Skip to main content

Grace Sahertian Menelusuri Identitasnya di Konser Hela





photo by buya. 








Saya adalah Sahertian, Saya Porto. Saya Maluku. Sahertian, Sei Heri Tiano yang artinya saya akan terus mendayung melawan musuh. 

Hela adalah cerita, yang akan membawamu kepada perjumpaan detak jantung dengan helaan nafas, yang akan membawamu kepada kehidupan. Saya sedang menyerukan kehidupan kepada setiap telinga yang mendengarkan. Kepada tubuh-tubuh yang kehilangan jiwa. Kepada setiap nyawa yang hampir menyerah.   

“Myam nin kateman tbes nin sori far dol”

-

Konser Hela yang berlangsung pada 14 Mei 2016 baru sebuah permulaan. Grace Sahertian yang memilih tema konser pada malam itu Tracing Back the Roots tidak tanggung-tanggung menyuguhkan sesuatu yang berbeda. 

Malam itu Institute Francais Bandung penuh. Dibuka dengan penampilan Ginda Bestari dengan permainan gitarnya yang mempesona. Saya duduk di bangku tengah penonton dan menyaksikan hampir setengah perjalanan sesi sebelum akhirnya maju ke panggung dan menemani Grace bernyanyi bersama kawan-kawan backing vokal lainnya. 

Lagu pertama dibuka dengan Hela. Nuansa etnik progresif yang begitu kental di lagu ini membawa seluruh penonton untuk sedikit mengenal Maluku, khususnya Maluku Tenggara Barat. Hela yang diciptakan dalam bahasa Yamdena, Maluku Tenggara Barat, berhasil mencengangkan semua yang mendengarkan. 

Dilanjutkan dengan lagu Freedom. Lagu ini dibawakan dengan aransemen yang berbeda. Tidak seperti di album. Namun Freedom disuguhkan dengan versi yang lebih segar. Dan tetap mempesona. Dilanjutkan dengan lagu Deep Down, sebuah lagu bernuansa Jazz, yang diciptakannya sekitar tahun 2009 berhasil meluluhkan hati penonton. Sebagian yang mendengarkan, gemas dalam diam. Grace dengan suaranya yang khas, sepertinya memang sudah ditakdirkan untuk membawakan lagu Jazz dengan baik. 

Picture Me ada di urutan selanjutnya. Yang satu ini adalah track favorit saya. Berbeda dengan versi rekamannya, Grace berhasil menyanyikan Picture Me dengan sangat apik. Seakan-akan Tuhan memang duduk di antara kursi dan menjadi salah satu penonton di sana. Kemudian Fallin’ dilantunkan. Lagu yang bercerita tentang jatuh cinta lewat mimpi ini juga tak kalah memukau.

Setelah berpindah ke sesi dua, lagu Diam dibawakan secara akapela oleh backing vokal lainnya. Kali ini panggung pun ramai dengan backing vokal yang berkumpul di sana. Da Di De disuguhkan dengan versi yang lebih akustik, membuat suasana malam itu lebih meriah. Dan yang mengejutkan adalah lagu cover yang dihadirkan pada malam itu adalah Hand In My Pocket, lagu karya Alanis Morissette ini diaransemen ulang dan cara bernyanyi yang lebih laid-back tetapi tidak kehilangan jiwanya. Sun of Hope dinyanyikan dengan isian-isian vokal yang lebih kalap. Dan ditutup dengan lagu Better To Love, penonton yang dari tadi menunggu untuk berdiri, spontan berdiri di lagu ini dan ikut bertepuk tangan dengan meriah. 

Grace Sahertian di Konser Hela dibantu dengan beberapa nama yang sudah tidak asing lagi di kalangan musisi Bandung. Seperti Tesla Manaf yang berperan sebagai Music Director, Gantira Sena pada drum, Omega Touselak pada keyboard I, Faisal MF pada keyboard II, Rayhan Sudrajat pada Gitar dan Mega Ariani pada Cello. Dengan kawan-kawan backing vokal yang terlibat pada malam itu juga ada: Puspallia Panggabean, Ayub Jonn, Johannes Fayakun, Eka Karya Safsafubun. Tidak lupa kawan-kawan di belakang panggung yang juga membantu penampilan Grace Sahertian di panggung konser Hela semakin utuh. 




