Skip to main content

David Rampisela : Maluku itu Tanah Lagu Lagu






photo dok. pribadi




Apa sih sebenarnya yang jadi passion kamu? 


Hal yang paling membuatku bergairah sejak bangun tidur, sampai tidur, lalu terbawa mimpi adalah musik. Dimulai dari senang mendengar musik koleksi orang tua, lalu mengoleksi musik pribadi, terus sampai kemudian seiring waktu terdorong untuk membuat musik sendiri. Di titik ini aku mulai belajar sebisa mungkin tentang apa saja yang dibutuhkan untuk bisa membuat musik, dimulai dari belajar instrumen sampai soal komersialnya. Dalam proses ini lalu menemukan kesenangan-kesenangan dan tantangan-tantangan yang membuat hasrat bermusik semakin besar, maka ketika kemudian menemukan teman-teman seperjalanan, mengalami banyak kegagalan, menikmati keberhasilan, dan diberi tanda dengan jalan-jalan yang terbuka, aku kemudian percaya dan yakin untuk menjadikan musik sebagai penghidupan.


Menurut kamu penting nggak sih jika anak muda harus punya passion? 

Soal penting dan tidaknya punya passion dalam hidup adalah soal yang relatif. Karena menurutku menemukan passion adalah soal melakukan perjalanan. Dan tidak semua orang mengalami atau menyadari itu dalam hidup. Aku bersyukur menemukan passion di masa muda, karena untukku passion lebih dari penting karena itu hal yang bisa memberi arti dalam hidup, membuat hidup ini patut diperjuangkan, lalu dari hidup yang berarti itu seseorang bisa jadi orang yang tidak sekadar lewat dalam sejarah tapi memberi arti.


Kamu bernyanyi dan bermain gitar dan beberapa kali berkolaborasi dengan musisi lainnya, bisa ceritakan berkolaborasi dengan siapa saja dan gimana kolaborasinya? ada rencana membuat album?

Dalam perjalanan bermusik aku sempat bekerja sama dengan beberapa nama yang kemudian jadi sahabat di luar musik antara lain Agustin Oendari, Abram Lembono, Ivan Christian, Matthew Sayerz, Echa Soemantri, Vexsien Gaharu, Stanley Manuhutu, Rio Okta Gunawan, Softeast, Reza Likumahwa, Figgy Papilaya, dll. Kolaborasi dengan masing-masing nama terjadi dalam beberapa bentuk, antara lain produksi musik, penulisan lagu, sesi rekaman, dan penampilan di panggung. Rencana membuat album selalu ada namun selalu terkendala masalah klise, yaitu waktu. Konsep dan ide sudah mulai matang dan materi sudah terkumpul, mungkin 2016 adalah waktu yang tepat.

Ada tidak, suka duka di balik perjalanan kamu menjadi seorang musisi? Ada hal lain lagi yang pingin kamu capai dalam beberapa tahun kedepan? Pernahkah berpikir untuk bekerja formal (kantoran)?

Memilih hidup dari musik punya konsekuensi yang sangat spesifik dalam hidupku yaitu: tidak dimengerti oleh kebanyakan orang, jadinya sudah terbiasa dengan pertanyaan seperti, “Dari musik tu bisa hidup ka seng?” yang selalu kujawab dengan, “Bisa, sangat bisa. yang penting cerdas dan mau usaha keras.” Menghidupi passion memang tidak gampang, tapi secara bersamaan juga tidak ada rasa susah, karena seberat apapun, itu demi hal yang memang dicintai dan berarti dalam hidup. Hal yang ingin aku capai sebagai musisi adalah punya karya yang monumental, yang punya arti untuk orang lain dan bisa tercatat dalam sejarah. Sejak memilih musik sebagai jalan hidup dan menetapkan hati penuh-penuh di sini, aku memutuskan untuk tidak bekerja formal atau kantoran, karena untuk apapun yang dikerjakan dalam hidup buatku harusnya karena ada visi di situ, aku mau apa yang kulakukan sebagai penghidupan adalah jalan hidup bukan jalan keluar.

Apa pendapat kamu tentang "membangun Maluku" atau "membangun kampung halaman”?

Untuk membangun Maluku menurutku selalu mulai dari hal kecil saja, yang penting tekun dikerjakan. Cari teman yang sepemahaman lalu kerjakan bersama-sama. Sebagai orang yang tumbuh di perantauan, menurutku satu hal yang penting dalam membangun Maluku adalah soal meresapi kehidupannya, kalau ada ide untuk membuat Maluku jadi lebih baik, sebaiknya pulang dulu, hidup dalam kurun waktu tertentu, supaya dari situ timbul pemahaman, dari pemahaman dikawinkan dengan ide awal, akan lahir gagasan yang relevan. Setelah itu tinggal dikerjakan dengan hati yang benar.

Bagaimana pendapat kamu tentang anak muda Maluku pada saat ini? 

Anak muda Maluku itu keren. Ada banyak semangat dan bakat yang besar, terutama di kalangan musisi. Yang penting sekarang adalah soal belajar dan setia pada proses untuk bisa melakukan segala sesuatu dengan selayaknya, mulai dari tahap membuat karya sampai dipersembahkan ke publik. Informasi tumpah ruah di mana-mana, bisa di dunia maya atau saling bertukar pikiran dengan kawan. Untuk yang mau pasti bisa maju.

