Cidade De Amboino : Lewat Rap Mari Melakukan Kebaikan!












CIDADE DE AMBOINO atau CDArap adalah salah satu dari sekian banyak grup maupun komunitas rap yang berdomisili di kota Ambon. 

Beranggotakan, Berixter Marceloy Tiwery a.k.a Q’Angel, Norman Schawarzkopf Angwarmase a.k.a Noro/Baik’ MC, Nathanel G Tuju a.k.a Ghey’C, Mozes Muskitta a.k.a Oceez, Ryo Diasz a.k.a RDZ, Klinton Tumangken a.k.a KLYN, Maryos Siahaya a.k.a i’OZ.  

Tapi sore itu saya hanya berhasil meng-interview tiga orang di antara ke tujuh personil. Simak interview saya dengan mereka, berikut ini. 

TR: selamat sore, kalau boleh mengutip seorang teman bahwa passion adalah sesuatu yang membakar diri kita dari dalam, nah kira-kira, apa yang menjadi passion dari teman-teman semua, baik itu dalam hal musik, hip-hop, rap, atau apapun?

RDZ: sebagai anak muda, kita suka melakukan banyak hal. Kita bergairah dengan hal itu. Tapi kalau bicara soal rap yang saat ini CDArap tekuni, orang-orang mulai menekuni bikin rima, bikin lirik. Awalnya, saya tidak punya motivasi lain, sama-sama asik saja, dari situ saya terjebak dalam tanggung jawab. Nah, tangggung jawab itulah yang bikin saya selalu mau bikin sesuatu, atau mau mengeluarkan sesuatu ketika menulis lagu. 
Noro: awalnya kenal hip hop itu ketika pulang ke kampung, ada acara lamaran, lalu melamar dalam bentuk pantun. Sejak saat itu saya mulai baca-baca, bahwa hip hop itu ternyata adalah perjuangan. Awalnya bingung mau dikeluarkan seperti apa, yang jadi passion untuk saya adalah, selama ada hal yang tidak pas di dalam hati, saya akan terus menulis lagu. Saya akan terus mengeluarkan kegelisahan saya. 
KLYN: passion dalam hip hop, awalanya ikut-ikutan. Awalnya juga karena pertemanan. Tapi saya juga hampir sama dengan teman-teman yang lain, awalnya merasa ada yang tidak pas dan mulai coba-coba menulis lagu.  

TR: CDArap eksis sudah empat tahun, boleh cerita sedikit ya, ditengah maraknya hip hopers di kota Ambon, sebenarnya apa yang menjadi titik awal, CDArap ini terbentuk?

RDZ: sebelum CDArap ini ada, ada yang namanya Brown Family, lalu akhirnya saya bergabung di situ, ketika itu Brown Family ini ada sekitar dua puluh empat orang. Recording pertama di Kayu Tiga. Lalu setelah itu sempat rekording di Pardeis, sempat manggung juga di SMA - SMA di Ambon. Tapi sambil jalan, banyak yang bentrok dengan kegiatan hari-hari, latihan sudah tidak konsisten. Kemudian lahir lagi sekelompok kecil dari Brown Family, namanya Brown MC. Ada satu single dan video klip. Kemudian ketika berjalan menemukan satu percabangan lagi.  Tanggal 27 Agustus 2011, lahirlah CDArap, Cidade de Amboino dalam bahasa Portugis artinya: Kota Ambon. Lalu ketika berjalan, formasi awal bubar juga. Tapi kemudian kita merasa bahwa nama ini adalah sebuah warisan. Keterpanggilan ini memang awalnya tidak sengaja, tapi makin kesini, rap adalah media untuk kita melakukan kebaikan kepada orang lain.
Noro: ketika saya masuk Ryo memang sudah duluan, awalnya karena tidak dapat wadah. Lalu gabung di sini. 
KLYN: sampai sudah terbentuk CDA, kemudian sudah tidak ada lirik lagu yang galau-galau lagi. Sekarang bisa dibilang CDA dengan liriknya sudah semakin berisi. 

TR: oke, saya percaya bahwa yang behind the scene itu pasti lebih seksi. Karena biasanya proses-proses di balik sebuah karya itu jauh lebih tajam. Bisa ceritakan tentang proses berkaya kalian?

RDZ: awalnya ketika mau menjadi rapper yang saya lakukan adalah googling satu buah lagu, kemudian menghapal liriknya, tahu flow-nya, kemudian akhirnya diubah dengan lirik sendiri. Itu yang saya lakukan. Hal lainnya yang saya lakukan adalah menemukan rima. Awalnya lagu saya ditulis oleh (salah seorang teman, Krimi), tetapi kemudian saya belajar menulis lirik, karena saya tahu bahwa saya juga punya cara pandang sendiri. 
Noro: yang mengenalkan saya dengan hip hop itu adalah Marco, salah seorang teman SMA saya. Awalnya ia mengajak saya untuk pergi ke rumahnya, duduk-duduk, dan kemudian ia mengajak saya untuk membuat lagu. Dan kemudian karena masih terlalu susah, saya memulai dengan membuat lirik dari beat download. Ketika itu saya belajar menulis lirik yang ujungnya dengan bunyi sama. Nah dari situ saya juga mengenal Morika Tetelepta, Weslly Johannes, membaca karya-karya mereka, dan kemudian saya juga mulai banyak membaca. Tapi satu hal lagi mengenai proses kreatif ini sendiri, yang membuat saya tidak setuju adalah ketika ada "beat-beat berbayar" dari teman-teman yang lain, padahal seharusnya tidak usah. Karena ini proses kreatif bersama, rasanya memang tidak perlu untuk "menjual beat" kepada teman-teman yang lain, hanya karena satu alasan: katong samua di Maluku ini bersaudara.  
KLYN: saya lebih suka menulis hingga dapat rima. Tulis terus hingga dapat bunyi yang pas. Dengar beat, sesuaikan dengan lirik, lalu kemudian ketika sudah dapat, tinggal dikembangkan lagi. 

