Skip to main content

Willie “IKANASAR” Pattinama : Maluku itu Laut, Musik, dan Budaya








Jandri Welson Pattinama atau akrab disapa Willie. Ketika pertama kali bertemu dengan Willie, kesan yang didapat adalah ia sedikit pendiam. Tetapi lama kelamaan, sosok asli dari Willie akan muncul apalagi jika sudah mengajaknya bicara soal musik dan film. Ia akan bercerita dengan senyum lebar dan mata yang berbinar-binar. 

“Mungkin jawaban saya akan terkesan sok, tapi saya rasa seni adalah passion saya. Menurut saya penting. Bagi saya passion itu seperti bahan bakar. Anak muda kan sebaiknya menyala-nyala dan penuh semangat.” Tutur Willie ketika ditanya soal apa yang menjadi kegairahannya. 

Alasan lainnya memilih musik sederhana saja katanya, ia ingin berkarya dan ingin karyanya didengarkan oleh orang lain. Selain musik, film adalah salah satu kesukaannya juga. Oleh karena itu ia banyak membantu kawan-kawan musisinya untuk membuat video clip. 

“Tahun 2008 saya main di pensi kampus saya. Itu penampilan pertama. Bawakan lagu Californication-nya RHCP. Kemudian tahun 2009 saya lulus dan kembali ke Ambon. Langsung membentuk band bersama adik saya Iti (Bass) dan dua kawan lain, Kevin (Drum) dan Ricky(Gitar). Kami pakai nama ARAH JAM DUABELAS. yang kemudian berganti menjadi ENERGETIC GANDHI lalu IKANASAR. Kevin dan Ricky keluar, diganti Ai (Gitar) dan Apin (Drum). Ada juga Ryan dan Hanan drummer band Belasting yang sempat membantu kami di posisi drum, sebelum Apin bergabung.” Willie bercerita panjang lebar tentang bagaimana awalnya ia membentuk band-nya. 

Ketika ditanya soal lebih banyak suka atau duka di dalam perjalanan bermusik, ia menjawab tegas, “lebih banyak suka. Duka mungkin saat kami selalu kalah di festival band, hahaha.”

“Apresiasi dari pendengar cukup baik. Karena bermusik juga saya bisa mengenal banyak orang. Terutama orang orang dengan passion yang sama. Dalam waktu dekat yang ingin saya capai adalah merekam album perdana bersama IKANASAR.” Jelas Willie yang sangat menyukai The Beatles. 

Ambon Manise

Dulu kita kaya rempah rempah.
Sekarang kota kita berjubah sampah.
Pak polisi pusing atur lalu lintas.
Yang kacaunya oh tak mengenal batas.
Ambon manise, sio talalu manise.

Selain bernyanyi dan bermain musik. Willie juga jagoan menulis lirik. Salah satunya yang ada di lagu Ambon Manise. Ia terinspirasi dari lirik lagu Imagine, John Lennon dan Serdadu, Iwan Fals. Proses mencipta liriknya juga cukup sakral dan butuh kesendirian. Biasanya ia suka datang dan duduk lama di Kopi Joas dengan notes kecilnya yang berwarna oranye. Lalu didalamnya terdapat banyak sekali catatan liriknya. 

Ketika ditanya soal bagaimana membangun Maluku dan bagaimana kawan kawan muda di Maluku pada saat ini, Willie yang suka berenang di Liang dan Natsepa ini juga punya pendapatnya sendiri, “saya memandang istilah membangun maluku sebagai usaha mempersembahkan sesuatu yang bermanfaat bagi maluku. Apapun bentuknya, lagu, film, buku, puisi, lukisan, pencapaian ilmiah, prestasi olahraga, pendidikan dll. Jadi tidak terbatas hanya pada pembangunan infrastruktur. Saya mungkin hanya bisa menjawab dari segi kesenian dan kreatifitas. Karena dua hal itu yang selalu saya perhatikan dari anak muda. Dan menurut saya kondisi saat ini baik sekali. Banyak komunitas atau kelompok kreatif yang menghasilkan banyak karya bagus. Perkembangan yang paling luar biasa menurut saya ada pada musik Hiphop.”

Percakapan kami ditutup dengan harapannya terhadap Maluku, “Semoga terus berkembang menjadi daerah yang maju. Masyarakat yang cerdas, sejahtera dan tentu saja, damai.” 

