Skip to main content

Posts

Showing posts from 2016

Tempat Paling Liar Di Muka Bumi : Qubeland 2016

Sorasoca adalah sebuah gerakan literasi di kota Bandung yang menjadi salah satu 'qube' di Qubicle (@qubicle_id). Kabar-kabar menyenangkan dan menggugah dapat dibaca pada lamannya. Kami beruntung sekali diberi ruang dan kesempatan untuk memperkenalkan hal-hal yang kami cintai dan sedang kami kerjakan: live poem dan musikalisasi puisi di #Qubeland2016.
Panggung Qubeland 2016 adalah perayaan kreativitas sekaligus ruang berinteraksi, berbagi, dan belajar yang diinisiasi oleh Qubicle dan qube-qube kerennya. Kreativitas yang sangat beragam dihadirkan dalam satu ruang-waktu. Qubeland 2016 adalah panggung pertama kami di Jakarta. Di sana empat puisi dari buku 'Tempat Paling Liar di Muka Bumi' kami nyanyikan. 'Mencintaimu dari Jauh' dan 'Jangan Berani' adalah dua judul yang dimusikalisasi oleh Fis Project (duo Ferdy Karel Soukotta dan Chrisema R Latuheru).


Musikalisasi puisi adalah kesenangan. Godaan untuk melakukannya jarang bisa ditolak. Bagi kami, puisi adalah …

Tempat Paling Liar di Muka Bumi : Jogjakarta

tempat paling liar di jogjakarta yang berlokasi di jalan raya seturan




Jumat, 18 November 2016. Hari itu kembali diguyur hujan. Kami tidak tahu mengapa setiap kali kami hendak membuat peluncuran Tempat Paling Liar di Muka Bumi selalu saja hujan datang menemani. Mungkin sudah nasibnya begitu.
Tergopoh-gopoh dari Salatiga, kami menumpangi bis jurusan Solo. Memasuki Solo, kaca jendela bis yang kami tumpangi pecah. Usut punya usut, kaca jendela tersebut pecah dikarenakan terkena lontaran batu dari laju kendaraan dari sisi jalan yang lain. Bis sempat berhenti karena ada satu penumpang yang berdarah dan harus mengurusi ke pihak kepolisian. Untunglah ketika kami diturunkan, kami tinggal menyeberang untuk naik bis lainnya ke arah Jogjakarta.
Drama bis belum usai. Kali ini bis jurusan Jogjakarta yang kami tumpangi pun memiliki kondisi yang lumayan reyot. Kekhawatiran kami pun menjadi kenyataan, persis di depan Prambanan, bis yang kami tumpangi pun mogok dengan sukses. Kami lalu mencari akal supay…

#SeniBeta Perhelatan Seni Jalanan yang Terancam Dibubarkan

Pada Sabtu tanggal 12 November kemarin ada kerumunan besar yang terjadi di depan trotoar Hotel Mutiara. Pasalnya di hari itu sebuah perhelatan bertajuk #SeniBeta diselenggarakan di sana. Inisiator utama dari acara ini adalah Glenn Fredly bersama Ruma Beta. Tim Kreatif kecil-kecilan yang dibentuk: Sierra Latupeirissa, Pierre Ajawaila, dan Debra Soplantila (kawan-kawan Paparisa Ambon Bergerak) berhasil menghimpun pengisi acara untuk tampil di malam itu.
Deretan nama-nama penampil seperti: Dalenz & Friends, CN9 Band, General Expo Band, One Story Band, Pasir Putih Band, Ikan Asar Band, JP Band, Softeast Band adalah nama-nama yang sudah tidak asing lagi di telinga masyarakat penikmat musik di kota Ambon. Selain itu Eros YAKUZA dan Filasz Inmiasa mewakili komunitas hip-hop. Tidak lupa Manumata, adik-adik rapper cilik yang berhasil memecahkan panggung malam itu pun turut serta. Diramaikan juga oleh Marthen Reasoa yang membaca dua buah puisi. HLND Dancer dengan gerakan-gerakan enerjik keti…

