Skip to main content

Rifky Husain : Maluku itu : Ramai dan Romantis











Rifky Husain memilih jalan sinema sebagai kegairahannya. Ia yang sehari-hari adalah seorang freelancer dan juga seorang pengajar di salah satu kampus di kota Ambon. Ia lalu bercerita apa yang membuatnya kemudian berpindah ke dokumenter adalah karena ia merasa sudah stuck mengeksplor gambar mati. Dan ia kepengin membuat kemajuan di dalam dirinya. 

Tidak banyak anak muda seperti Rifky Husain di kota ini. Dan memilih medium film apalagi dokumenter, masih menjadi sebuah hal yang langka. Tetapi keyakinan di dalam diri Rifky lah yang pada akhirnya membuat ia bertahan. “Kenapa beta ambil dokumenter karena basicnya beta jurnalistik, beta terbiasa dengan masalah-masalah sosial, terbiasa peka melihat hal-hal itu, dan beta harus bikin sesuatu yang minimal berdampak terhadap sosial. Dan minimal melalui jalan sinema, jalan ini, beta bisa bikin sesuatu.” Ujar Rifky. 

Pada awalnya ia mengajak beberapa orang teman. Dan project pertama yang mereka kerjakan adalah membuat film dokumenter tentang Abdau. Mereka lalu memutuskan untuk tidak membuat film dokumenter biasa, tetapi ada jalan cerita di baliknya. Film Abdau ini kemudian diputar di Tulehu, Ambon dan mendapat sambutan yang cukup hangat. 

Rifky yang pernah tinggal di kawasan Mangga Dua, Ambon, ini juga bercerita bahwa pada awalnya, ketertarikannya kepada dunia gambar, karena ayahnya dulu memiliki kamera kecil dan yang mengenalkannya kepada dunia memotret. Dan sejak saat itu ia lalu mempelajarinya. Lainnya karena sejak kecil ia suka sekali menonton film, hingga pada akhirnya banyak gambar bergerak yang sering ada di pikirannya. 

Ketika ditanya mengenai bagaimana pendapatnya tentang anak-anak muda Maluku pada saat ini, ia lalu berpendapat “Ketertarikan anak muda Maluku apalagi untuk film, sudah banyak. Tetapi banyak yang masih berpikir hanya kepada hal-hal yang teknis. Padahal kalau menurut beta, untuk bikin film itu awalnya katong musti baca buku, punya kepekaan sosial yang bagus, dan daya berpikir yang kritis. Dan beta pikir ini juga adalah awal yang bagus untuk berkesenian dalam bidang apapun.”

Hal ini jugalah yang membuat Rifky dengan filmnya Provokator Damai berhasil memenangkan film dengan kategori Rekomendasi Juri pada Eagle Award di tahun 2013. “Pada saat itu Ambon sempat pecah konflik kembali di tahun 2011, dan beta sempat gabung dengan beberapa kawan-kawan yang bekerja secara gerilya untuk memberikan informasi-informasi perdamaian dari Maluku. Walaupun mereka bekerja dengan caranya masing-masing, tapi kita bersinergi dengan baik. Tema Eagle Award pada waktu itu adalah Harmony Indonesia. Ketika itu katong submit ide cerita, kemudian ketika ide ini diterima, katong akhirnya dipanggil dan diinterview. Ketika itu proses editingnya lama. Tapi provokator damai bukanlah masterpiece, beta pengin bikin sesuatu yang lebih bagus lagi.” Cerita Rifky yang juga sangat terinspirasi dari film Fahrenheit 9/11 karya Michael Moore. 

“Maluku hari ini cermin Jakarta sekali. Katong punya kearifan lokal harusnya menjadi modal sosial. Ambon ini kan kota kecil. Katong bisa punya kemampuan berjejaring dengan siapa saja. Hari ini di Ambon ada banyak anak muda yang datang dari berbagai bidang dan mereka semua hebat. Tapi harus lebih giat lagi untuk berjejaring.” Pendapat Rifky, yang suatu saat nanti kepengin berkolaborasi dengan Abdul Azis dari Secangkir Production, ketika ditanya soal bagaimana ia memaknai kata “membangun Maluku.”

Ketika bertemu dengan Rifky, kita akan berpikir bahwa ia adalah pribadi yang sangat terbuka, padahal ia sendiri mengaku bahwa ia sangat menyukai kesendiriannya di dalam kamar. “Beta adalah orang yang paling nyaman menyendiri di kamar. Banyak ide besar yang pada akhirnya keluar di sana. Sepi itu seni. Orang yang akhir-akhir ini berkesenian itu pasti berawal dari kesendirian. Karena kesepianlah mereka mencipta. Dari yang tidak ada menjadi ada.”

