Ambon Manise : The Island of Dew





sumber http://www.geheugenvannederland.nl/




Bukan dari kata ‘amboi’. Amboina memang sebutan lain untuk pulau Ambon. Orang Ambon mengenal pulau tersebut dengan nama Nusa Apono. Orang-orang Portugis menyebut benteng yang mereka bangun di Pantai Hunipopu dan keramaian sekitarnya dengan nama Cidade de Amboyno, sebuah kota di pulau Amboina. 

Di dalam kamus karya William Marsden, A Dictionary of the Malayan Language, umbun (dew) adalah sebutan bangsa Eropa untuk pulau Ambon, "The island of dew". Ambon berasal dari kata embun; ambun; juga apon dalam bahasa melayu (Geographical Dictionary Of The World In The Early 20th Century). Pulau yang tidak jarang diselimuti kabut ini pada waktu pagi selalu meninggalkan tanah basah dan menebar embun di daun pepohonan juga rumput liar. 

Fakta-fakta itu direkam dalam lirik-lirik lagu, seperti "kamu-kamu (kabut) meliputi gunung Sirimau, bungkus pohon dan rumput-rumput meskipun siang", juga "Beta naik, naik di kereta/ takut ombong (embun) basah bet pung kaki”, dan lagu-lagu lainnya. Seumpama setitik embun, begitulah pulau Ambon di bentangan atlas dunia. Pulau kecil dengan teluk yang kaya dan menawan juga yang mendunia dalam sejarah. 

Batu pertama bagi pembangunan benteng Portugis yang diletakkan oleh Sancho de Vasconselos menjadi seumpama benih yang nanti tumbuh sebagai sebuah kota. Benteng yang diberi nama Nossa Senhora da Anunciada itu, oleh penduduk setempat, disebut Kota Laha; sebuah benteng yang terletak di teluk. 

Dari situlah kisah sebuah kota dimulai. Ambon berkembang dan menjadi pusat pemerintahan; menjadi bandar yang ramai. Kota yang mempertemukan bukan saja manusia, tetapi budaya bangsa-bangsa: bahasa, agama, dan gaya hidup; selain itu menjadi singgahan para pelancong dengan berbagai kepentingan. 

Alfred Rusell Wallace pernah singgah di Ambon. Dalam buku The Malay Archipelago, ia menggambarkan kota Ambon demikian: 

Kota Amboina memiliki beberapa jalan di mana aktivitas dagang berlangsung dan sejumlah jalan lain yang kedua sisinya dipagari oleh rumput-rumput berbunga. Terhampar rumah-rumah penduduk dan pohon palem juga pohon buah-buahan seperti menyembul. Lembah dan gunung-gunung hampir di segala arah, dan terdapat beberapa tempat yang indah untuk dinikmati dengan berjalan kaki pagi-pagi atau sore hari, jalan-jalan berpasir dan jalur teduh di pinggiran kota kuno Amboina.”

Tentang orang-orang yang berdiam di sekitar benteng Kota Laha, ia menulis, “Orang-orang Ambon yang tinggal di kota adalah orang-orang yang agak beradab, sedikit malas, yang kelihatannya merupakan percampuran tiga ras: Portugis, Melayu, dan Papua atau Seram, dan beberapa berdarah campuran Cina atau Belanda.”

Selain, Wallace, Rumphius dan Valentijn juga mencatat banyak hal tentang Ambon. Tak jarang hal-hal yang mengagumkan, yakni kekayaan dan keindahan pulau ini dan bahkan ketakjuban kepada yang mesterius dari alam pulau Ambon. Rumphius menulis, “Negeri ini memiliki banyak rahasia alam yang tidak diketahui oleh orang Eropa dan yang seringkali sulit untuk dipercayai kebenarannya.”

Bukan hanya kekayaan dan keindahan alam saja, harmoni kehidupan yang terwujud dalam relasi orang basudara, keindahan paras dan perangai manusianya juga menjadikan Ambon begitu berkesan bagi banyak orang. Kota dengan sejarah yang berkabut asap mesiu dan darah ini tidak hanya mengandung kepahitan, ada tak terhitung banyaknya kesederhanaan yang indah; kenangan-kenangan yang manis. 

Dari kesan begitu banyak orang, baik pelancong maupun orang Maluku sendiri, lahirlah puja-puji bagi kota ini, kota yang manis: Ambon Manise. Kata 'manise' bukanlah sebuah akronim (maju, aman, nyaman, indah, sehat, sejahtera) sebagaimana anggapan beberapa kalangan. Akronim itu terbilang baru. Pada masa kepemimpinan Walikota Kol (purn.) J. D. Wattimena (1986-1991) diciptakan untuk kepentingan menata kota yang pada akhirnya dianugerahi penghargaan Adipura.

Semenjak VOC, kongsi dagang multinasional itu, beroperasi di Maluku dan memperkenalkan bahasa Melayu sebagai lingua franca, semenjak itulah kata manise digunakan. Manise adalah kata yang sama umurnya dengan bahasa melayu Ambon. Berasal dari kata manis, namun telah digunakan dalam aksen, muatan makna yang luas dan rasa bahasa yang khas Ambon. 

Manise digunakan untuk menyanjung atau memuja keindahan. Keindahan yang tidak hanya terbatas pada yang fisik: alam tropis, biru laut, pantai-pantai pasir putih, senja yang memesona, dan nona-nona Ambon, tetapi juga keindahan-keindahan yang tersembunyi, namun dapat dirasakan ada di dalam kehidupan bersama: kesetiaan, kebaikan hati, hidup baku sayang.

Puja-puji kepada keindahan-keindahan yang dirasakan dalam kehidupan di Ambon diungkapkan mula-mula dari bibir ke bibir oleh orang-orang, baik penduduk maupun para pelancong, lalu abadi di dalam lagu-lagu. Lagu-lagu yang sarat cinta dan kerinduan.

Sudah Berlayar; sebuah lagu yang haru, menyanjung Ambon sebagai "tanah yang manis." Sementara pencipta lagu “Beta Berlayar Jauh” menyandingkan dengan mesra kota Ambon dengan kata manise. "Ambon manis,  Ambon manis, Ambon manise/ Ambon manis, Ambon manis,  manis lawang e", demikian sepenggal liriknya. Sebuah puja-puji yang sarat kerinduan dan keharuan. Lagu-lagu tempo dulu yang dinyanyikan dan terus dinyanyikan hingga hari ini. 

Manise bukan akronim, bukan slogan, melainkan ungkapan padat atas suatu kenyataan yang mengandung banyak hal: jiwa sebuah kota; sejarahnya yang kelam, ingatan dan kenangan manis, keindahan, rasa cinta dan kerinduan, juga harmoni dari merdunya lagu-lagu dan sebuah kehidupan.

text: weslly johannes. 


Comments