Kalawai Rap Crew : Maluku itu, Kita Cinta Ngana!

foto dok. kalawai




Di tengah kasak-kusuk yang beredar dibalik pencanangan Ambon sebagai kota Musik Dunia. Diam-diam Kalawai Rap Crew, grup hip-hop yang berasal dari Halmahera, Maluku Utara, berangkat ke Ubud Writers and Festival (UWRF 2016) dan berbagi tentang perdamaian melalui musik mereka. Dua sesi yang mereka isi adalah, sesi performance, dimana mereka membawakan sekitar delapan buah lagu ciptaan mereka sendiri. Dan yang ke dua adalah sesi bicara di Main Programme UWRF 2016 dengan tema Make Art Not War. Di sesi kedua ini Kalawai Rap Crew tidak sendirian, bersama dengan Bri Lee, seorang aktivis perempuan dari Jerman dan The Brothahood, grup hip-hop Muslim asal Australia. Tanpa tedeng aling-aling mereka menyuarakan perdamaian.
Seperti tombak yang menancap tepat pada sasaran. Demikian nama adalah doa. Terbentuk di Salatiga, 28 Agustus 2012. Warung pisang goreng di pojok kota Salatiga yang menjadi saksi ketika Sony, Victor (Tox), Deny, dan Melky kemudian berembuk untuk membuat sebuah gr…

Kurang Kerjaan Project : Maluku itu Identitas, Harmoni, dan Manis

Mari berkenalan dengan Kurang Kerjaan Project. Grup akustik perpaduan Maluku dan Kupang yang bertemu di Salatiga. Digawangi oleh Johannes Latuny (Anes), Olivia Tuhumena (Oliv), Frellian Tuhumury (Ian), Hendrik Boro (Endik), Wanly Bia, dan Hanny Tuhuteru. Mereka pun ikut menghibur penonton yang hadir pada acara Tempat Paling Liar di Salatiga dengan lagu-lagu mereka yang syahdu.
Kurang Kerjaan Project terbentuk dua tahun lalu. Lahir begitu saja bersamaan dengan lagu Bersama Malam. Bersama Malam tercipta ketika Anes, Endik, dan Michael Metekohy (Mike, salah satu teman) sedang bersantai di halaman kos. Suasana kos pada waktu itu sedang mati lampu dan sambil membuat api unggun di halaman kos dan menikmati bulan purnama di atas kepala. Lalu ide awal nama Kurang Kerjaan tercetus begitu saja oleh Mike. Sejak saat itu Kurang Kerjaan Project lalu mengajak beberapa teman lagi untuk bergabung dan memulai panggung pertama mereka.
Beberapa kali mereka terima undangan manggung di food court atau per…

Tempat Paling Liar Di Muka Bumi : Salatiga

menampilkan rumah ombak 


Salatiga tetap kota yang menyenangkan meski beberapa hari belakangan kerap bertabur gerimis. Kota yang ramah ini tidak sepi dari gerilya-gerilya seni. Membawa buku kami, Tempat Paling Liar Di Muka Bumi, ke kota ini adalah sebuah pengalaman baru yang menggairahkan. Kami disambut dengan hangat oleh kawan-kawan asal Maluku yang sementara belajar sambil mengerjakan seni dan hal-hal kecintaan mereka di Salatiga.
Rabu malam di kampus Universitas Kristen Satya Wacana kami berjumpa dengan Gracia Miranda Matruty, Minondhy Kastanya, Big Greogory, Ramli Tomagola, Endik Boro, Hanny Tuhuteru, dan Beryl Syahailatua. Mereka dengan senang hati mau merayakan Tempat Paling Liar Di Muka Bumi bersama kami.
terima kasih kawan-kawan
Hujan yang turun sejak pagi perlahan berhenti. Pukul lima sore kami tiba diFifty/Fifty Coffee Shop milik Bram dan Wawan yang terletak di jalan Imam Bonjol 31. Dimas dan kawan-kawan telah menata ruangan sedemikian rupa untuk acara yang akan berlangsung satu …

