Skip to main content

Erzhal Umamit : Maluku itu Selalu Di Hati








Apa sih sebenarnya yang jadi passion kamu? 

Memotret.

Menurut kamu penting nggak sih jika anak muda harus punya passion?
        
Kalau par beta penting sekali. 

Apakah profesi kamu sekarang? dan apakah profesi itu mengubah hidup kamu?  

Photographer. Ya, mengubah. 

Adakah hal lain lagi yang ingin kamu capai dalam beberapa tahun kedepan? 

Kedepannya beta hanya mau menjadi seorang seniman digital yang lebih baik lagi di Maluku dan Indonesia. 

Apa pendapat kamu tentang "membangun Maluku" atau "membangun kampung halaman"? 

Membangun Maluku atau membangun daerah sendiri itu adalah kewajiban besar yang harus di mulai dengan membangun hati sendiri. Saya percaya dengan melakukan hal-hal yang sederhana dengan hati untuk membangun Insya Allah Maluku akan bisa lebih baik lagi kedepannya.

Bagaimana pendapat kamu tentang anak muda Maluku pada saat ini?

Maluku ini luas, beta mungkin seng tahu anak-anak Maluku di kampung halaman mereka dan di luar daerah sana bagaimana, tapi dari beberapa daerah yang beta tahu, kemajuan mereka lebih baik dari daerah yang lain,  bahkan bisa dikatakan sungguh-sungguh sangat baik. Tapi anak Maluku sejujurnya masih butuh sesuatu untuk menjadi anak muda Maluku yang manis seperti cerita-cerita manis dari orang tua dulu dulu. 

Tempat favorit kamu kalau sedang liburan ke Maluku dan kenapa? 

Berada di Banda Naira. Karena Banda Naira adalah tempat terbaik bagi saya. Ketika saya ada di sana, hati saya tenang dan punya banyak ide untuk diaplikasikan lagi. 

Siapa inspirasi terbesar buat kamu? 

Orang tua sudah pasti. 

Apa harapan kamu untuk Maluku? 

Harapan saya semoga kepulauan yang indah di timur Indonesia ini melahirkan banyak pemuda yang akan membawa revolusi-revolusi pembawa masa depan baik untuk generasi muda. 



Comments

Popular posts from this blog

Kegelisahan: musisi dan penikmat musik

Saya pernah menulis sebuah lirik berjudul “Tetanggaku Pergi ke Kota” yang kemudian dinyanyikan oleh Tetangga Pak Gesang, duo musisi indie yang berasal dari Bandung. Mereka adalah Arum Dayu dan Meicy Sitorus, yang aslinya adalah penggiat foto dan dua teman baik saya. 
Sampai saat ini, album mereka sementara dikerjakan secara gerilya. Memang belum ada hasil yang bisa didengarkan secara fisik, baik itu berupa CD, kaset, maupun vinyl yang sedang menjamur akhir-akhir ini. Tetapi lagu-lagu mereka dapat didengarkan di soundcloud. 
Produktivitas meng-aransemen lagu-lagu lama dan mencipta lagu-lagu baru, kemudian diakui oleh beberapa musisi besar seperti Slank dan Efek Rumah Kaca. Yang pada akhirnya mengajak mereka untuk berkolaborasi di satu panggung. 
Yang ingin saya bahas di sini adalah bukan secara spesifik menyangkut Tetangga Pak Gesang tetapi sepenggal lirik yang saya tulis di dalam lagu Tetanggaku Pergi ke Kota: 
kita tak perlu ke kota, kita kan membuat kota.
Ketika menuliskan lirik tersebut…

Tunjukkan Apa yang Kita Cintai Dari Atas Panggung

GRIZZLY CLUIVERT NAHUSULY mulai menyayangi Hip Hop sejak ia masih duduk di kelas tiga SMP. Di tengah-tengah pencarian jati dirinya, Icy, begitu ia disapa, menemukan Hip Hop. Ia merasa tidak hanya menemukan apa yang selama ini ia gemari, ia justru menemukan dirinya sendiri.
"Saya sempat gabung di dalam paduan suara, dan kemudian saya temukan satu warna, yang rasanya saya banget, karena musiknya tidak terlalu mengandalkan suara yang merdu. Akhir 2010, saya tertarik, dan mulai mengikuti sebuah lomba namanya, BKKBN rap contest." Icy memulai ceritanya pada satu petang yang syahdu sambil menyeruput kopi hitam.
Dengan bekal binaan Hanny Wattimena (Hanny, seorang musisi Hip Hop 90-an), Hanny mendedikasikan waktunya untuk mengajar vokal, penguasaan panggung, dan bagaimana berinteraksi di panggung.
"Jam latihan kami waktu itu, biasanya jam 9 malam ke atas. Sejak saat itulah kecintaan saya terhadap Hip Hop mulai menjadi-jadi. Saya merasa bisa berekspresi dengan sesuatu yang membua…

Puisi Memberikan Jalan Untuk Menyembuhkan Diri

“Puisi mampu membantu beta memberikan jalan untuk menyembuhkan diri sendiri sebab manusia pada dasarnya ‘berpenyakitan’ betul bukan? Puisi benar-benar jadi obat di kala itu,” ujar Chalvin. Chalvin Papilaya satu dari sekian banyak anak muda yang mencintai puisi, dan punya semacam keyakinan kecil, puisi dapat menyembuhkan.
Pada tahun 2016, ia terpilih sebagai salah seorang “emerging writer” yang berangkat ke Makassar International Writers Festival. Bersama beberapa kawan lainnya yang juga berasal dari timur Indonesia, mereka menerbitkan sajak dan cerita pendek, dengan tajuk “Dari Timur 2” yang diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama.
Chalvin katakan, “Puisi adalah pergulatan kecemasan terhadap tanda-tanda yang ada di luar diri penyair maupun di dalam dirinya sendiri—puisi bukanlah sekadar susunan kata-kata belaka.” Ungkapan ini, kemudian mengantar Chalvin untuk menerbitkan buku puisinya sendiri pada tahun 2019, berjudul “Mokolo”.



“Mokolo adalah kata sifat yang menggambarkan konteks per…