Harapan Willie tentu saja harus dibarengi dengan sepenggal lirik yang ditulisnya di lagu Ambon Manise: 

Perlu aksi agar semua tak loyo. Tak cukup hanya kata dan pose di baliho.
Ambon manise, sio talalu manise.




Comments

Popular posts from this blog

Puisi Memberikan Jalan Untuk Menyembuhkan Diri

“Puisi mampu membantu beta memberikan jalan untuk menyembuhkan diri sendiri sebab manusia pada dasarnya ‘berpenyakitan’ betul bukan? Puisi benar-benar jadi obat di kala itu,” ujar Chalvin. Chalvin Papilaya satu dari sekian banyak anak muda yang mencintai puisi, dan punya semacam keyakinan kecil, puisi dapat menyembuhkan.
Pada tahun 2016, ia terpilih sebagai salah seorang “emerging writer” yang berangkat ke Makassar International Writers Festival. Bersama beberapa kawan lainnya yang juga berasal dari timur Indonesia, mereka menerbitkan sajak dan cerita pendek, dengan tajuk “Dari Timur 2” yang diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama.
Chalvin katakan, “Puisi adalah pergulatan kecemasan terhadap tanda-tanda yang ada di luar diri penyair maupun di dalam dirinya sendiri—puisi bukanlah sekadar susunan kata-kata belaka.” Ungkapan ini, kemudian mengantar Chalvin untuk menerbitkan buku puisinya sendiri pada tahun 2019, berjudul “Mokolo”.



“Mokolo adalah kata sifat yang menggambarkan konteks per…

Tunjukkan Apa yang Kita Cintai Dari Atas Panggung

GRIZZLY CLUIVERT NAHUSULY mulai menyayangi Hip Hop sejak ia masih duduk di kelas tiga SMP. Di tengah-tengah pencarian jati dirinya, Icy, begitu ia disapa, menemukan Hip Hop. Ia merasa tidak hanya menemukan apa yang selama ini ia gemari, ia justru menemukan dirinya sendiri.
"Saya sempat gabung di dalam paduan suara, dan kemudian saya temukan satu warna, yang rasanya saya banget, karena musiknya tidak terlalu mengandalkan suara yang merdu. Akhir 2010, saya tertarik, dan mulai mengikuti sebuah lomba namanya, BKKBN rap contest." Icy memulai ceritanya pada satu petang yang syahdu sambil menyeruput kopi hitam.
Dengan bekal binaan Hanny Wattimena (Hanny, seorang musisi Hip Hop 90-an), Hanny mendedikasikan waktunya untuk mengajar vokal, penguasaan panggung, dan bagaimana berinteraksi di panggung.
"Jam latihan kami waktu itu, biasanya jam 9 malam ke atas. Sejak saat itulah kecintaan saya terhadap Hip Hop mulai menjadi-jadi. Saya merasa bisa berekspresi dengan sesuatu yang membua…

Kegelisahan: musisi dan penikmat musik

Saya pernah menulis sebuah lirik berjudul “Tetanggaku Pergi ke Kota” yang kemudian dinyanyikan oleh Tetangga Pak Gesang, duo musisi indie yang berasal dari Bandung. Mereka adalah Arum Dayu dan Meicy Sitorus, yang aslinya adalah penggiat foto dan dua teman baik saya. 
Sampai saat ini, album mereka sementara dikerjakan secara gerilya. Memang belum ada hasil yang bisa didengarkan secara fisik, baik itu berupa CD, kaset, maupun vinyl yang sedang menjamur akhir-akhir ini. Tetapi lagu-lagu mereka dapat didengarkan di soundcloud. 
Produktivitas meng-aransemen lagu-lagu lama dan mencipta lagu-lagu baru, kemudian diakui oleh beberapa musisi besar seperti Slank dan Efek Rumah Kaca. Yang pada akhirnya mengajak mereka untuk berkolaborasi di satu panggung. 
Yang ingin saya bahas di sini adalah bukan secara spesifik menyangkut Tetangga Pak Gesang tetapi sepenggal lirik yang saya tulis di dalam lagu Tetanggaku Pergi ke Kota: 
kita tak perlu ke kota, kita kan membuat kota.
Ketika menuliskan lirik tersebut…