Skip to main content

Rocky Tahapary : Jang Tunggu Beso!









Apa sih sebenarnya yang jadi passion kamu? 

Passion saya tentunya di dunia musik dan photography.

Menurut kamu penting nggak sih jika anak muda harus punya passion?

Passion itu menurut saya diibaratkan dengan penjiwaan artinya sesuatu yang kita lakukan tanpa adanya paksaan atau tekanan melainkan sesuatu yang dilakukan dengan kesenangan dengan jiwa dengan rasa memiliki yang tinggi. Passion tidak datang dari orang lain namun passion datang dari dalam diri masing - masing pribadi, dengan demikian menurut saya, passion sangatlah penting untuk anak muda, karena tentu ketika mereka telah mengetahui passion mereka dan dilakukan secara konsisten dan professional maka tentu hasil yang di dapat pun akan sangat sangat sangat maksimal. 

Kamu memotret, ceritakan soal memotret, biasanya objek apa yang paling menarik, lalu pernah berkolaborasi dengan siapa saja, dan karya foto kamu pernah dimuat dimana saja? 

Yes memotret sudah menjadi profesi saya. Sedikit tentang kisah saya untuk menjadi seorang photographer, background studi saya sebenarnya lulusan majoring of law di salah satu Universitas di Jakarta, kemudian sempat juga menyelesaikan pendidikan khusus untuk menjadi lawyer, namun singkat cerita 3 tahun yang lalu akhirnya saya beralih profesi ke passion saya yaitu menjadi seorang photographer. Puji Tuhan saat itu ada sedikit berkat akhirnya saya dapat mengambil studi singkat photography di Belanda. Saya sangat menikmati bidang saya yang satu ini dan akhirnya saya pun lulus dengan hasil yang memuaskan. Untuk menjadi seorang profesional photographer tentu saja setiap objek harus kita coba untuk difoto dan tidak pernah berhenti untuk menciptakan ide - ide baru atau teknik - teknik yang tentunya bisa juga terinspirasi dari photographer lain atau murni merupakan ide kita sendiri. Namun kalau untuk profesi, saya memotret fahion dan wedding. Untuk kolaborasi saya pernah dengan Megan Alter, salah satu perempuan  yang menurut saya sangat profesional dan hebat. Kemudian dengan Rob Schreuder, seorang profesional photographer interior dan fashion. 

Ada tidak suka duka di balik perjalanan kamu menjadi seorang fotografer? Ada hal lain lagi yang pingin kamu capai dalam beberapa tahun kedepan? Pernahkah berpikir untuk bekerja formal (kantoran)?

Tentunya ada suka duka, namun kembali lagi karena ini passion saya maka saya tetap menikmatinya saja.   Saya pernah per sekali foto dibayar dengan 2M, ini bukan 2 Milyar tapi MAKASIH MAS, hehe.  Pernah juga nasi kotak dan rokok sebungkus,  yah yang pasti semua itu bertahap sampai akhirnya, sekarang yah lumayan per sekali foto.  Akan tetapi walaupun sudah lumayan namun tetap aja ada tidak enaknya, pernah H-3 concert tunggal salah satu artis indonesia dan saya pun di cancel secara sepihak, yah apa boleh buat, banyak hal yang akhirnya menjadi pengalaman dan pembelajaran. Hal yang kepingin saya lakukan adalah pengen banget buat coffee shop and galery, jadi ibarat kata orang - orang sambil ngopi atau ngeteh tapi bisa juga sambil liat hasil foto jepretan saya sendiri.  


Apa pendapat kamu tentang "membangun Maluku" atau "membangun kampung halaman"?

Membangun Maluku atau membangun kampung  halaman itu sebenarnya harus menjadi cita-cita setiap anak-anak "kampung" itu sendiri, dulu ingin banget suatu saat ingin menjadi walikota, niatnya ingin membangun dan memacu kembali semangat kedaerahan kita untuk dapat maju dan bersaing dengan kota kota lain, akan tetapi mungkin itu hanya pemikiran saya yang keliru saja karena sebenarnya tidak perlu sampai menjadi seorang Walikota atau Gubernur untuk membangun Maluku. Namun konsep membangun maluku dengan sederhana ialah konsep membangun semangat anak - anak muda untuk tetap berkarya secara professional dengan tidak pernah malu dengan identitas kita.

Bagaimana pendapat kamu tentang anak muda Maluku pada saat ini?

Anak muda maluku saat ini menurut saya, sudah sangat sangat keren dari segi lifestyle, wawasan, dan hal-hal yang menyangkut pengembangan diri. 


salah satu jepretan karya Rocky. 

Tempat favorit kamu kalau sedang liburan ke Maluku (berada di kota Ambon) dan kenapa? 