Fis Project : Maluku itu Cinta, Negeri, dan Masa Depan

foto oleh juan belegur


Duet pasangan kekasih Ferdy Soukotta dan Chrisema Latuheru ini cukup menggemaskan. Tidak hanya jagoan bermain musik namun mereka juga mengkolaborasikan gitar dan biola sehingga menghasilkan bunyi yang apik. Di malam Tempat Paling Liar di Muka Bumi : Salatiga, mereka tidak hanya berbagi tentang musik mereka tetapi juga berbagi tentang perjalanan cinta dan karya-karya yang kemudian dihasilkan seiiring dengan perjalanan cinta mereka.
“Fis Project ini lahir karena musik ini menyatukan kita. Kita berdua punya kecintaan yang sama.” Ujar Ferdy ketika ditanya tentang bagaimana awalnya Fis Project lahir. Selain itu Fis Project juga adalah proyek yang dibentuk supaya ‘kisah cinta’ mereka pun dapat diterima oleh keluarga. Berbekal semangat untuk menebarkan cinta lewat setiap karya yang dibuat mereka percaya bahwa dengan cinta tembok sebesar apapun dapat mereka tembus.

Setahun sudah Fis Project berjalan dan diawali dengan meng-cover lagu-lagu orang lain sampai akhirnya lagu …

Teru; hiduplah mantra-mantra

moro; salah satu judul lagu dalam album teru karya morika tetelepta





MORIKA TETELEPTA akan meluncurkan album solo perdananya, Teru:solum, voda un aria. “Teru berasal dari bahasa tana (sebutan untuk bahasa-bahasa asli di Maluku) yang berarti tiga. Tiga yang dimaksud,” menurut Morika, “adalah tanah, air dan udara; unsur dominan yang direkam sebagai bunyi dalam lagu-lagu di album ini.” Kekuatan besar yang menggerakannya untuk menggarap album ini adalah rasa cintanya yang penuh kepada musik dan semesta; tanah, air, dan udara yang tak lain adalah dirinya. Dalam pergerakan Hip-hop di Maluku, Morika Tetelepta bukanlah nama yang asing. Sejak 2008 bersama kawan-kawan rapper, DJ, dan dancer, ia membangun Molukka Hip-Hop Community. Gerilyanya bersama MHC berhasil membuat pundi-pundi musik Maluku diperkaya dengan satu genre musik yang belum pernah digarap sebelumnya, dan kepada anak-anak muda: sebuah pilihan bermusik yang baru. Gerilya Morika dan MHC berdampak besar. Hip-hop di mana-mana; Ambon, Sera…

Selamat Datang di “Tempat Paling Liar Di Muka Bumi”

Bandung, 2 Oktober 2016 – Sejak jam dua belas, bulir-bulir hujan menciumi kota kembang. Tetapi seperti takdirnya, hujan tak bisa menghentikan cinta; lalu lalang kendaraan di jalanan, orang-orang masih saja bekerja untuk hidup yang dicintai: orang tua kepada anak, anak kepada orang tua, orang-orang muda kepada kecintaannya. Bandung tak sunyi, walau hujan ramai sekali.
Jam dua siang, hujan baru reda. Saya dan Weslly bergerak meninggalkan tempat nongkrong kami, Senemu Coffee, menuju Daily Routine Coffee untuk mempersiapkan peluncuran, “Tempat Paling Liar Di Muka Bumi.” Kami tiba di halaman rumah Zaky Yamani dan Reita Ariyanti yang luas dan asri. Beberapa meja mulai diletakkan dan kursi-kursi mengelilinginya.



Tiga minggu sebelumnya, Aki dan Ucok sudah menyetujui perayaan “Selamat Datang di Tempat Paling Liar Di Muka Bumi” dilakukan di Daily Routine Coffee. Kami beruntung sekali masih dipertemukan dengan kawan-kawan seperti di Daily Routine Coffee yang menyediakan tempat sebagus itu dengan …