Tempat favorit kamu kalau sedang liburan ke Maluku (berada di kota Ambon) dan kenapa?

Kalau ke Ambon pasti ke Museum Siwalima di Taman Makmur. Ada banyak koleksi yang menarik di sana, dari jaman purbakala sampai era penjajahan Jepang, yang paling seru adalah kerangka ikan paus yang terdampar tahun 1987, kerangka terbesar panjangnya 19 meter, ini yang bikin jatuh cinta sejak pertama ke sana waktu masih bocah. Letak museumnya yang agak di bukit dan menghadap laut juga seru, punya mimpi suatu saat ingin bikin panggung musik di sana. hehe..

Siapa inspirasi terbesar buat kamu?

Eric Clapton untuk menjadi alasan bermain gitar dan juga jatuh-bangun tulus-licik gelap-terang hidupnya.

Apa harapan kamu untuk Maluku?

Aku berharap Maluku tidak hanya jadi romantisme kejayaan masa lalu seperti dalam cerita-cerita atau lagu-lagu, semoga visi pembangunan selaras dengan tradisi, dan semoga tidak ada satu jiwa pun yang tidak merasa merdeka.














Comments

Popular posts from this blog

Kegelisahan: musisi dan penikmat musik

Saya pernah menulis sebuah lirik berjudul “Tetanggaku Pergi ke Kota” yang kemudian dinyanyikan oleh Tetangga Pak Gesang, duo musisi indie yang berasal dari Bandung. Mereka adalah Arum Dayu dan Meicy Sitorus, yang aslinya adalah penggiat foto dan dua teman baik saya.  Sampai saat ini, album mereka sementara dikerjakan secara gerilya. Memang belum ada hasil yang bisa didengarkan secara fisik, baik itu berupa CD, kaset, maupun vinyl yang sedang menjamur akhir-akhir ini. Tetapi lagu-lagu mereka dapat didengarkan di soundcloud.  Produktivitas meng-aransemen lagu-lagu lama dan mencipta lagu-lagu baru, kemudian diakui oleh beberapa musisi besar seperti Slank dan Efek Rumah Kaca. Yang pada akhirnya mengajak mereka untuk berkolaborasi di satu panggung.  Yang ingin saya bahas di sini adalah bukan secara spesifik menyangkut Tetangga Pak Gesang tetapi sepenggal lirik yang saya tulis di dalam lagu Tetanggaku Pergi ke Kota:  kita tak perlu ke kota, kita kan membuat kot

Tunjukkan Apa yang Kita Cintai Dari Atas Panggung

GRIZZLY CLUIVERT NAHUSULY mulai menyayangi Hip Hop sejak ia masih duduk di kelas tiga SMP. Di tengah-tengah pencarian jati dirinya, Icy, begitu ia disapa, menemukan Hip Hop. Ia merasa tidak hanya menemukan apa yang selama ini ia gemari, ia justru menemukan dirinya sendiri. "Saya sempat gabung di dalam paduan suara, dan kemudian saya temukan satu warna, yang rasanya saya banget , karena musiknya tidak terlalu mengandalkan suara yang merdu. Akhir 2010, saya tertarik, dan mulai mengikuti sebuah lomba namanya, BKKBN rap contest ." Icy memulai ceritanya pada satu petang yang syahdu sambil menyeruput kopi hitam. Dengan bekal binaan Hanny Wattimena (Hanny, seorang musisi Hip Hop 90-an), Hanny mendedikasikan waktunya untuk mengajar vokal, penguasaan panggung, dan bagaimana berinteraksi di panggung. "Jam latihan kami waktu itu, biasanya jam 9 malam ke atas. Sejak saat itulah kecintaan saya terhadap Hip Hop mulai menjadi-jadi. Saya merasa bisa berekspresi

Puisi Memberikan Jalan Untuk Menyembuhkan Diri

“Puisi mampu membantu beta memberikan jalan untuk menyembuhkan diri sendiri sebab manusia pada dasarnya ‘berpenyakitan’ betul bukan? Puisi benar-benar jadi obat di kala itu,” ujar Chalvin. Chalvin Papilaya satu dari sekian banyak anak muda yang mencintai puisi, dan punya semacam keyakinan kecil, puisi dapat menyembuhkan. Pada tahun 2016, ia terpilih sebagai salah seorang “emerging writer” yang berangkat ke Makassar International Writers Festival. Bersama beberapa kawan lainnya yang juga berasal dari timur Indonesia, mereka menerbitkan sajak dan cerita pendek, dengan tajuk “Dari Timur 2” yang diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama. Chalvin katakan, “Puisi adalah pergulatan kecemasan terhadap tanda-tanda yang ada di luar diri penyair maupun di dalam dirinya sendiri—puisi bukanlah sekadar susunan kata-kata belaka.” Ungkapan ini, kemudian mengantar Chalvin untuk menerbitkan buku puisinya sendiri pada tahun 2019, berjudul “Mokolo”. “Mokolo adalah kata