Skip to main content

Barry Likumahuwa : Maluku itu Soul, Music, Groove




pic. google


Apa sih sebenarnya yang jadi passion kamu? 

MUSIK.

Menurut kamu penting nggak sih jika anak muda harus punya passion? 

Penting banget. Karena menurut saya passion sangat berhubungan dengan purpose, tidak mungkin kita diciptakan tanpa maksud, pasti Tuhan memiliki rencana untuk hidup kita agar berfungsi dengan baik di dunia. Saat kita mengejar passion kita, berarti kita sedang menjalani destiny & purpose kita diciptakan di dunia ini oleh TUHAN.

Kamu bermusik (bassist) sejak kapan kamu mulai dan kamu banyak sekali terlibat dalam project-project, ceritakan sedikit tentang mereka? 

Bermusik secara profesional di umur 17 tahun, umur 20 tahun diajak bergabung sebagai pengiring Glenn Fredly, berlangsung selama 4 tahun dari 2003-2007. Di 2006 diajak ikut serta di album kompilasi Bass Heroes keluaran Sony BMG. Itu boleh dibilang sebagai awal karir solo, lalu 2008 secara official rilis album solo perdana "Goodspell" di bawah label indie 4th Monkey. 2011 rilis album pertama dengan BLP "Generasi Synergy". Ada juga project lain bareng Ivan Saba dengan nama HOOK. Setelah itu mulai banyak berkolaborasi, baik secara lokal maupun internasional, nama-nama seperti Indra Lesmana, Fariz RM, Erwin Gutawa, Dwiki Dharmawan, Jeremy Tordjman (French), Ezra Brown (USA) dll. 

Ada tidak suka duka di balik perjalanan kamu menjadi seorang bassist, ada hal lain lagi yang pingin kamu capai dalam beberapa tahun kedepan? Pernahkah berpikir untuk bekerja formal (kantoran)? 

Hampir semuanya suka, dukanya lebih di edukasi ke masyarakat bahwa leader sebuah band tidak selalu vokalis, tapi bisa juga bassist. Hal yang ingin di capai adalah mengenalkan Barry Likumahuwa yang bukan hanya sekedar musisi tapi juga produser.
Kantoran? TIDAK. 

Apa pendapat kamu tentang "membangun Maluku" atau "membangun kampung halaman"?

Bisa diartikan secara harafiah, tapi bagi saya saat kita mempertahankan budayanya dan memperkenalkan Maluku sendiri kepada banyak orang melalui talenta kita adalah sebuah bentuk "membangun". Mengapa? Karena kita bisa menginspirasi teman-teman di daerah untuk mau berjuang dan bergerak maju dalam karya & kreativitas.


Bagaimana pendapat kamu tentang anak muda Maluku pada saat ini? 

Bulan maret 2015 saya menyempatkan diri hadir di sebuah kafe kecil di kota Ambon di daerah Urimessing. Sampai detik ini saya masih shock mengingat betapa berbakatnya teman-teman musisi yang mengisi di sana. Mereka mungkin tidak mengerti secara teoritis apa yang mereka mainkan, tapi musik yang mereka hadirkan sangat indah dan luar biasa groove! Waktunya anak-anak muda Ambon membuktikan bahwa kota itu memang layak diberi predikat "city of music", karena kemampuan dan bakat anak-anak muda Maluku!

Tempat favorit kamu kalau sedang liburan ke Maluku ( berada di kota Ambon) dan kenapa? 

Natsepa, Liang & Maples.
Natsepa karena pantai & rujaknya, Liang karena keindahan pantainya. Maples? Karena musik yang dimainkan anak-anak mudanya secara live!

Siapa inspirasi terbesar buat kamu? 

Yesus Kristus, Benny Likumahuwa.

Apa harapan kamu terhadap Maluku? 

Maluku secara keseluruhan bisa menjadi objek wisata nomor satu di Indonesia, anak mudanya bisa tampil & menjadi pemimpin-pemimpin negeri ini dalam hal kreatifitas.

