Skip to main content

Sebuah Catatan Hangat dari Redaksi







Some people say there's nothing new under the sun. I still think that there's room to create, you know. And intuition doesn't necessarily come from under this sun. It comes from within. - Pharrell Williams



Beberapa bulan sudah saya menjadi Ibu untuk Molucca Project. Rasanya banyak sekali pengalaman baru. Molucca Project yang tadinya bayi merah, sekarang sudah mulai bertumbuh. Saya menyaksikan pertumbuhannya yang pelan setiap hari. Saya belajar untuk merawatnya dengan hati. 

Merawat konten, mengurus merchandise, mengurus media sosial, megurus pemesanan (membalas email-email) sampai mengurus pengiriman barang, sampai memikirkan untuk membuat project-project kecil lainnya untuk Molucca Project. Lumayan menguras tenaga, menyita waktu, dan terkadang harus menunda produksi dikarenakan antrian yang cukup panjang.

Saya bukan tahun pertama di dunia blog. Tetapi harus saya akui, ketika mengerjakan Molucca Project, tidaklah mudah. Ada perbedaan yang cukup besar ketika mengerjakan www.perempuansore.blogspot.co.id dan www.moluccaproject.com di perempuansore, saya banyak mengumpulkan keresahan-keresahan yang sifatnya pribadi. Tetapi ketika mengerjakan Molucca Project, saya belajar mengumpulkan kekuatan-kekuatan. 

Saya selalu ingat, ketika memulai Molucca Project, itu bukan atas dasar untuk memuaskan siapa-siapa. Saya ingat memulainya dengan sebuah energi: mengedukasi dan mewadahi. Syukur-syukur sambil berjalannya project ini, saya belajar menjadi pengusaha kecil-kecilan. Tapi saya selalu kembali ke visi. Saya selalu kembali ke jiwa. 

Visi awalnya: mengangkat Maluku melalui merchandise. Tetapi ketika berjalan saya selalu memperkenalkan visi Molucca Project, kepada setiap orang yang saya wawancarai, walaupun hanya melalui email, yaitu: sebuah web yang concern terhadap perkembangan sumber daya manusia Maluku dalam hal passion, kreatif, musik, pariwisata, dan lainnya. Semoga web ini bisa membawa kabar baik dan memberikan inspirasi kepada anak muda Maluku dimanapun mereka berada untuk dapat terus berkarya.   

Hal ini saya lakukan dengan sebuah kesadaran. Bahwa pada saat ini saya tidak hanya mengumpulkan kekuatan dari setiap orang yang ditampilkan di www.moluccaproject.com bahwa ada orang-orang yang hidup dengan autentik, memaksimalkan potensi mereka, berani mati untuk keyakinan keyakinan mereka. Mereka bisa jadi hanya orang-orang sederhana saja. 

Lalu setelah saya pikir-pikir lagi, itu adalah jiwa dari Molucca Project yang sebenarnya. Untuk itulah Molucca Project lahir: membawa kabar baik, mengedukasi, dan memprovokasi. Beberapa project kecil akan lahir dari Molucca Project, silakan nantikan saja. 

Karena kami membawa kabar baik, saya yakin kamu akan senang mendengarnya. Dan yang ini akan selalu menjadi doa saya, semoga teman-teman bisa kenal Maluku lebih baik, bahwa Indonesia bukan hanya Jakarta, tapi juga Maluku dan pulau pulau lainnya. 



salam hangat, 

ibu-redaksi. 

Comments

Popular posts from this blog

Kegelisahan: musisi dan penikmat musik

Saya pernah menulis sebuah lirik berjudul “Tetanggaku Pergi ke Kota” yang kemudian dinyanyikan oleh Tetangga Pak Gesang, duo musisi indie yang berasal dari Bandung. Mereka adalah Arum Dayu dan Meicy Sitorus, yang aslinya adalah penggiat foto dan dua teman baik saya.  Sampai saat ini, album mereka sementara dikerjakan secara gerilya. Memang belum ada hasil yang bisa didengarkan secara fisik, baik itu berupa CD, kaset, maupun vinyl yang sedang menjamur akhir-akhir ini. Tetapi lagu-lagu mereka dapat didengarkan di soundcloud.  Produktivitas meng-aransemen lagu-lagu lama dan mencipta lagu-lagu baru, kemudian diakui oleh beberapa musisi besar seperti Slank dan Efek Rumah Kaca. Yang pada akhirnya mengajak mereka untuk berkolaborasi di satu panggung.  Yang ingin saya bahas di sini adalah bukan secara spesifik menyangkut Tetangga Pak Gesang tetapi sepenggal lirik yang saya tulis di dalam lagu Tetanggaku Pergi ke Kota:  kita tak perlu ke kota, kita kan membuat kot

Tunjukkan Apa yang Kita Cintai Dari Atas Panggung

GRIZZLY CLUIVERT NAHUSULY mulai menyayangi Hip Hop sejak ia masih duduk di kelas tiga SMP. Di tengah-tengah pencarian jati dirinya, Icy, begitu ia disapa, menemukan Hip Hop. Ia merasa tidak hanya menemukan apa yang selama ini ia gemari, ia justru menemukan dirinya sendiri. "Saya sempat gabung di dalam paduan suara, dan kemudian saya temukan satu warna, yang rasanya saya banget , karena musiknya tidak terlalu mengandalkan suara yang merdu. Akhir 2010, saya tertarik, dan mulai mengikuti sebuah lomba namanya, BKKBN rap contest ." Icy memulai ceritanya pada satu petang yang syahdu sambil menyeruput kopi hitam. Dengan bekal binaan Hanny Wattimena (Hanny, seorang musisi Hip Hop 90-an), Hanny mendedikasikan waktunya untuk mengajar vokal, penguasaan panggung, dan bagaimana berinteraksi di panggung. "Jam latihan kami waktu itu, biasanya jam 9 malam ke atas. Sejak saat itulah kecintaan saya terhadap Hip Hop mulai menjadi-jadi. Saya merasa bisa berekspresi

Puisi Memberikan Jalan Untuk Menyembuhkan Diri

“Puisi mampu membantu beta memberikan jalan untuk menyembuhkan diri sendiri sebab manusia pada dasarnya ‘berpenyakitan’ betul bukan? Puisi benar-benar jadi obat di kala itu,” ujar Chalvin. Chalvin Papilaya satu dari sekian banyak anak muda yang mencintai puisi, dan punya semacam keyakinan kecil, puisi dapat menyembuhkan. Pada tahun 2016, ia terpilih sebagai salah seorang “emerging writer” yang berangkat ke Makassar International Writers Festival. Bersama beberapa kawan lainnya yang juga berasal dari timur Indonesia, mereka menerbitkan sajak dan cerita pendek, dengan tajuk “Dari Timur 2” yang diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama. Chalvin katakan, “Puisi adalah pergulatan kecemasan terhadap tanda-tanda yang ada di luar diri penyair maupun di dalam dirinya sendiri—puisi bukanlah sekadar susunan kata-kata belaka.” Ungkapan ini, kemudian mengantar Chalvin untuk menerbitkan buku puisinya sendiri pada tahun 2019, berjudul “Mokolo”. “Mokolo adalah kata