatan itu kudu diseberangi, dilalui dengan tenaga. Bukan dipelototi. Jangan keburu bermimpi jika passion saja tak punya. Sebab ia bukan udara yang terus ada. Passion itu yang membakar semangat kita, semangat muda. Tanpa itu mimpi tetaplah mimpi,  sebab jembatan tak pernah dilalui. Dan akhirnya saat jadi orang tua kita hanya menuai penyesalan atas hal yang dilewatkan semasa muda. Passion itu amat penting dan fundamen.

Apakah profesi kamu sekarang? dan apakah profesi itu mengubah hidup kamu?

Saya berprofesi sebagai jurnalis di media cetak di Jakarta. Jurnalis itu adalah mimpi saya sejak usia 4 tahun. Dan selama 15 tahun belakangan mimpi yang kini jadi kenyataan itu membawa perubahan. Bukan ke diri saya. Tapi orang lain. Hal sederhana dan mudah saja, saya belajar tentang mendengar. Jika dulu saya suka didengar, kini sebaliknya. Mendengar membuat kita kaya. Hal-hal besar dan sulit dipahami dapat kita selami. Rasa yang tak terucap dapat kira rasakan. Mendengar bukan sekadar membuka telinga, tapi membuka mata hati dan jiwa.  Itu modal buat saya. Akan sulit jika kita ingin memimpin, tapi tak bisa mendengar. Kita tak lebih dari batu.

Adakah hal lain lagi yang ingin kamu capai dalam beberapa tahun kedepan? 

Saya ingin membuka sebuah tea cafe. Saya bukan penikmat kopi, sebab itu jadi pemicu vertigo. Saya ingin mengembalikan budaya ngobrol santai sambil ngeteh. Ruang cafe saya itu sekaligus menjadi art space buat orang Maluku. Tak hanya seniman. Saya banyak mendatangi art space di Surabaya dan Jakarta. Dan dari situ saya menemukan banyak hal luar biasa kriya unik dari tangan anak muda. Dan beberapa diantaranya pernah saya pikirkan dan buat sewaktu SD hingga SMP. Saya menyesal karena tidak melanjutkannya. Saya berpikir itu kerjaan orang gila dan aneh. Hingga akhirnya saya menemukan banyak artisan yang juga melakukan hal yang sama, persis dengan apa yang saya lakukan dulu. Cukup saya yang menyesal, jangan ada anak Maluku lain yang bernasib sama.

Apa pendapat kamu tentang "membangun Maluku" atau "membangun kampung halaman"?

Membangun Maluku itu membangun mental. Lama sekali saya kira Maluku tercinta pulas dalam tidur. Tak ada geliat, gairah, dan nafsu. Yang ada hanya latah. Nyenyak tidur kadang membikin kita keram otot dan sulit bergerak. Dalam yoga itu butuh stretching biar otot luntur lagi. Mental pejuang dan berjuang berubah jadi pengikut. Tapi saya sangat percaya itu semua bisa diubah. Perlahan akan ada gebrakan dari dalam. Siapa sih yang doyan tidur terus?!

Bagaimana pendapat kamu tentang anak muda Maluku pada saat ini? 

Bahasa kekiniannya anak muda Maluku saat ini gamang (dalam arti baik). Mereka mulai melibatkan diri dalam komunitas-komunitas kecil. Mereka sedang mencari pola-pola. Dan puji tuhan banyak komunitas yang makin menjamur. Saya rasa itu hal baik. Sebab kita tak bisa menyamakan diri dengan Bung Hatta. Yang meski sendiri di penjara dia tetap mampu merubah. Anak Maluku dan saya, kita butuh komunitas buat berkembang. Itu hal paling manis pasca segala kekacauan. Anak muda Maluku masih percaya akan persahabatan dan pertemuan yang membangun.

Tempat favorit kamu kalau sedang liburan ke Maluku (berada di kota Ambon) dan kenapa? 

Rumah dan dermaga. Itu tempat favorit Ayah yang jadi favorit saya juga.

Siapa inspirasi terbesar buat kamu?

Ayah dan Opa adalah inspirasi terbesar saya.

Apa harapan kamu untuk Maluku? 