Percakapan Molucca Project dengan Rifky Husain pada salah satu coffee shop yang ada  di kota Ambon pada malam itu harus berakhir. Tetapi sebelum kami berpisah satu dengan yang lain, ia lalu menyelipkan sebuah harapan untuk Maluku, “Katong anak muda musti banyak bergerak. Kalo diam katong mati. Dan Berpikir itu bagian dari bergerak.” 




Comments

Popular posts from this blog

Tunjukkan Apa yang Kita Cintai Dari Atas Panggung

GRIZZLY CLUIVERT NAHUSULY mulai menyayangi Hip Hop sejak ia masih duduk di kelas tiga SMP. Di tengah-tengah pencarian jati dirinya, Icy, begitu ia disapa, menemukan Hip Hop. Ia merasa tidak hanya menemukan apa yang selama ini ia gemari, ia justru menemukan dirinya sendiri.
"Saya sempat gabung di dalam paduan suara, dan kemudian saya temukan satu warna, yang rasanya saya banget, karena musiknya tidak terlalu mengandalkan suara yang merdu. Akhir 2010, saya tertarik, dan mulai mengikuti sebuah lomba namanya, BKKBN rap contest." Icy memulai ceritanya pada satu petang yang syahdu sambil menyeruput kopi hitam.
Dengan bekal binaan Hanny Wattimena (Hanny, seorang musisi Hip Hop 90-an), Hanny mendedikasikan waktunya untuk mengajar vokal, penguasaan panggung, dan bagaimana berinteraksi di panggung.
"Jam latihan kami waktu itu, biasanya jam 9 malam ke atas. Sejak saat itulah kecintaan saya terhadap Hip Hop mulai menjadi-jadi. Saya merasa bisa berekspresi dengan sesuatu yang membua…

MANUMATA Dekat di Mata Tinggal di Hati

Manumata, artinya satu atap atau berasal dari satu mata rumah. “Karena katong samua basudara.” Filosofi inilah yang menjaga Manumata sebagai sebuah grup hip-hop  dan berhasil membawa mereka tinggal di hati banyak orang.

Pertama kali saya melihat Manumata tampil di panggung pada tahun 2015, dalam sebuah acara yang digelar di Pattimura Park. Karena mereka tinggal dan berasal dari ‘satu atap’ yang sama, Manumata lekas menarik perhatian saya dengan kekompakan mereka ketika di panggung.

Pada suatu petang, saya berkesempatan mengunjungi basecamp Manumata di kawasan Air Putri-Ambon untuk mengobrol dengan empat anak keren ini. Manumata yang terdiri dari Friti Putreisya Riry (Uthe, 13 tahun), Johanes Philipus Eurilwen Petrusz (Jho, 13 tahun), Everd Arnold Riry (Ever, 15 tahun), dan Oscar Imanuel Lena (Oscar, 12 tahun), selalu mampu mengambil hati penonton dari atas panggung. Bukan hanya muda, lincah, mereka juga energik dan penuh percaya diri.

Ternyata keluwesan mereka di atas panggung sudah terb…

Beberapa Spot Favorit Lainnya di Pusat Kota Ambon: Silakan Jalan Kaki Atau Naik Becak

Kota Ambon dengan jalan-jalan utamanya, masih bisa dijangkau dengan jalan kaki. Masih ramah, mengingat pusat kotanya yang tidak terlalu luas. Atau alternatif lainnya adalah menggunakan becak. Becak di Kota Ambon, relatif masih sangat terjangkau. Dari harga 5000 rupiah hingga 20.000 ribu rupiah. Semuanya kembali kepada jarak tempuh. 
Jalan utama Ay. Patty adalah salah satu jalan utama yang asik untuk dipakai jalan kaki dari ujung satu ke ujung lainnya. Berbagai toko berderet di sepanjang jalan ini. Ada sebuah Kafe bernama D'Street yang menjadi alternatif tempat nongkrong sambil ber-wifi-an dan minum kopi sore. 
Beberapa toko di jalan Ay. Patty ini memang terbakar ketika konflik Maluku yang lalu, tetapi kini sudah dibangun kembali dan ditata dengan apik. Ingatan saya kembali ke tahun 90-an ketika itu Bakso di Puskud (salah satu bangunan yang ada di Jl. Ay. Patty, kini bentuk bangunannya masih ada, tetapi sudah beralih fungsi) masih menjadi salah satu yang favorit. 
Di jalan Ay. Patty j…