Skip to main content

Posts

Showing posts from February, 2016

Coffee Talk : CREATIVEPRENEUR

Ambon adalah kota yang sudah ratusan tahun, namun pandangan tentang "pekerjaan" belum banyak berubah. Orang tua maupun orang muda masih setuju kalau ungkapan "jadi orang/jadi manusia" dan ungkapan lain, seperti "dapa hidop", lebih pas dikenakan oleh pegawai negeri sipil, anggota kepolisian, dan yang serupa itu.
Coffee Talk: CREATIVEPRENEUR berlangsung lancar. Sebuah obrolan santai yang menginspirasi, diselingi live music, berlangsung di Workshop Coffee, sebuah coffee shop yang baru saja dibuka beberapa hari yang lalu. 
Obrolan asyik yang mengawinkan kreativitas orang muda dan semangat enterpreneur ini dapat disebut sebagai tindakan provokatif. Sebab untuk pertama kalinya, orang-orang muda, pekerja kreatif itu, duduk bersama, berbagi pengalaman, semangat, dan saling mendengarkan satu dengan yang lain. Ini awal sejarah baru.
Support your local young creativepreneur adalah semangat yang hendak dibangkitkan. Saling dukung dan saling menyemangati, baik internal (…

Menghela HELA : Album Grace Sahertian

Saya ada di kota Ambon, Maluku, ketika mengunggah dan mendengarkan Album Hela di iTunes secara lengkap. Di kejauhan saya dapat melihat langit begitu biru di antara teluk Ambon, dengan udara yang panas, namun ketika menekan tombol play pada handphone saya: ada sebuah berita baik hari ini. 
Hela adalah album baru dari Grace Sahertian yang dirilis di iTunes pada 8 Februari kemarin. Album Hela seperti yang ditulis pada rilis pers yang beredar adalah perwujudan kebebasan dari diri Grace Sahertian; kebebasan berekspresi, kebebasan mengaktualisasi diri, kebebasan berkarya, dan kebebasan menelusuri jejak sejarah keluarganya. 
Kata Hela berasal dari dialek khas Maluku untuk yang dapat diartikan “menarik”, “tarik.” Tetapi ada pengertian lain yang muncul, kata Hela sangat akrab dengan kata “hela-an” atau “meng-hela” biasanya dipadukan dengan helaan nafas atau menghela nafas. 
Pengalaman mendengarkan album Hela dari Grace Sahertian seperti menghela nafas. Pertemuan telinga dengan delapan track yang …

New Places in Town : Workshop Coffee Membetulkan Jiwa Jiwa yang Rusak

"Semoga ini bisa kasih keluar katong dari garis kemiskinan." Tegas James Renyaan, salah satu pendiri dari Workshop Coffee. Itulah awalnya yang menjadi motivasinya untuk terjun ke bisnis coffee shop yang berlokasi di Jalan Dr. Sitanala, Ambon. 
Paet Lelyemin, partner James, menambahkan “katong itu anak laki-laki yang punya tanggung jawab untuk melihat katong pung saudara saudara lain juga bisa hidup bae-bae. Awal mulanya terbentuk Workshop Coffee ini adalah diskusi-diskusi yang terjadi malam-malam, ketika berada di lokasi tambang, tempat dimana mereka bekerja. Ketika James ajak dan perbincangan berlanjut, awalnya beta dengan dua teman lainnya sudah agak ragu, karena angka pinjaman mencapai 400 juta. Nah, tapi akhirnya James meyakinkan katong bahwa, katong nih kan dari kecil sudah susah. Nah, kalo katong pinjam uang dari bank par buka usaha, lalu usaha itu bangkrut, nah, katong sudah seng kaget lai to dengan kehidupan susah.”
Sangat minim menemukan orang muda Maluku dengan seman…

Willie “IKANASAR” Pattinama : Maluku itu Laut, Musik, dan Budaya

Jandri Welson Pattinama atau akrab disapa Willie. Ketika pertama kali bertemu dengan Willie, kesan yang didapat adalah ia sedikit pendiam. Tetapi lama kelamaan, sosok asli dari Willie akan muncul apalagi jika sudah mengajaknya bicara soal musik dan film. Ia akan bercerita dengan senyum lebar dan mata yang berbinar-binar. 
“Mungkin jawaban saya akan terkesan sok, tapi saya rasa seni adalah passion saya. Menurut saya penting. Bagi saya passion itu seperti bahan bakar. Anak muda kan sebaiknya menyala-nyala dan penuh semangat.” Tutur Willie ketika ditanya soal apa yang menjadi kegairahannya. 
Alasan lainnya memilih musik sederhana saja katanya, ia ingin berkarya dan ingin karyanya didengarkan oleh orang lain. Selain musik, film adalah salah satu kesukaannya juga. Oleh karena itu ia banyak membantu kawan-kawan musisinya untuk membuat video clip. 
“Tahun 2008 saya main di pensi kampus saya. Itu penampilan pertama. Bawakan lagu Californication-nya RHCP. Kemudian tahun 2009 saya lulus dan kembal…

Kegelisahan: musisi dan penikmat musik

Saya pernah menulis sebuah lirik berjudul “Tetanggaku Pergi ke Kota” yang kemudian dinyanyikan oleh Tetangga Pak Gesang, duo musisi indie yang berasal dari Bandung. Mereka adalah Arum Dayu dan Meicy Sitorus, yang aslinya adalah penggiat foto dan dua teman baik saya. 
Sampai saat ini, album mereka sementara dikerjakan secara gerilya. Memang belum ada hasil yang bisa didengarkan secara fisik, baik itu berupa CD, kaset, maupun vinyl yang sedang menjamur akhir-akhir ini. Tetapi lagu-lagu mereka dapat didengarkan di soundcloud. 
Produktivitas meng-aransemen lagu-lagu lama dan mencipta lagu-lagu baru, kemudian diakui oleh beberapa musisi besar seperti Slank dan Efek Rumah Kaca. Yang pada akhirnya mengajak mereka untuk berkolaborasi di satu panggung. 
Yang ingin saya bahas di sini adalah bukan secara spesifik menyangkut Tetangga Pak Gesang tetapi sepenggal lirik yang saya tulis di dalam lagu Tetanggaku Pergi ke Kota: 
kita tak perlu ke kota, kita kan membuat kota.
Ketika menuliskan lirik tersebut…