TR: Bikin apa-apa itu bukan "keren-keranan" masing-masing orang pasti punya kegelisahan? apa yang menjadi kegelisahan dari teman-teman?

KLYN: belom bisa free style. Belom bisa apa kata-kata yang spontan sifatnya. 
Noro: pemerintah, cinta, selalu menjadi kegelisahan saya. Awalnya mungkin rima tidak beraturan. Berry Revelino (salah seorang hip hopers dan penulis puisi) pernah mengatakan bahwa "kamorang hip hop par apa? suatu hari kalo kamong menikah lai kamong berhenti hip hop kapa?" tapi saya percaya, ini adalah salah satu yang kepingin saya kerjakan hingga nanti. Lalu ketika baca puisi-puisinya Weslly Johannes, saya rasa dia cukup seksi untuk mengungkapkan perasaanya. Saya juga belajar dari Weslly. Lalu sampai saat ini, rasanya saya tidak akan berhenti menulis. 
RDZ: lagu-lagu hip hop lahir itu karena sebuah pemberontakan. Setiap orang pasti punya kegelisahannya sendiri. Ketika konflik September 2011, malam ini kita langsung rekording lagu berjudul "Sampe Jua" nah yang menjadi keresahan di sini, orang lain sudah menyalahgunakan hip hop dengan "menjual diri" kalau bisa meminjam istilahnya Noro. Tapi par beta, jiwa itu seng terselamatkan karena uang. 

TR: Bagaimana perkembangan hip hop lima sampai sepuluh tahun yang akan datang, apakah kita akan ada terus atau mati? 

RDZ: "5-10 tahun yang akan datang, yang pasti CDA akan menikah dan bubar. HAHAHA" saya percaya bahwa masa depan itu ditentukan dari sekarang, jadi ketika saat ini, kita dapat mengatur pola berpikir, itu yang  akan membuat kita bertahan. Tapi kan kita tidak bisa juga bicara soal kemiskinan sambil orang-orang goyang-goyang gitu. Tapi kita musti tahu mengenai karakteristik hip hop Maluku. 
Noro: Genre musik pasti akan lebih baik. Terus saja berkarya, bikin salah dulu baru kemudian akan tahu kebenarannya dimana. Bikin sesuatu itu yang menjadi masukan baik untuk orang lain.  
KLYN: hanya ada dua pilihan: berhenti di sini atau akan terus maju ke depan. Jika berhenti pasti kita akan hilang. Tapi ketika kita memutuskan untuk maju, kita harus kembangkan jati diri yang seperti apa, kembangkan musik yang lebih baik. 

TR: satu lagu favorit dari CDA, lirik yang merepresentasikan kamu? 

RDZ: "Melukis Jejak" di liriknya ada "kawan seberang berbeda, sudah biar, kita tekun tempuh nama di warta penyiar" jadi katong seng usah pusing dengan orang bikin apa di luar, tapi katong tekun bikin katong pung karya saja. 
Noro: Semua lagu dari CDA saya suka. Moluccan Heroes. Waktu itu ada lomba tentang pahlawan Maluku, lalu kita angkat tentang beberapa pahlawan. Semua lirik yang ada di dalam lagu itu, saya suka semua. Ada satu lagu yang ketika saya bikin, isinya adalah nama orang-orang yang menginspirasi saya di dalam berkarya. 
KLYN: Kurusiwarimae, tentang Maluku, dan ada pesan baik yang kita sampaikan kepada orang lain. 

TR: sebutkan satu spot yang paling menarik di Kota Ambon? 

RDZ: saya senang berjalan di dalam terminal dan mendengarkan orang banyak bicara. 
Noro: kamar mandi. Suka dengar lagu lama-lama di sana, sambil kerjakan lirik di sana. 
KLYN: sekitar kompleks rumah, naik becak putar-putar di sekitar PGRI lalu balik lagi ke kota. 

TR: apa yang menjadi harapan untuk kota Ambon?

RDZ: ketika kita bergerak kadang kita terhalang sekat-sekat yang dibangun oleh pemerintah. Tapi semoga banyak seniman di tempat ini yang lebih banyak untuk dihargai. Hargai Ambon sebagai Ambon, dengan karakteristiknya, jangan dicampur aduk, karena Ambon bukan barat. 
Noro: satu hal yang khusus buat Ambon, semoga kota ini tidak menjadi gudang. “Di rumah tuh, barang yang seng pake, katong taruh akang di gudang.” Ambon tidak boleh disebut sebagai Gudang Musisi, jangan mau disebut gudang!
KLYN: harapan untuk Maluku “barenti buang sampah sabarang, jang kincing sabarang!” mari sama-sama kita jaga lingkungan!

CDArap akan mengeluarkan dua project yang akan digarap sangat serius, sebelum tutup tahun ini. Mereka juga akan merekam ulang lagu Moluccan Heroes, dan lagu yang isinya kapata, sementara judulnya adalah Kurusiwarimae. Semoga tahun depan akan jadi album dan segera rilis video klip.  

Comments