Grace Sahertian: Porto, Sahertian, Panggayo










Selamat menikmati Q&A saya bersama Grace Sahertian dan selamat terinspirasi dari penyanyi berdarah Maluku yang satu ini. Dan selamat menantikan Album perdananya dengan tajuk HELA yang akan segera rilis dalam waktu dekat. Photo by: Arum Dayu. 


T: Apa sih sebenarnya yang jadi passion kamu?

G: Passion saya adalah bermusik.

T: Menurut kamu penting nggak sih jika anak muda harus punya passion?

G: Penting sekali untuk anak muda mempunyai passion.  Menurut Tony Robbins, passion adalah kombinasi dari pleasure, meaning & emotion. Dengan passion kita tidak akan melakukan sesuatu dengan terpaksa, justru kita akan benar-benar bahagia karena kita melakukan apa yang kita cintai. Decide, commit & succeed!

T: Ceritakan tentang bernyanyi, pertama kali ngeh kalo kamu suka nyanyi itu sejak kapan?

G: Sejak kecil saya udah akrab dengan musik. Ketika duduk di bangku sekolah dasar pun saya menyadari kalau saya suka sekali bernyanyi, tentunya jika dibandingkan dengan pelajaran Matematika hehe. Saat SMA saya tergabung dalam paduan suara sekolah dan mulai membentuk band. Kemudian mulai serius bernyanyi ketika kuliah dan bergabung dengan Klab Jazz Bandung, hingga sekarang.

T: Apakah selama menjalani passion kamu di dalam bermusik ada halangan atau ada pengalaman yang membuat kamu pingin menyerah? 

G: Sebagai manusia biasa pastinya ada fase dalam hidup saya, dimana saya putus asa dan ingin menyerah. Tapi itu tidak berlangsung lama karena selalu ada kekuatan, yang saya yakini datangnya dari Yang Maha Kuasa, yang selalu memotivasi saya untuk kembali bangkit dan mengejar mimpi-mimpi saya. Dengan tidak menyerah, artinya saya bertanggung jawab dan bersyukur atas talenta yang diberikan secara cuma-cuma oleh Sang Pencipta.

T: Apa pendapat kamu tentang "membangun Maluku" atau "membangun kampung halaman"?

G: Membangun kampung halaman itu melibatkan ikatan batin. Sebelumnya, kita harus sadar dan tahu betul dari mana kita berasal. Dengan menelusuri dan memaknai kembali roots kita, secara tidak langsung ikatan itu pun muncul. Tanpa perlu ada paksaan dari orang lain, dengan sendirinya kita akan melakukan yang terbaik untuk kampung halaman kita. Contoh konkritnya seperti yang saya dan beberapa teman lakukan dalam pameran grafis Lipat Ganda baru-baru ini di Dia.Lo.Gue Artspace. Saya dan teman-teman mengangkat “Maluku” dalam pameran tersebut. Saya menceritakan kepada setiap pengunjung, melalui performance art, tentang filosofi di balik nama marga saya Sahertian dan kampung halaman saya, Maluku. Ini adalah salah satu usaha saya sebagai kaum muda Maluku yang tinggal di luar Maluku dalam “membangun Maluku”.

T: Bagaimana pendapat kamu tentang anak muda Maluku pada saat ini? 

G: Menurut cerita yang saya dengar, di Maluku sendiri, anak mudanya bersatu dalam melakukan berbagai pergerakan demi membangun Maluku. Sedangkan anak muda Maluku yang tinggal di luar Maluku pun banyak yang berprestasi melalui karya-karyanya. Saya yakin bahwa kita, orang Maluku, diciptakan untuk menjadi Kepala, bukan Ekor.

T: Ceritakan tentang album perdana Grace Sahertian yang saat ini sedang dikerjakan? Siapa-siapa saja yang teribat? Adakah hal tersulit/ menyenangkan ketika mengerjakan album ini?  

G: Album perdana saya sedang dalam tahap pengerjaan desain cover. Kalau lancar, semoga bisa dirilis dalam tahun ini. Dalam album ini saya dibantu oleh gitaris muda, Tesla Manaf, yang album terakhirnya dirilis oleh label Amerika, Moonjune Records. Tesla bertindak sebagai produser dalam album ini. Kemudian saya juga dibantu oleh Ari Renaldi dalam proses mixing-mastering. Ada pula session player yang terlibat dalam pengerjaan album ini, diantaranya adalah Rudy Zulkarnaen (bass), Topan Abimanyu & Ginda Bestari (guitar), Edward Manurung (drums), Iwan Popo (keys), Brury Effendi (trumpet), Bejo (cello) dan Hulhul (saluang). Sementara itu untuk vokal saya dibantu oleh Zaky “4 Peniti”, Theoresia Rumthe, Eka Karya, Ayub Litbagay, Puspallia Panggabean dan Johanes Fayakun. 
Tantangan terberat dalam pengerjaan album ini adalah proses menemukan produser yang benar-benar tertarik dan menghargai karya-karya saya tanpa harus mengikuti selera pasar. Selebihnya menyenangkan, mulai dari proses pembuatan lagu hingga proses rekaman.

T: Siapa inspirasi terbesar buat kamu? 

G: Inspirasi terbesar saya adalah orang-orang di sekeliling saya. Orang tua, keluarga dan teman-teman.

T: Selain bernyanyi dan menjadi dosen, masih ada lagi kah yang pingin dikerjakan?

G: Saya ingin melanjutkan usaha saya di bidang fashion & craft, OCAROL Handwerk, yang sudah vakum selama kurang lebih 2 tahun. Saya juga ingin aktif lagi berpameran dalam bidang seni serat.

T: Apa harapan kamu terhadap Maluku?

G: Semoga Maluku selalu bersatu dalam ikatan kasih dan persaudaraan.

Comments