Comments

Popular posts from this blog

Puisi Memberikan Jalan Untuk Menyembuhkan Diri

“Puisi mampu membantu beta memberikan jalan untuk menyembuhkan diri sendiri sebab manusia pada dasarnya ‘berpenyakitan’ betul bukan? Puisi benar-benar jadi obat di kala itu,” ujar Chalvin. Chalvin Papilaya satu dari sekian banyak anak muda yang mencintai puisi, dan punya semacam keyakinan kecil, puisi dapat menyembuhkan.
Pada tahun 2016, ia terpilih sebagai salah seorang “emerging writer” yang berangkat ke Makassar International Writers Festival. Bersama beberapa kawan lainnya yang juga berasal dari timur Indonesia, mereka menerbitkan sajak dan cerita pendek, dengan tajuk “Dari Timur 2” yang diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama.
Chalvin katakan, “Puisi adalah pergulatan kecemasan terhadap tanda-tanda yang ada di luar diri penyair maupun di dalam dirinya sendiri—puisi bukanlah sekadar susunan kata-kata belaka.” Ungkapan ini, kemudian mengantar Chalvin untuk menerbitkan buku puisinya sendiri pada tahun 2019, berjudul “Mokolo”.



“Mokolo adalah kata sifat yang menggambarkan konteks per…

Tunjukkan Apa yang Kita Cintai Dari Atas Panggung

GRIZZLY CLUIVERT NAHUSULY mulai menyayangi Hip Hop sejak ia masih duduk di kelas tiga SMP. Di tengah-tengah pencarian jati dirinya, Icy, begitu ia disapa, menemukan Hip Hop. Ia merasa tidak hanya menemukan apa yang selama ini ia gemari, ia justru menemukan dirinya sendiri.
"Saya sempat gabung di dalam paduan suara, dan kemudian saya temukan satu warna, yang rasanya saya banget, karena musiknya tidak terlalu mengandalkan suara yang merdu. Akhir 2010, saya tertarik, dan mulai mengikuti sebuah lomba namanya, BKKBN rap contest." Icy memulai ceritanya pada satu petang yang syahdu sambil menyeruput kopi hitam.
Dengan bekal binaan Hanny Wattimena (Hanny, seorang musisi Hip Hop 90-an), Hanny mendedikasikan waktunya untuk mengajar vokal, penguasaan panggung, dan bagaimana berinteraksi di panggung.
"Jam latihan kami waktu itu, biasanya jam 9 malam ke atas. Sejak saat itulah kecintaan saya terhadap Hip Hop mulai menjadi-jadi. Saya merasa bisa berekspresi dengan sesuatu yang membua…

Kegelisahan: musisi dan penikmat musik

Saya pernah menulis sebuah lirik berjudul “Tetanggaku Pergi ke Kota” yang kemudian dinyanyikan oleh Tetangga Pak Gesang, duo musisi indie yang berasal dari Bandung. Mereka adalah Arum Dayu dan Meicy Sitorus, yang aslinya adalah penggiat foto dan dua teman baik saya. 
Sampai saat ini, album mereka sementara dikerjakan secara gerilya. Memang belum ada hasil yang bisa didengarkan secara fisik, baik itu berupa CD, kaset, maupun vinyl yang sedang menjamur akhir-akhir ini. Tetapi lagu-lagu mereka dapat didengarkan di soundcloud. 
Produktivitas meng-aransemen lagu-lagu lama dan mencipta lagu-lagu baru, kemudian diakui oleh beberapa musisi besar seperti Slank dan Efek Rumah Kaca. Yang pada akhirnya mengajak mereka untuk berkolaborasi di satu panggung. 
Yang ingin saya bahas di sini adalah bukan secara spesifik menyangkut Tetangga Pak Gesang tetapi sepenggal lirik yang saya tulis di dalam lagu Tetanggaku Pergi ke Kota: 
kita tak perlu ke kota, kita kan membuat kota.
Ketika menuliskan lirik tersebut…