Tentang Peserta Pameran Foto : Ambon Bercerita #1











19 - 20 Januari di Kafe Pension, Ambon, kita dapat menikmati 19 karya dari teman-teman muda di Maluku. Mereka mencoba merekam kesederhanaan yang ada di dalam kota ini. Sementara itu, membagi cerita ini kepadamu adalah sebuah kemewahan. Berikut ini adalah peserta, karya, sekaligus caption yang menceritakan tentang karya mereka: 




Tifar Mayang oleh David Leimena. 

Ayah saya adalah seorang pembuat sopi. Proses pembuatan sopi dikenal dengan sebutan ‘Tifar Mayang’. Dari pekerjaan inilah, ayah memenuhi kebutuhan hidup kami sekeluarga bahkan membiayai kuliah saya dan saudara-saudara saya.



Malam oleh Nielma Pesurnay. 

Sesungguhnya malam di kota ini tidak lagi gelap dan sunyi, apalagi menakutkan. Orang Ambon punya banyak cara untuk menikmatinya: ngopi, jalan-jalan, menikmati lampu kota, membeli nasi kuning, atau duduk-duduk dan bercerita.




Jibu-jibu oleh Petra Ayowembun.

Adalah potret perempuan-perempuan tangguh. Mereka yang setiap hari membawa ikan-ikan segar dari pelabuhan dan menjualnya. Perempuan-perempuan ini adalah mama-mama yang tidak pernah berhenti bekerja untuk anak-anaknya.



Bandara oleh Andrey Fakoubun. 

Bandara bukan hanya awal atau akhir sebuah perjalanan.  Ia bukan pula sekedar cerita tentang pertemuan, perpisahan, dan deru pesawat terbang. Tetapi, bandara juga tentang kerja keras, keheningan dan waktu senggang yang bisa dipakai untuk tidur atau bermain bersama kenangan.



Mandi oleh Shinta Lauw.

Mandi tidak selalu berarti keintiman atau privasi. Ia dapat menjadi aktivitas bersama yang dilakukan di tempat-tempat umum dalam suasana santai dan gembira. 



Pagi oleh Echa Worotikan.

Bagi saya pagi itu bukan ketergesaan. Pagi adalah sebuah kesempatan. Meresapi sinar matahari yang masuk dari sudut-sudut jendela dan memulai hari baru dengan tenang dan penuh semangat.



Jembatan oleh Aldy Patrick.

Jembatan berarti menghubungkan, tetapi ia juga berarti menunggu atau melepas pergi.



Jalan oleh Weslly Johannes.

Jalan-jalan di kota Ambon mengabadikan banyak nama: nama-nama mereka yang telah lama mati, tetapi juga nama-nama mereka yang masih setia menemani langkah kaki kita.



Kucing oleh Frans "Hayaka" Nendissa.

Balon namanya. Ia adalah penghuni rumah Paparisa Ambon Bergerak. Bukan hanya sekedar hewan peliharaan, ia adalah teman. Dalam tingkahnya yang alami, kita menemukan keceriaan dan arti sebuah rumah. 



Rumah Sakit oleh Norman Schwarzkopf.

Di dalam kesunyian rasa sakit, kita tahu  bahwa kita tidak  sendiri. Ada mereka yang berjuang bersama kita. Mereka juga percaya, bahwa pada waktunya kita pasti dapat melewatinya. 



Cahaya oleh Ierfundie Latuconsina.

Ambon ketika malam bukan sekedar hitam, putih atau kuning tetapi ia emas. Rugi sekali jika orang tidak menikmati kota ini. Di sini bukan tempat untuk bunuh diri. 



Sepotong Metropolis oleh Akbar Marasabessy. 

Akbar telah memberi kesan “akbar” pada kota ini. Lapangan Merdeka dulu disebut Esplanade. Lapangan ini setua kota Ambon. Meskipun kota ini telah berkembang menjadi kota metropolis, tetapi esplanade, pasir putih dan biru laut tetap tak terhindarkan bila memotret kota ini.



Kembang Api oleh Yeszco "oranje"

Tahun baru harapan baru,  api selalu berbunga di antara Pattimura dan Pattimura-Pattimura Muda.



Golden Hour oleh Michael Alfredo.

Caption: Membidik tenggelamnya matahari adalah membidik bukti nyata kehebatan sang pencipta.Itu sebabnya sunset dikenal dengan sebutan golden hour.



Pasar oleh Elpido Meido.

Tempat di mana “bekerja” adalah makna hidup yang sesungguhnya.


 
Jalanan kota Ambon oleh Mirelle Daphney.

Jalanan kota Ambon selalu menarik untuk diabadikan. Beta suka melihat apapun yang terjadi di jalanan, di mana orang-orang  mengejar tujuan mereka masing-masing.  



Keluarga oleh Debra Soplantila. 

Family is the warmest hug we always go back to, no matter how far we’ve gone. Because it is the beginning of your life, and the never ending story of your love. 


Comments