Skip to main content

Menghela HELA : Album Grace Sahertian









Saya ada di kota Ambon, Maluku, ketika mengunggah dan mendengarkan Album Hela di iTunes secara lengkap. Di kejauhan saya dapat melihat langit begitu biru di antara teluk Ambon, dengan udara yang panas, namun ketika menekan tombol play pada handphone saya: ada sebuah berita baik hari ini. 

Hela adalah album baru dari Grace Sahertian yang dirilis di iTunes pada 8 Februari kemarin. Album Hela seperti yang ditulis pada rilis pers yang beredar adalah perwujudan kebebasan dari diri Grace Sahertian; kebebasan berekspresi, kebebasan mengaktualisasi diri, kebebasan berkarya, dan kebebasan menelusuri jejak sejarah keluarganya. 

Kata Hela berasal dari dialek khas Maluku untuk yang dapat diartikan “menarik”, “tarik.” Tetapi ada pengertian lain yang muncul, kata Hela sangat akrab dengan kata “hela-an” atau “meng-hela” biasanya dipadukan dengan helaan nafas atau menghela nafas. 

Pengalaman mendengarkan album Hela dari Grace Sahertian seperti menghela nafas. Pertemuan telinga dengan delapan track yang ada di dalam album ini, akan membawa kepada perjumpaan detak jantung dengan helaan nafas: ada kehidupan. Grace sedang menyerukan kehidupan kepada setiap telinga yang mendengarkan. 

Jika menelusuri lebih dalam ada semacam persoalan mendasar tentang hidup yang sementara dibicarakan kepadamu: baik itu semacam identitas yang terkuak. Ada kemerdekaan mencipta. Ada persoalan mencintai atau dicintai. Ada Tuhan yang melihat di dalam gelap. Ada mimpi. Ada perjalanan panjang yang mempertanyakan. Ada menemukan secercah hangat. Kemudian ada cahaya yang gilang gemilang. 

Silakan ditilik, karena persoalan di atas bukan hanya dialog yang coba dibahas oleh Grace dengan dirinya sendiri. Tetapi juga ingin ia bagikan dengan pendengarnya. Hal ini terasa dari setiap lirik yang ia tulis: Hela, Freedom, Better to Love, Picture Me, Fallin', Da Di De, Diam, Sun of Hope. Delapan track ini terekam dalam sebuah bingkai foto hitam putih yang menawan, yang ketika dipajang pada sebuah rumah dengan sentuhan dinding berwarna kuning mengkilat pun, ramah dinikmati sebagai sebuah keindahan. 

Menyimak setiap helaan lagu di dalam album Hela, mengajakmu dayung perahu ke tengah laut jangan takut deburan ombak. 

Mya ma ninr kateman
Tbes ninr sori far dol
Kete tamtaut nerar rafefar





Comments

Popular posts from this blog

Tunjukkan Apa yang Kita Cintai Dari Atas Panggung

GRIZZLY CLUIVERT NAHUSULY mulai menyayangi Hip Hop sejak ia masih duduk di kelas tiga SMP. Di tengah-tengah pencarian jati dirinya, Icy, begitu ia disapa, menemukan Hip Hop. Ia merasa tidak hanya menemukan apa yang selama ini ia gemari, ia justru menemukan dirinya sendiri.
"Saya sempat gabung di dalam paduan suara, dan kemudian saya temukan satu warna, yang rasanya saya banget, karena musiknya tidak terlalu mengandalkan suara yang merdu. Akhir 2010, saya tertarik, dan mulai mengikuti sebuah lomba namanya, BKKBN rap contest." Icy memulai ceritanya pada satu petang yang syahdu sambil menyeruput kopi hitam.
Dengan bekal binaan Hanny Wattimena (Hanny, seorang musisi Hip Hop 90-an), Hanny mendedikasikan waktunya untuk mengajar vokal, penguasaan panggung, dan bagaimana berinteraksi di panggung.
"Jam latihan kami waktu itu, biasanya jam 9 malam ke atas. Sejak saat itulah kecintaan saya terhadap Hip Hop mulai menjadi-jadi. Saya merasa bisa berekspresi dengan sesuatu yang membua…

MANUMATA Dekat di Mata Tinggal di Hati

Manumata, artinya satu atap atau berasal dari satu mata rumah. “Karena katong samua basudara.” Filosofi inilah yang menjaga Manumata sebagai sebuah grup hip-hop  dan berhasil membawa mereka tinggal di hati banyak orang.

Pertama kali saya melihat Manumata tampil di panggung pada tahun 2015, dalam sebuah acara yang digelar di Pattimura Park. Karena mereka tinggal dan berasal dari ‘satu atap’ yang sama, Manumata lekas menarik perhatian saya dengan kekompakan mereka ketika di panggung.

Pada suatu petang, saya berkesempatan mengunjungi basecamp Manumata di kawasan Air Putri-Ambon untuk mengobrol dengan empat anak keren ini. Manumata yang terdiri dari Friti Putreisya Riry (Uthe, 13 tahun), Johanes Philipus Eurilwen Petrusz (Jho, 13 tahun), Everd Arnold Riry (Ever, 15 tahun), dan Oscar Imanuel Lena (Oscar, 12 tahun), selalu mampu mengambil hati penonton dari atas panggung. Bukan hanya muda, lincah, mereka juga energik dan penuh percaya diri.

Ternyata keluwesan mereka di atas panggung sudah terb…

Beberapa Spot Favorit Lainnya di Pusat Kota Ambon: Silakan Jalan Kaki Atau Naik Becak

Kota Ambon dengan jalan-jalan utamanya, masih bisa dijangkau dengan jalan kaki. Masih ramah, mengingat pusat kotanya yang tidak terlalu luas. Atau alternatif lainnya adalah menggunakan becak. Becak di Kota Ambon, relatif masih sangat terjangkau. Dari harga 5000 rupiah hingga 20.000 ribu rupiah. Semuanya kembali kepada jarak tempuh. 
Jalan utama Ay. Patty adalah salah satu jalan utama yang asik untuk dipakai jalan kaki dari ujung satu ke ujung lainnya. Berbagai toko berderet di sepanjang jalan ini. Ada sebuah Kafe bernama D'Street yang menjadi alternatif tempat nongkrong sambil ber-wifi-an dan minum kopi sore. 
Beberapa toko di jalan Ay. Patty ini memang terbakar ketika konflik Maluku yang lalu, tetapi kini sudah dibangun kembali dan ditata dengan apik. Ingatan saya kembali ke tahun 90-an ketika itu Bakso di Puskud (salah satu bangunan yang ada di Jl. Ay. Patty, kini bentuk bangunannya masih ada, tetapi sudah beralih fungsi) masih menjadi salah satu yang favorit. 
Di jalan Ay. Patty j…