Maluku bukan tempat transit. Kalau Indonesia ingin cari pembangunan, stoknya ada di Maluku.


Comments

Popular posts from this blog

Tunjukkan Apa yang Kita Cintai Dari Atas Panggung

GRIZZLY CLUIVERT NAHUSULY mulai menyayangi Hip Hop sejak ia masih duduk di kelas tiga SMP. Di tengah-tengah pencarian jati dirinya, Icy, begitu ia disapa, menemukan Hip Hop. Ia merasa tidak hanya menemukan apa yang selama ini ia gemari, ia justru menemukan dirinya sendiri.
"Saya sempat gabung di dalam paduan suara, dan kemudian saya temukan satu warna, yang rasanya saya banget, karena musiknya tidak terlalu mengandalkan suara yang merdu. Akhir 2010, saya tertarik, dan mulai mengikuti sebuah lomba namanya, BKKBN rap contest." Icy memulai ceritanya pada satu petang yang syahdu sambil menyeruput kopi hitam.
Dengan bekal binaan Hanny Wattimena (Hanny, seorang musisi Hip Hop 90-an), Hanny mendedikasikan waktunya untuk mengajar vokal, penguasaan panggung, dan bagaimana berinteraksi di panggung.
"Jam latihan kami waktu itu, biasanya jam 9 malam ke atas. Sejak saat itulah kecintaan saya terhadap Hip Hop mulai menjadi-jadi. Saya merasa bisa berekspresi dengan sesuatu yang membua…

MANUMATA Dekat di Mata Tinggal di Hati

Manumata, artinya satu atap atau berasal dari satu mata rumah. “Karena katong samua basudara.” Filosofi inilah yang menjaga Manumata sebagai sebuah grup hip-hop  dan berhasil membawa mereka tinggal di hati banyak orang.

Pertama kali saya melihat Manumata tampil di panggung pada tahun 2015, dalam sebuah acara yang digelar di Pattimura Park. Karena mereka tinggal dan berasal dari ‘satu atap’ yang sama, Manumata lekas menarik perhatian saya dengan kekompakan mereka ketika di panggung.

Pada suatu petang, saya berkesempatan mengunjungi basecamp Manumata di kawasan Air Putri-Ambon untuk mengobrol dengan empat anak keren ini. Manumata yang terdiri dari Friti Putreisya Riry (Uthe, 13 tahun), Johanes Philipus Eurilwen Petrusz (Jho, 13 tahun), Everd Arnold Riry (Ever, 15 tahun), dan Oscar Imanuel Lena (Oscar, 12 tahun), selalu mampu mengambil hati penonton dari atas panggung. Bukan hanya muda, lincah, mereka juga energik dan penuh percaya diri.

Ternyata keluwesan mereka di atas panggung sudah terb…

Beberapa Spot Favorit Lainnya di Pusat Kota Ambon: Silakan Jalan Kaki Atau Naik Becak

Kota Ambon dengan jalan-jalan utamanya, masih bisa dijangkau dengan jalan kaki. Masih ramah, mengingat pusat kotanya yang tidak terlalu luas. Atau alternatif lainnya adalah menggunakan becak. Becak di Kota Ambon, relatif masih sangat terjangkau. Dari harga 5000 rupiah hingga 20.000 ribu rupiah. Semuanya kembali kepada jarak tempuh. 
Jalan utama Ay. Patty adalah salah satu jalan utama yang asik untuk dipakai jalan kaki dari ujung satu ke ujung lainnya. Berbagai toko berderet di sepanjang jalan ini. Ada sebuah Kafe bernama D'Street yang menjadi alternatif tempat nongkrong sambil ber-wifi-an dan minum kopi sore. 
Beberapa toko di jalan Ay. Patty ini memang terbakar ketika konflik Maluku yang lalu, tetapi kini sudah dibangun kembali dan ditata dengan apik. Ingatan saya kembali ke tahun 90-an ketika itu Bakso di Puskud (salah satu bangunan yang ada di Jl. Ay. Patty, kini bentuk bangunannya masih ada, tetapi sudah beralih fungsi) masih menjadi salah satu yang favorit. 
Di jalan Ay. Patty j…