Skip to main content

Revelino Berivon Nepa : Maluku itu Cinta, Kecemasan, dan Pukulan-Pukulan Liar











jika bulu mata yang tercerai dari kelopak ialah penanda rindu
lalu siapakah yang diam-diam telah menggugurkannya pagi ini
semua kenangan tentang satu nama t’lah hempas dari ingatan
seperti daun terakhir jatuh ke tanah pada penghujung musim
bila malu-malu sisipkan isyarat dalam mimpi manakala aku tidur
lalu siapakah kau yang diam-diam telah kirimkan rindu pagi ini
sesiapa sedang ingat, bilamana kirim rindu
pada bulu mata yang gugur jangan lupa cantumkan nama


Sepotong puisi di atas ditulis oleh Revelino Berivon Nepa. Dari sekian banyak puisi yang ditemukan di dalam blognya, itu adalah salah satu kesukaan saya. Karena bercerita tentang bulu mata. Sehari-hari kita bisa temukan Berry di Workshop Coffee, karena Workshop Coffee merupakan salah satu tempat kesukaannya. 

“Penting sekali untuk punya passion. Ibarat lampu tempel. Passion adalah minyak. Tanpa itu, redup. Jadi apapun yang bermanfaat, jadi orang baik juga adalah passion.” Ujar Berry ketika ditanya mengenai apa itu passion dan penting tidaknya sebuah passion ada di dalam diri seseorang. 

Berry pernah tergabung dalam sebuah komunitas hip-hop di kota Ambon pada jamannya. Ia juga bekerja pada sebuah institusi pendidikan pada saat ini, yang mengaku akhir-akhir ini lebih suka menulis puisi. 

“Puisi membantu saya melihat sesuatu dengan rasa, mempertemukan saya dengan banyak penyair dan orang-orang yang membantu saya melihat hidup lewat banyak cara pandang.  Membuat saya bisa berbagi kepekaan dan rasa, menjadikan saya  lebih merdeka membagikan isu dan  keresahan kepada khalayak.” Cerita Berry yang juga adalah Ketua Bengkel Sastra Maluku. 

Bengkel Sastra Maluku hingga sekarang giat sekali mengadakan pembacaan-pembacaan karya penyair-penyair asal Maluku. Dan mengundang lebih banyak lagi orang-orang untuk lebih mencintai puisi. Kegiatan Bengkel Sastra Maluku juga bekerja sama dengan kolom mimbar sastra yang ada pada harian Mimbar Rakyat untuk mengeksekusi pembacaan puisi di Workshop Coffee sesuai jadwal yang ditentukan. Hal ini hanya sebagian kecil usaha yang coba dilakukan untuk dapat terus membangun semangat literasi di Maluku. 

“Membangun Maluku, ini perkara tidak semudah mulut bicara. Paling penting saat ini membangun ulang pondasinya ; mental, pola pikir, keberanian, sikap peduli kepada sesama. Butuh kontinuitas untuk hal ini.” Tegas Berry. Ia lalu melanjutkan dengan bicara soal anak muda Maluku pada saat ini, menurutnya anak muda Maluku saat ini “sebagian progresif, sebagian cuek, sebagian kreatif, sebagian copy paste. Campur aduk.”

Mengenai perjalanannya hingga sekarang dan hal-hal yang ingin dikerjakan ke depan Berry juga mengungkapkan bahwa “Ada, banyak sekali benturan waktu, produkifitas, rekan, orang-orang dan perkara-perkara yang bertentangan dengan idealisme yang dipegang. Hal yang ingin dicapai dalam beberapa tahun ke depan yaitu menjadi Revelino Berry yang lebih berkembang dan punya buku kumpulan puisi-puisi yang merepresentasikan Maluku. Cerita Berry yang terinspirasi dari Well, Immortal Technique, Bob Marley, dan Bing ini. 

Tidak lupa ia menyerukan harapannya terhadap Maluku “Harapan kepada Maluku adil, merata, manusiawi. Tidak cuma jadi propinsi paling bahagia se-Indonesia, yang terakhir ini agak lucu sih." Celetuk Berry dengan senyuma kecil. Berry yang masih memelihara kesenangan kecilnya, untuk pergi ke Dermaga Irian di Halong, memancing ikan dan membuat puisi sambil melihat matahari tenggelam.  

