Skip to main content

Tentang Pameran Foto : Ambon Bercerita #1








photo by mirelle daphney, salah satu peserta pameran. 


Ambon adalah kumpulan cerita. Cerita-cerita tentang berbagai peristiwa; hal-hal kecil, besar, biasa, maupun luar biasa,  mereka menyatu di dalam ingatan orang-orang yang hidup, berjuang, dan menikmati kota ini hari demi hari. 

Cerita-cerita itu ada di dalam tulisan, nyanyian dan foto yang bertebaran di media massa dan media sosial. Pada masanya, cerita tentang keindahan-keindahan panoramik menjadi gambar yang tertancap begitu kuat di benak banyak orang tentang kota ini. Demikian pula cerita-cerita tentang konflik dan usaha-usaha perdamaian pernah menjadi satu narasi besar tentang Ambon, bahkan Maluku.

Pameran Foto Ambon Bercerita #1 adalah sebuah tindakan kecil yang bertujuan memotret kisah-kisah kecil dari kehidupan sehari-hari sebagai penyeimbang narasi besar tentang Ambon, yang selama ini hanya berisi pengalaman konflik sosial, usaha perdamaian, dan keindahan-keindahan panoramik. 

Paparisa Ambon Bergerak, berkolaborasi dengan komunitas-komunitas kreatif di kota Ambon, memediasi kegiatan yang sebelumnya dilakukan oleh Molucca Project di media online (instagram)  dengan nama #30hariambonbercerita menjadi  pameran foto offline yang berlangsung pada tanggal 19-20 Januari 2016. Di dalam pameran ini akan ada live music dari teman-teman musisi, live sketching dari Kanvas Alifuru dan dan live poem dari Bengkel Sastra Maluku. 

Pameran foto Ambon Bercerita #1 yang digelar di Kafe Pension selama dua hari ini, tidak seperti kebanyakan pameran yang diadakan untuk memamerkan potret-potret fotografer profesional. Namun potret-potret yang ditampilkan oleh peserta, kebanyakan hanya ditangkap menggunakan kamera telepon genggam.  

Tema-tema yang dihadirkan seperti: tifar mayang dan jibu-jibu, demikian pula foto-foto tentang pagi dan suasana malam yang menyenangkan. Selain itu jalanan Ambon, kehangatan keluarga, aktivitas di bandar udara,  pasar, mandi, cerita tentang ikan-ikan, hingga foto bertemakan kucing. Semua tema yang beragam itu sesungguhnya adalah mozaik kehidupan yang membuat Ambon menjadi manis.

Kehidupan sehari-hari yang tampak di sana mengandung banyak pesan, banyak pelajaran. Kesederhanaan-kesederhanaan yang indah itulah yang coba direkam, pada saat orang-orang saat ini begitu sibuk mengagungkan kemewahan.

Pameran foto Ambon Bercerita #1 hanya cerita-cerita kehidupan yang biasa. Foto-foto yang dipamerkan untuk dinikmati sebenarnya adalah cara lain untuk membuat kota ini terus bercerita. Cerita-cerita tentang orang-orang biasa, tempat-tempat biasa, dan hal-hal biasa yang dilakukan setiap hari terlalu indah untuk sekedar dilewatkan: karena di situlah letak denyut nadi kota ini, yang mengajarkan kepada kita tentang harapan yang tak boleh mati. 

text oleh: weslly johannes & theoresia rumthe.

Comments

Popular posts from this blog

Kegelisahan: musisi dan penikmat musik

Saya pernah menulis sebuah lirik berjudul “Tetanggaku Pergi ke Kota” yang kemudian dinyanyikan oleh Tetangga Pak Gesang, duo musisi indie yang berasal dari Bandung. Mereka adalah Arum Dayu dan Meicy Sitorus, yang aslinya adalah penggiat foto dan dua teman baik saya.  Sampai saat ini, album mereka sementara dikerjakan secara gerilya. Memang belum ada hasil yang bisa didengarkan secara fisik, baik itu berupa CD, kaset, maupun vinyl yang sedang menjamur akhir-akhir ini. Tetapi lagu-lagu mereka dapat didengarkan di soundcloud.  Produktivitas meng-aransemen lagu-lagu lama dan mencipta lagu-lagu baru, kemudian diakui oleh beberapa musisi besar seperti Slank dan Efek Rumah Kaca. Yang pada akhirnya mengajak mereka untuk berkolaborasi di satu panggung.  Yang ingin saya bahas di sini adalah bukan secara spesifik menyangkut Tetangga Pak Gesang tetapi sepenggal lirik yang saya tulis di dalam lagu Tetanggaku Pergi ke Kota:  kita tak perlu ke kota, kita kan membuat kot

Tunjukkan Apa yang Kita Cintai Dari Atas Panggung

GRIZZLY CLUIVERT NAHUSULY mulai menyayangi Hip Hop sejak ia masih duduk di kelas tiga SMP. Di tengah-tengah pencarian jati dirinya, Icy, begitu ia disapa, menemukan Hip Hop. Ia merasa tidak hanya menemukan apa yang selama ini ia gemari, ia justru menemukan dirinya sendiri. "Saya sempat gabung di dalam paduan suara, dan kemudian saya temukan satu warna, yang rasanya saya banget , karena musiknya tidak terlalu mengandalkan suara yang merdu. Akhir 2010, saya tertarik, dan mulai mengikuti sebuah lomba namanya, BKKBN rap contest ." Icy memulai ceritanya pada satu petang yang syahdu sambil menyeruput kopi hitam. Dengan bekal binaan Hanny Wattimena (Hanny, seorang musisi Hip Hop 90-an), Hanny mendedikasikan waktunya untuk mengajar vokal, penguasaan panggung, dan bagaimana berinteraksi di panggung. "Jam latihan kami waktu itu, biasanya jam 9 malam ke atas. Sejak saat itulah kecintaan saya terhadap Hip Hop mulai menjadi-jadi. Saya merasa bisa berekspresi

Puisi Memberikan Jalan Untuk Menyembuhkan Diri

“Puisi mampu membantu beta memberikan jalan untuk menyembuhkan diri sendiri sebab manusia pada dasarnya ‘berpenyakitan’ betul bukan? Puisi benar-benar jadi obat di kala itu,” ujar Chalvin. Chalvin Papilaya satu dari sekian banyak anak muda yang mencintai puisi, dan punya semacam keyakinan kecil, puisi dapat menyembuhkan. Pada tahun 2016, ia terpilih sebagai salah seorang “emerging writer” yang berangkat ke Makassar International Writers Festival. Bersama beberapa kawan lainnya yang juga berasal dari timur Indonesia, mereka menerbitkan sajak dan cerita pendek, dengan tajuk “Dari Timur 2” yang diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama. Chalvin katakan, “Puisi adalah pergulatan kecemasan terhadap tanda-tanda yang ada di luar diri penyair maupun di dalam dirinya sendiri—puisi bukanlah sekadar susunan kata-kata belaka.” Ungkapan ini, kemudian mengantar Chalvin untuk menerbitkan buku puisinya sendiri pada tahun 2019, berjudul “Mokolo”. “Mokolo adalah kata