Theizard Saiya: Tempatkan Saya Dimanapun dan Saya Akan Menjadi Apapun












Theizard Saiya percaya bahwa untuk menguasai sesuatu yang besar, ia harus menguasai dasar-dasar sebelumnya. Sehari-hari, laki-laki kelahiran bulan Mei ini mengisi waktunya dengan banyak menggambar, membuat ilustrasi, atau membuat sebuah tulisan pendek. 

Ia bercerita tentang bagaimana akhirnya ia jatuh cinta dengan dunia seni rupa. Ketika itu ia masih menggunakan seragam SMP, dan ia melihat sebuah acara di sebuah jalan utama yang ada di kota Ambon, ketika itu seniman dan pelukis yang ada di kota Ambon, turun ke jalan dan menggambar di jalan-jalan. Itulah pertama kali ia merasa bahwa ia jatuh cinta terhadap dunia gambar. 

Kecintaannya terhadap dunia menggambar ini memang turun dari Ayahnya sendiri, yang juga adalah seorang seniman. Dalam hal ini Ayahnya mendalami seni kriya. "Dari dolo beta liat liat antua sa. Antua selalu ada di depan beta. Pas antua pigi, beta selalu coba antua pung alat-alat." Celetuk  Tessar tentang sang Ayah. 

Ketika tahun 2012 ia pernah mengikuti Residensi Masyarakat Indonesia Cipta. Ketika itu ia berkesempatan untuk duduk dan berkolaborasi dengan banyak seniman dan belajar untuk melihat bagaimana perkembangan seni rupa di Maluku sendiri. Ia lalu menyadari bahwa, memang saat ini Maluku (atau daerah Timur) sendiri masih banyak perlu belajar, tetapi tidak apa-apa, sekarang saatnya kita belajar "menggali dan menanam" sesuatu lebih dalam. "Hari ini beta musti tanam sesuatu, beta su tanam sesuatu, masalah nanti akang mo tumbuh jua, beta rasa di situ Tuhan pasti punya campor tangan. Pokoknya beta percaya bahwa besok pasti akan lebih baik." Begitulah Tessar dengan keyakinannya. 

Menurutnya lagi anak muda harus hidup mengikuti kata hati atau panggilan hatinya. Karena itu seperti sebuah pilihan. Mungkin setiap dari anak muda itu, masih belum bisa melihat dengan jelas seperti apa nantinya apa yang menjadi pilihannya itu, tetapi ia mengatakan "passion itu, seng perlu orang kanal ose, yang penting ose rasa puas." 

Satu tempat yang jadi spot favoritnya di kota Ambon adalah di bawah menara lonceng Gereja Lazarus (di daerah Kayu Putih, Ambon). Ia bercerita bahwa, jika tidak bisa tidur, ia biasa kesana, merokok, menulis, menggambar, atau sekedar membuat "maping" apa yang sudah ia lakukan dan apa yang belum ia lakukan. Baginya waktu dengan diri sendiri itu seperti tempat bertapa, supaya dapat melihat sejauh mana kita sudah berjalan dan musti bikin apa kedepannya nanti. 

Suatu hari nanti ia kepengin punya sebuah rumah, tempat orang-orang bisa datang untuk belajar seni rupa dan berbagi apa saja mengenainya. Dan ia juga kepengin sekali membuat satu mini album solo harmonika. 

Seperti sebuah gambar saat ini Tessar seperti sedang belajar membuat titik. Ia menggambar titik dimanapun ia berjalan. Di pasir, di dinding-dinding rumah orang, di gang, dimanapun yang ia bisa temukan. Kemudian titik itu akan berubah menjadi sebuah garis lurus yang panjang-panjang, mulai kokoh dan tidak mudah bengkok. 


Comments