Pantai Liang dengan keindahan gradasi warna lautnya. Natsepa dengan rujak dan pasir pantai yang halus.  Santai beach dan kemudian pesisir Liliboi, Hatu, Alang dengan batu batuan pantai yang keren banget, dan masih sangat banyak tempat - tempat yang lebih bagus di Maluku. Kemudian sore menjelang malam, saya biasanya ke cafe tradisional untuk kopi susu dan ubi ubian khas daerah yang enak banget. 

Siapa inspirasi terbesar buat kamu? 

Orang tua saya, mereka penuh spirit, mereka pejuang tunggal, dan penuh hal-hal yang selalu membuat saya ingin belajar, belajar, dan belajar. 

Apa harapan kamu terhadap Maluku? 

Apa yang bisa kita buat hari ini buat membangun maluku, mari kita buat dan jangan ditunda. Mari kita membangun bersama-sama dan bukan sendiri - sendiri. 

--
check Instagram : @rockyarthur 

Comments

  1. Thanks Moluccaproject, thanks usi Theo sukses terus ...

    ReplyDelete
  2. Kaka mantap fokus pastikan ortu bangga, bangga, dan bangga pynya ROCKY

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Kegelisahan: musisi dan penikmat musik

Saya pernah menulis sebuah lirik berjudul “Tetanggaku Pergi ke Kota” yang kemudian dinyanyikan oleh Tetangga Pak Gesang, duo musisi indie yang berasal dari Bandung. Mereka adalah Arum Dayu dan Meicy Sitorus, yang aslinya adalah penggiat foto dan dua teman baik saya. 
Sampai saat ini, album mereka sementara dikerjakan secara gerilya. Memang belum ada hasil yang bisa didengarkan secara fisik, baik itu berupa CD, kaset, maupun vinyl yang sedang menjamur akhir-akhir ini. Tetapi lagu-lagu mereka dapat didengarkan di soundcloud. 
Produktivitas meng-aransemen lagu-lagu lama dan mencipta lagu-lagu baru, kemudian diakui oleh beberapa musisi besar seperti Slank dan Efek Rumah Kaca. Yang pada akhirnya mengajak mereka untuk berkolaborasi di satu panggung. 
Yang ingin saya bahas di sini adalah bukan secara spesifik menyangkut Tetangga Pak Gesang tetapi sepenggal lirik yang saya tulis di dalam lagu Tetanggaku Pergi ke Kota: 
kita tak perlu ke kota, kita kan membuat kota.
Ketika menuliskan lirik tersebut…

Tunjukkan Apa yang Kita Cintai Dari Atas Panggung

GRIZZLY CLUIVERT NAHUSULY mulai menyayangi Hip Hop sejak ia masih duduk di kelas tiga SMP. Di tengah-tengah pencarian jati dirinya, Icy, begitu ia disapa, menemukan Hip Hop. Ia merasa tidak hanya menemukan apa yang selama ini ia gemari, ia justru menemukan dirinya sendiri.
"Saya sempat gabung di dalam paduan suara, dan kemudian saya temukan satu warna, yang rasanya saya banget, karena musiknya tidak terlalu mengandalkan suara yang merdu. Akhir 2010, saya tertarik, dan mulai mengikuti sebuah lomba namanya, BKKBN rap contest." Icy memulai ceritanya pada satu petang yang syahdu sambil menyeruput kopi hitam.
Dengan bekal binaan Hanny Wattimena (Hanny, seorang musisi Hip Hop 90-an), Hanny mendedikasikan waktunya untuk mengajar vokal, penguasaan panggung, dan bagaimana berinteraksi di panggung.
"Jam latihan kami waktu itu, biasanya jam 9 malam ke atas. Sejak saat itulah kecintaan saya terhadap Hip Hop mulai menjadi-jadi. Saya merasa bisa berekspresi dengan sesuatu yang membua…

Puisi Memberikan Jalan Untuk Menyembuhkan Diri

“Puisi mampu membantu beta memberikan jalan untuk menyembuhkan diri sendiri sebab manusia pada dasarnya ‘berpenyakitan’ betul bukan? Puisi benar-benar jadi obat di kala itu,” ujar Chalvin. Chalvin Papilaya satu dari sekian banyak anak muda yang mencintai puisi, dan punya semacam keyakinan kecil, puisi dapat menyembuhkan.
Pada tahun 2016, ia terpilih sebagai salah seorang “emerging writer” yang berangkat ke Makassar International Writers Festival. Bersama beberapa kawan lainnya yang juga berasal dari timur Indonesia, mereka menerbitkan sajak dan cerita pendek, dengan tajuk “Dari Timur 2” yang diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama.
Chalvin katakan, “Puisi adalah pergulatan kecemasan terhadap tanda-tanda yang ada di luar diri penyair maupun di dalam dirinya sendiri—puisi bukanlah sekadar susunan kata-kata belaka.” Ungkapan ini, kemudian mengantar Chalvin untuk menerbitkan buku puisinya sendiri pada tahun 2019, berjudul “Mokolo”.



“Mokolo adalah kata sifat yang menggambarkan konteks per…