Edisi Pulang Kampung Yamtel [Bag. 2]







Untuk menuju ke Yamtel, kai harus menyeberang melalui pelabuhan kapal cepat, Tual. Ketika musim akhir tahun saat ini, sepertinya kita harus berani mengantri tiket kapal cepat. Karena begitu banyak orang yang hendak pulang ke Kampung. 


Pemandangan lainnya dari Pelabuhan Kapal Cepat, Tual. Waktu yang dipakai untuk menyeberang dari Pelabuhan Tual ke Pelabuhan Elat adalah kurang lebih sekitar satu jam dan tiga puluh menit. Yang perlu dipersiapkan lainnya ketika hendak menyeberang dan tidak tahan ombak, maka harus mempersiapkan obat pusing. 





Yamtel atau Jamtel. Terdiri atas dua kata yaitu: Yam dan Tel. Menurut ayah saya, Yam adalah Rahamyam atau persekutuan keluarga. Tel artinya tiga, tiga tungku, karena berasal dari tiga persekutuan keluarga: Yamtel, Waurtahait, dan Ohoinangan. 



Pemandangan dari depan kampung Yamtel. Kakak Perempuan dari ayah saya, biasanya saya sapa dengan Bong bercerita bahwa, dulunya, hanya ada pasir putih panjang sepanjag pantai, dan saat ini, karena ombak maka pasir putih panjang itu telah bergeser, dan diganti dengan batu-batu yang terlihat di dalam gambar. 



Bong juga bercerita bahwa sunrise dari depan Kampug Yamtel adalah yang paling terbaik. Saya sendiri tidak percaya. Tetapi saya membuktikannya dengan bangun pagi waktu itu dan berjalan ke pantai. Dari rumah ke pantai hanya berjarak sekitar lima belas langkah. Foto ini diambil sekitar pukul setengah enam pagi. Ketika itu semburat jingga dari matahari telah memenuhi laut dan sekitarnya. Tidak lama kemudian, saya menyaksikan pemandangan matahari bulat sempurna yang muncul dari permukaan laut. 


Ini adalah pemandangan dari Kampung Waurtahait. Waur adalah nama sebuah kampung. Sedangkan Tahait artinya adalah lautan. Jadi jika diartikan Waurtahait adalah kampung yang terletak di dekat lautan. Ibu dari Ayah kami, alias Nenek saya, berasal dari kampung ini. 


Ayah saya dan Kakak Perempuannya (Bong) lahir, tumbuh, dan besar di Yamtel. Sebelum akhirnya mereka memutuskan untuk merantau ke Ambon untuk bersekolah kemudian menikah. Saya belajar banyak sekali nilai baik dari kedua orang ini, yaitu seumur hidup saya melihat mereka saling sayang. Hingga Ayah saya menikah dengan Ibu, Bong selalu memasak makanan kesukaan Ayah. 


Suatu hari nanti, saya pasti kembali ke Yamtel lagi. 


Dan menikmati matahari bulat sempurna di sana. 

Comments