Skip to main content

Moh. Irfan Ramly : Rumah, Rumah dan Rumah














Apa sih sebenarnya yang jadi passion kamu? 

Passion saya bercerita. Bentuknya bisa apa saja, mengobrol dan menulis diantaranya.

Menurut kamu penting nggak sih jika anak muda harus punya passion? 

Penting atau tidak passion sekiranya berhubungan dengan seberapa besar passion itu diberi ruang. passion bisa penting bila diakomodir dan bisa tidak penting bila dibiarkan begitu saja. Tiap orang lahir dengan bakat dan berkembang sebagai gairah, diakomodir atau tidak soal pilihan. Intinya bagi saya passion itu penting.

Kamu menulis skenario Cahaya Dari Timur: Beta Maluku, dan film itu menang di FFI, gimana perasaan kamu dan hikmah apa yang bisa di ambil dari peristiwa ini? 

Proyek film Cahaya Dari Timur saya geluti hampir 3 tahun, suka dukanya banyak. Diapresiasi sebagai film terbaik tentu saja sebuah berkah--dan tidak bisa dipungkiri ada kebanggaan di sana. Hikmahnya saya memutuskan untuk serius jadi penulis skenario dan sekarang tinggal menunggu waktu rilis film berikutnya.

Ada tidak, suka duka di balik perjalanan menjadi seorang penulis skenario? Ada hal lain lagi yang pingin kamu capai dalam beberapa tahun kedepan? Pernahkah berpikir untuk bekerja formal (kantoran)? 

Tentu, Film kerja kolaboratif. Mengakomodir keinginan Sutradara dan Produser adalah di masa development memiliki tantangan besar. Sejauh ini perjalanan saya mulus, saya mau belajar dan mau dikritik, saya pikir itu utamanya. Kedepan ingin merilis novel dan menyutradarai film sendiri. Saya beberapa kali berkantor, tapi masih di industri yang sama--saya tidak menolak berkantor, bekerja formal, kecuali kerja formal yang dimaksud di sini adalah jadi pegawai negeri. Sejak awal saya tidak terpikir untuk jadi pegawai negeri.

Apa pendapat kamu tentang "membangun Maluku" atau "membangun kampung halaman"?

Saya tidak bercita-cita selamanya ada di Jakarta. Datang ke Jakarta dan bertaruh adalah pilihan yang diambil karena memang apa yang saya geluti sekarang berpusat di Jakarta. Membangun Kampung Halaman adalah saemangat yang sudah saya miliki dari ruang pergaulan semasa remaja di radio di Ambon, semangat berkreativitas dan menumbuhkan gairah positif di Ambon. Kalau boleh muluk-muluk, dari sejak kuliah saya bercita-cita suatu hari nanti bisa mengelola sebuah "Sekolah" di Ambon. Gagasan Membangun Kampung Halaman adalah sesuatu yang harus dimiliki dan dipilih secara sadar oleh siapapun anak Maluku.

Bagaimana pendapat kamu tentang anak muda Maluku pada saat ini? 

Anak Muda Maluku hari ini tentu sudah jauh berbeda dari anak muda di Maluku lima atau sepuluh tahun lalu, ruang ekspresi semakin banyak. Yang harus digagas sekarang kiranya menurut saya (dan ini tidak bisa dilakukan sendirian) adalah membentuk pasar bagi segala bentuk bakat dan kegemaran yang pada akhirnya bisa memberi nilai ekonomi tertentu. Berkarya dan bisa hidup dari berkarya adalah simpul mati, tidak bisa dilepas pisah. Misalnya saya membayangkan jalan-jalan kota Ambon dipenuhi musisi-musisi (bukan ngamen, tapi memang merebut ruang publik sebagai ruang ekspresi) atau misalnya pelukis-pelukis, membuka lapak di ruas jalan-jalan yang sekiranya ideal. Satu hal yang penting menurut saya dan saya kira belum banyak berubah adalah semangat mengapresiasi yang masih sangat rendah di kalangan anak muda Maluku--ini harus disampaikan sebagai kritik bahwa anak muda Maluku lebih sering sibuk mengomentari karya orang lain ketimbang menciptakan karya sendiri dan memperjuangkan nasib karya tersebut.

Tempat favorit kamu kalau sedang liburan ke Maluku ( berada di kota Ambon) dan kenapa? 

Semua sudut jalan di kota Ambon, sepanjang hari. Kenapa? Saya tumbuh dan besar di jalanan kota Ambon.