Jika dapat diceritakan dengan satu kalimat: konser Hela tidak hanya mengajak setiap penonton untuk menelusuri Grace dan identitasnya, tetapi juga mengajak setiap penonton untuk ikut masuk ke dalam jiwa setiap lagu yang disuguhkan. 

Satu hal lagi yang saya yakini konser Hela adalah sebuah pernyataan bahwa di dalam diri Grace Sahertian ada sebuah matahari menyala dengan sangat terang. Ia tidak perlu mencari nyala dari sumber yang lain.  

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

MANUMATA Dekat di Mata Tinggal di Hati

Manumata, artinya satu atap atau berasal dari satu mata rumah. “Karena katong samua basudara.” Filosofi inilah yang menjaga Manumata sebagai sebuah grup hip-hop  dan berhasil membawa mereka tinggal di hati banyak orang.

Pertama kali saya melihat Manumata tampil di panggung pada tahun 2015, dalam sebuah acara yang digelar di Pattimura Park. Karena mereka tinggal dan berasal dari ‘satu atap’ yang sama, Manumata lekas menarik perhatian saya dengan kekompakan mereka ketika di panggung.

Pada suatu petang, saya berkesempatan mengunjungi basecamp Manumata di kawasan Air Putri-Ambon untuk mengobrol dengan empat anak keren ini. Manumata yang terdiri dari Friti Putreisya Riry (Uthe, 13 tahun), Johanes Philipus Eurilwen Petrusz (Jho, 13 tahun), Everd Arnold Riry (Ever, 15 tahun), dan Oscar Imanuel Lena (Oscar, 12 tahun), selalu mampu mengambil hati penonton dari atas panggung. Bukan hanya muda, lincah, mereka juga energik dan penuh percaya diri.

Ternyata keluwesan mereka di atas panggung sudah terb…

Cidade De Amboino : Lewat Rap Mari Melakukan Kebaikan!

CIDADE DE AMBOINO atau CDArap adalah salah satu dari sekian banyak grup maupun komunitas rap yang berdomisili di kota Ambon. 
Beranggotakan, Berixter Marceloy Tiwery a.k.a Q’Angel, Norman Schawarzkopf Angwarmase a.k.a Noro/Baik’ MC, Nathanel G Tuju a.k.a Ghey’C, Mozes Muskitta a.k.a Oceez, Ryo Diasz a.k.a RDZ, Klinton Tumangken a.k.a KLYN, Maryos Siahaya a.k.a i’OZ.  
Tapi sore itu saya hanya berhasil meng-interview tiga orang di antara ke tujuh personil. Simak interview saya dengan mereka, berikut ini. 
TR: selamat sore, kalau boleh mengutip seorang teman bahwa passion adalah sesuatu yang membakar diri kita dari dalam, nah kira-kira, apa yang menjadi passion dari teman-teman semua, baik itu dalam hal musik, hip-hop, rap, atau apapun?
RDZ: sebagai anak muda, kita suka melakukan banyak hal. Kita bergairah dengan hal itu. Tapi kalau bicara soal rap yang saat ini CDArap tekuni, orang-orang mulai menekuni bikin rima, bikin lirik. Awalnya, saya tidak punya motivasi lain, sama-sama asik saja, d…

Weslly Johannes : Beta Sayang Kenangan

Weslly Johannes adalah seorang penyair. Ia mencintai kata-kata. Kesan pertama ketika bertemu dengannya adalah ia sangat teduh, seperti melihat lautan, ketika berlayar diatasnya, kemudian baru kita menemukan banyak sekali gelombang-gelombang. Ia menyukai, menghabiskan waktu di daerah sekitar rumahnya, di Ambon, yaitu pada bangku yang terletak di bawah pohon nangka, dari situ ia dapat melihat Tanjung Alang dan matahari tenggelam. Di sanalah kemudian puisi-puisinya lahir. Selain itu Teluk Kayeli, adalah tempat favoritnya, ketika menceritakan tentang Teluk Kayeli, ada rasa haru sekaligus rindu, seperti ingin selalu kembali ke sana. 
Saat ini ia tinggal di Saumlaki, Maluku Tenggara Barat, karena harus menyelesaikan proses Vikaris (proses sebelum kemudian menjadi seorang pendeta) dan kemudian saya adalah orang yang paling beruntung, ketika mendapatkan kesempatan mengobrol dengannya. 
Kata yang paling banyak kita temui di dalam puisi puisi Weslly Johannes yaitu kenangan. Manusia pada akhirnya …