  

Comments

Popular posts from this blog

Tunjukkan Apa yang Kita Cintai Dari Atas Panggung

GRIZZLY CLUIVERT NAHUSULY mulai menyayangi Hip Hop sejak ia masih duduk di kelas tiga SMP. Di tengah-tengah pencarian jati dirinya, Icy, begitu ia disapa, menemukan Hip Hop. Ia merasa tidak hanya menemukan apa yang selama ini ia gemari, ia justru menemukan dirinya sendiri.
"Saya sempat gabung di dalam paduan suara, dan kemudian saya temukan satu warna, yang rasanya saya banget, karena musiknya tidak terlalu mengandalkan suara yang merdu. Akhir 2010, saya tertarik, dan mulai mengikuti sebuah lomba namanya, BKKBN rap contest." Icy memulai ceritanya pada satu petang yang syahdu sambil menyeruput kopi hitam.
Dengan bekal binaan Hanny Wattimena (Hanny, seorang musisi Hip Hop 90-an), Hanny mendedikasikan waktunya untuk mengajar vokal, penguasaan panggung, dan bagaimana berinteraksi di panggung.
"Jam latihan kami waktu itu, biasanya jam 9 malam ke atas. Sejak saat itulah kecintaan saya terhadap Hip Hop mulai menjadi-jadi. Saya merasa bisa berekspresi dengan sesuatu yang membua…

MANUMATA Dekat di Mata Tinggal di Hati

Manumata, artinya satu atap atau berasal dari satu mata rumah. “Karena katong samua basudara.” Filosofi inilah yang menjaga Manumata sebagai sebuah grup hip-hop  dan berhasil membawa mereka tinggal di hati banyak orang.

Pertama kali saya melihat Manumata tampil di panggung pada tahun 2015, dalam sebuah acara yang digelar di Pattimura Park. Karena mereka tinggal dan berasal dari ‘satu atap’ yang sama, Manumata lekas menarik perhatian saya dengan kekompakan mereka ketika di panggung.

Pada suatu petang, saya berkesempatan mengunjungi basecamp Manumata di kawasan Air Putri-Ambon untuk mengobrol dengan empat anak keren ini. Manumata yang terdiri dari Friti Putreisya Riry (Uthe, 13 tahun), Johanes Philipus Eurilwen Petrusz (Jho, 13 tahun), Everd Arnold Riry (Ever, 15 tahun), dan Oscar Imanuel Lena (Oscar, 12 tahun), selalu mampu mengambil hati penonton dari atas panggung. Bukan hanya muda, lincah, mereka juga energik dan penuh percaya diri.

Ternyata keluwesan mereka di atas panggung sudah terb…

Beberapa Spot Favorit Lainnya di Pusat Kota Ambon: Silakan Jalan Kaki Atau Naik Becak

Kota Ambon dengan jalan-jalan utamanya, masih bisa dijangkau dengan jalan kaki. Masih ramah, mengingat pusat kotanya yang tidak terlalu luas. Atau alternatif lainnya adalah menggunakan becak. Becak di Kota Ambon, relatif masih sangat terjangkau. Dari harga 5000 rupiah hingga 20.000 ribu rupiah. Semuanya kembali kepada jarak tempuh. 
Jalan utama Ay. Patty adalah salah satu jalan utama yang asik untuk dipakai jalan kaki dari ujung satu ke ujung lainnya. Berbagai toko berderet di sepanjang jalan ini. Ada sebuah Kafe bernama D'Street yang menjadi alternatif tempat nongkrong sambil ber-wifi-an dan minum kopi sore. 
Beberapa toko di jalan Ay. Patty ini memang terbakar ketika konflik Maluku yang lalu, tetapi kini sudah dibangun kembali dan ditata dengan apik. Ingatan saya kembali ke tahun 90-an ketika itu Bakso di Puskud (salah satu bangunan yang ada di Jl. Ay. Patty, kini bentuk bangunannya masih ada, tetapi sudah beralih fungsi) masih menjadi salah satu yang favorit. 
Di jalan Ay. Patty j…