Skip to main content

Coffee Talk : CREATIVEPRENEUR







Ambon adalah kota yang sudah ratusan tahun, namun pandangan tentang "pekerjaan" belum banyak berubah. Orang tua maupun orang muda masih setuju kalau ungkapan "jadi orang/jadi manusia" dan ungkapan lain, seperti "dapa hidop", lebih pas dikenakan oleh pegawai negeri sipil, anggota kepolisian, dan yang serupa itu.

Coffee Talk: CREATIVEPRENEUR berlangsung lancar. Sebuah obrolan santai yang menginspirasi, diselingi live music, berlangsung di Workshop Coffee, sebuah coffee shop yang baru saja dibuka beberapa hari yang lalu. 

Obrolan asyik yang mengawinkan kreativitas orang muda dan semangat enterpreneur ini dapat disebut sebagai tindakan provokatif. Sebab untuk pertama kalinya, orang-orang muda, pekerja kreatif itu, duduk bersama, berbagi pengalaman, semangat, dan saling mendengarkan satu dengan yang lain. Ini awal sejarah baru.

Support your local young creativepreneur adalah semangat yang hendak dibangkitkan. Saling dukung dan saling menyemangati, baik internal (sesama pengusaha muda) maupun dukungan eksternal sesuai kapasitas masing-masing elemen. Kesempatan ini pun dapat menjadi cikal-bakal kolaborasi yang belum pernah terjadi.

Pengusaha pengusaha muda lokal yang hadir cukup banyak dan beragam dari segi usaha. Dalam obrolan itu Jimmy Pattiasina (Designer, Owner Beta 95), Chika Matitaputty (Beta Ruma), Cello Phelamonia (Cello Photography), Agus (C-Area Printing), Rifky Husain (Baileo Doc), dan James Renyaan (Workshop Coffee) berbagi soal passion yang menggerakkan mereka, pilihan-pilihan mereka membuka usaha, tantangan yang dihadapi, modal awal, ketakutan-ketakutan, tetapi juga keyakinan dan semangat mereka.

Mereka juga mendorong orang-orang muda yang hadir untuk berani bermimpi dan, ini penting, mengerjakannya. Kota ini butuh lebih banyak creativepreneur. Potensi anak mudanya terlalu tebal. Sayang sekali jika tidak dimaksimalkan. Selain itu, kota ini butuh creativepreneur, supaya referensi pekerjaan bukan hanya PNS atau Pegawai Bank. 


suasana di workshop coffee pada malam itu. 

Comments

Popular posts from this blog

Tunjukkan Apa yang Kita Cintai Dari Atas Panggung

GRIZZLY CLUIVERT NAHUSULY mulai menyayangi Hip Hop sejak ia masih duduk di kelas tiga SMP. Di tengah-tengah pencarian jati dirinya, Icy, begitu ia disapa, menemukan Hip Hop. Ia merasa tidak hanya menemukan apa yang selama ini ia gemari, ia justru menemukan dirinya sendiri.
"Saya sempat gabung di dalam paduan suara, dan kemudian saya temukan satu warna, yang rasanya saya banget, karena musiknya tidak terlalu mengandalkan suara yang merdu. Akhir 2010, saya tertarik, dan mulai mengikuti sebuah lomba namanya, BKKBN rap contest." Icy memulai ceritanya pada satu petang yang syahdu sambil menyeruput kopi hitam.
Dengan bekal binaan Hanny Wattimena (Hanny, seorang musisi Hip Hop 90-an), Hanny mendedikasikan waktunya untuk mengajar vokal, penguasaan panggung, dan bagaimana berinteraksi di panggung.
"Jam latihan kami waktu itu, biasanya jam 9 malam ke atas. Sejak saat itulah kecintaan saya terhadap Hip Hop mulai menjadi-jadi. Saya merasa bisa berekspresi dengan sesuatu yang membua…

MANUMATA Dekat di Mata Tinggal di Hati

Manumata, artinya satu atap atau berasal dari satu mata rumah. “Karena katong samua basudara.” Filosofi inilah yang menjaga Manumata sebagai sebuah grup hip-hop  dan berhasil membawa mereka tinggal di hati banyak orang.

Pertama kali saya melihat Manumata tampil di panggung pada tahun 2015, dalam sebuah acara yang digelar di Pattimura Park. Karena mereka tinggal dan berasal dari ‘satu atap’ yang sama, Manumata lekas menarik perhatian saya dengan kekompakan mereka ketika di panggung.

Pada suatu petang, saya berkesempatan mengunjungi basecamp Manumata di kawasan Air Putri-Ambon untuk mengobrol dengan empat anak keren ini. Manumata yang terdiri dari Friti Putreisya Riry (Uthe, 13 tahun), Johanes Philipus Eurilwen Petrusz (Jho, 13 tahun), Everd Arnold Riry (Ever, 15 tahun), dan Oscar Imanuel Lena (Oscar, 12 tahun), selalu mampu mengambil hati penonton dari atas panggung. Bukan hanya muda, lincah, mereka juga energik dan penuh percaya diri.

Ternyata keluwesan mereka di atas panggung sudah terb…

Beberapa Spot Favorit Lainnya di Pusat Kota Ambon: Silakan Jalan Kaki Atau Naik Becak

Kota Ambon dengan jalan-jalan utamanya, masih bisa dijangkau dengan jalan kaki. Masih ramah, mengingat pusat kotanya yang tidak terlalu luas. Atau alternatif lainnya adalah menggunakan becak. Becak di Kota Ambon, relatif masih sangat terjangkau. Dari harga 5000 rupiah hingga 20.000 ribu rupiah. Semuanya kembali kepada jarak tempuh. 
Jalan utama Ay. Patty adalah salah satu jalan utama yang asik untuk dipakai jalan kaki dari ujung satu ke ujung lainnya. Berbagai toko berderet di sepanjang jalan ini. Ada sebuah Kafe bernama D'Street yang menjadi alternatif tempat nongkrong sambil ber-wifi-an dan minum kopi sore. 
Beberapa toko di jalan Ay. Patty ini memang terbakar ketika konflik Maluku yang lalu, tetapi kini sudah dibangun kembali dan ditata dengan apik. Ingatan saya kembali ke tahun 90-an ketika itu Bakso di Puskud (salah satu bangunan yang ada di Jl. Ay. Patty, kini bentuk bangunannya masih ada, tetapi sudah beralih fungsi) masih menjadi salah satu yang favorit. 
Di jalan Ay. Patty j…