Siapa inspirasi terbesar buat kamu? 

Orang tua.


Apa harapan kamu terhadap Maluku? 


Maluku terus berkembang dengan mencintai tanah dan airnya, memberi penghidupan bagi setiap orang di dalamnya dan tumbuh dengan kedewasaan menghadapi kehidupan yang semakin terbuka.

Comments

Popular posts from this blog

MANUMATA Dekat di Mata Tinggal di Hati

Manumata, artinya satu atap atau berasal dari satu mata rumah. “Karena katong samua basudara.” Filosofi inilah yang menjaga Manumata sebagai sebuah grup hip-hop  dan berhasil membawa mereka tinggal di hati banyak orang.

Pertama kali saya melihat Manumata tampil di panggung pada tahun 2015, dalam sebuah acara yang digelar di Pattimura Park. Karena mereka tinggal dan berasal dari ‘satu atap’ yang sama, Manumata lekas menarik perhatian saya dengan kekompakan mereka ketika di panggung.

Pada suatu petang, saya berkesempatan mengunjungi basecamp Manumata di kawasan Air Putri-Ambon untuk mengobrol dengan empat anak keren ini. Manumata yang terdiri dari Friti Putreisya Riry (Uthe, 13 tahun), Johanes Philipus Eurilwen Petrusz (Jho, 13 tahun), Everd Arnold Riry (Ever, 15 tahun), dan Oscar Imanuel Lena (Oscar, 12 tahun), selalu mampu mengambil hati penonton dari atas panggung. Bukan hanya muda, lincah, mereka juga energik dan penuh percaya diri.

Ternyata keluwesan mereka di atas panggung sudah terb…

Tunjukkan Apa yang Kita Cintai Dari Atas Panggung

GRIZZLY CLUIVERT NAHUSULY mulai menyayangi Hip Hop sejak ia masih duduk di kelas tiga SMP. Di tengah-tengah pencarian jati dirinya, Icy, begitu ia disapa, menemukan Hip Hop. Ia merasa tidak hanya menemukan apa yang selama ini ia gemari, ia justru menemukan dirinya sendiri.
"Saya sempat gabung di dalam paduan suara, dan kemudian saya temukan satu warna, yang rasanya saya banget, karena musiknya tidak terlalu mengandalkan suara yang merdu. Akhir 2010, saya tertarik, dan mulai mengikuti sebuah lomba namanya, BKKBN rap contest." Icy memulai ceritanya pada satu petang yang syahdu sambil menyeruput kopi hitam.
Dengan bekal binaan Hanny Wattimena (Hanny, seorang musisi Hip Hop 90-an), Hanny mendedikasikan waktunya untuk mengajar vokal, penguasaan panggung, dan bagaimana berinteraksi di panggung.
"Jam latihan kami waktu itu, biasanya jam 9 malam ke atas. Sejak saat itulah kecintaan saya terhadap Hip Hop mulai menjadi-jadi. Saya merasa bisa berekspresi dengan sesuatu yang membua…

Beberapa Spot Favorit Lainnya di Pusat Kota Ambon: Silakan Jalan Kaki Atau Naik Becak

Kota Ambon dengan jalan-jalan utamanya, masih bisa dijangkau dengan jalan kaki. Masih ramah, mengingat pusat kotanya yang tidak terlalu luas. Atau alternatif lainnya adalah menggunakan becak. Becak di Kota Ambon, relatif masih sangat terjangkau. Dari harga 5000 rupiah hingga 20.000 ribu rupiah. Semuanya kembali kepada jarak tempuh. 
Jalan utama Ay. Patty adalah salah satu jalan utama yang asik untuk dipakai jalan kaki dari ujung satu ke ujung lainnya. Berbagai toko berderet di sepanjang jalan ini. Ada sebuah Kafe bernama D'Street yang menjadi alternatif tempat nongkrong sambil ber-wifi-an dan minum kopi sore. 
Beberapa toko di jalan Ay. Patty ini memang terbakar ketika konflik Maluku yang lalu, tetapi kini sudah dibangun kembali dan ditata dengan apik. Ingatan saya kembali ke tahun 90-an ketika itu Bakso di Puskud (salah satu bangunan yang ada di Jl. Ay. Patty, kini bentuk bangunannya masih ada, tetapi sudah beralih fungsi) masih menjadi salah satu yang favorit. 
Di jalan Ay. Patty j…