Skip to main content

Poetry on the Street : Membawa Puisi Turun ke Jalan Jalan










Setelah Pameran Foto Ambon Bercerita yang diselenggarakan oleh Molucca Project beberapa waktu yang lalu. Kali ini ada sebuah acara bertajuk Poetry on the Street yang sementara digodok. Jika tidak ada halangan yang terlalu penting, Senin, tanggal 21 Maret 2016, Poetry on the Street akan diluncurkan. 

Ide nama Poetry on the Street, kepikiran begitu saja. Bisa jadi beberapa orang di luar, mungkin sudah menggunakan nama yang sama untuk acara-acara puisi yang mereka selenggarakan. Tetapi konsep Poetry on the Street yang dimaksud kali ini adalah bagaimana membawa puisi turun ke jalan-jalan. Lari-lari. Dan jika ia haus, ia dapat mampir dan minum teh botol. 

Membawa puisi turun ke jalan begitu menggelitik, karena di Kota Ambon, sudah lama sekali kita tidak menikmati pembacaan puisi langsung di jalan dengan hanya menggunakan alat pengeras suara sederhana. Poetry on the Street volume #1 ini akan diisi pembacaan puisi oleh beberapa penyair laki-laki seperti Morika Tetelepta, Rudi Fofid, Falantino Latupapua, Calvin Papilaya. Dan beberapa nama-nama lain, yang sampai ketika tulisan ini dibuat masih dalam konfirmasi. 

Tidak hanya itu Poetry on the Street Volume #1 pun akan menghadirkan Pameran Menghitamkan Koran. Ide Menghitamkan Koran ini sendiri dicuri dari Newspaper Blackout yang diinisiasi oleh Austin Kleon (penulis buku best-seller Steal Like an Artist). Menghiamkan Koran yang dilakukan kurang lebih sama. Kami memakai koran bekas puisi yang dihitamkan dengan spidol, memilih kata-kata, dan terciptalah puisi darinya. 

Menghitamkan Koran ini adalah ajakan yang dibuka secara umum kepada kawan-kawan. Siapa saja bisa terlibat di dalamnya. Puisi yang tercipta dari Menghitamkan Koran ini akan dipajang di dinding-dinding jalan. Lokasi yang direncanakan untuk pemajangan karya Menghitamkan Koran adalah salah satu ruas jalan di dekat plang bertuliskan Jalan Anthony Reebok (seberang Kafe Pension). 

salah satu karya menghitamkan koran oleh weslly johannes

Selain itu, Poetry on the Street Volume #1 juga akan menghadirkan acara mengetik puisi secara live, yang akan dilakukan oleh  dua orang penyair laki-laki juga, Weslly Johannes dan Revelino Berry Nepa. Mereka berdua akan mengetik puisi live menggunakan mesin ketik.  

Semangat Poetry on the Street sederhana saja, bagaimana membawa puisi turun ke jalan dan menunjukkan kepada banyak orang bahwa ada gerilya sastra yang masih berlangsung di Maluku, khususnya di kota Ambon. Sekaligus membuktikan kepada banyak orang bahwa masih ada cara-cara yang indah untuk mengirimkan pesan satu dengan yang lain. Dan hal lainnya yang paling penting adalah di jalan tidak hanya ada sumpah serapah dan caci maki, tetapi ada cinta melalui kekuatan kata yang disebar.

Comments

Popular posts from this blog

Tunjukkan Apa yang Kita Cintai Dari Atas Panggung

GRIZZLY CLUIVERT NAHUSULY mulai menyayangi Hip Hop sejak ia masih duduk di kelas tiga SMP. Di tengah-tengah pencarian jati dirinya, Icy, begitu ia disapa, menemukan Hip Hop. Ia merasa tidak hanya menemukan apa yang selama ini ia gemari, ia justru menemukan dirinya sendiri.
"Saya sempat gabung di dalam paduan suara, dan kemudian saya temukan satu warna, yang rasanya saya banget, karena musiknya tidak terlalu mengandalkan suara yang merdu. Akhir 2010, saya tertarik, dan mulai mengikuti sebuah lomba namanya, BKKBN rap contest." Icy memulai ceritanya pada satu petang yang syahdu sambil menyeruput kopi hitam.
Dengan bekal binaan Hanny Wattimena (Hanny, seorang musisi Hip Hop 90-an), Hanny mendedikasikan waktunya untuk mengajar vokal, penguasaan panggung, dan bagaimana berinteraksi di panggung.
"Jam latihan kami waktu itu, biasanya jam 9 malam ke atas. Sejak saat itulah kecintaan saya terhadap Hip Hop mulai menjadi-jadi. Saya merasa bisa berekspresi dengan sesuatu yang membua…

Weslly Johannes : Beta Sayang Kenangan

Weslly Johannes adalah seorang penyair. Ia mencintai kata-kata. Kesan pertama ketika bertemu dengannya adalah ia sangat teduh, seperti melihat lautan, ketika berlayar diatasnya, kemudian baru kita menemukan banyak sekali gelombang-gelombang. Ia menyukai, menghabiskan waktu di daerah sekitar rumahnya, di Ambon, yaitu pada bangku yang terletak di bawah pohon nangka, dari situ ia dapat melihat Tanjung Alang dan matahari tenggelam. Di sanalah kemudian puisi-puisinya lahir. Selain itu Teluk Kayeli, adalah tempat favoritnya, ketika menceritakan tentang Teluk Kayeli, ada rasa haru sekaligus rindu, seperti ingin selalu kembali ke sana. 
Saat ini ia tinggal di Saumlaki, Maluku Tenggara Barat, karena harus menyelesaikan proses Vikaris (proses sebelum kemudian menjadi seorang pendeta) dan kemudian saya adalah orang yang paling beruntung, ketika mendapatkan kesempatan mengobrol dengannya. 
Kata yang paling banyak kita temui di dalam puisi puisi Weslly Johannes yaitu kenangan. Manusia pada akhirnya …

Lebih Peka Dengan Keadaan Sekeliling

Syamsul Bahry Fakoubun atau lebih dikenal dengan nama Andrey Fakoubun, memulai konten youtube-nya dengan tajuk LOKAL VOKAL. Ia telah mewawancarai musisi, rapper, selebgram, hingga caleg muda asal kota Ambon. Molucca Project mengajak Andrey untuk chat dan membahas tentang apa sih yang ada di balik konten LOKAL VOKAL dan mengapa penting untuk mengabarkan kabar baik melalui video. Berikut wawancara singkat kami bersama Andrey:
Mengapa sih tertarik dengan membuat video youtube? Mengapa memilih untuk menjadi yutuber? Kira-kira menurutmu apa dampak besar dari sebuah video yang ditonton olah banyak orang?
Awalnya mau membuat video youtube, karena saya tidak punya skill. Pengetahun tentang sajak terbatas, musik terbatas. Bisa sih, tapi tidak ahli. Kemudian saya kenal dengan orang-orang yang kompeten di bidang itu semua. Nah, youtube saya ini adalah wadah untuk mengapresiasi mereka. Jadi walau tidak punya skill yang sama dengan mereka, saya punya cara lain untuk mengabarkan kepada kawan-kawan di…