Weslly Johannes : Beta Sayang Kenangan









Weslly Johannes adalah seorang penyair. Ia mencintai kata-kata. Kesan pertama ketika bertemu dengannya adalah ia sangat teduh, seperti melihat lautan, ketika berlayar diatasnya, kemudian baru kita menemukan banyak sekali gelombang-gelombang. Ia menyukai, menghabiskan waktu di daerah sekitar rumahnya, di Ambon, yaitu pada bangku yang terletak di bawah pohon nangka, dari situ ia dapat melihat Tanjung Alang dan matahari tenggelam. Di sanalah kemudian puisi-puisinya lahir. Selain itu Teluk Kayeli, adalah tempat favoritnya, ketika menceritakan tentang Teluk Kayeli, ada rasa haru sekaligus rindu, seperti ingin selalu kembali ke sana. 

Saat ini ia tinggal di Saumlaki, Maluku Tenggara Barat, karena harus menyelesaikan proses Vikaris (proses sebelum kemudian menjadi seorang pendeta) dan kemudian saya adalah orang yang paling beruntung, ketika mendapatkan kesempatan mengobrol dengannya. 

Kata yang paling banyak kita temui di dalam puisi puisi Weslly Johannes yaitu kenangan. Manusia pada akhirnya nanti akan sadar bahwa yang tertinggal di antara mereka hanya kenangan. Bahwa, kita Manusia, hanyalah kerumunan kenangan.

Ia percaya bahwa di dalam diri setiap anak muda ada matahari yang membakar mereka. Jadi jika anak-anak muda itu menjadi tua, dan kulit mereka menjadi keriput, itu bukan karena dimakan usia, tetapi karena matahari di dalam yang membakar diri mereka. 

Ia merasa bahwa yang menggerakkan dirinya adalah rasa sayang. Rasa sayang itu tumbuh dari pengalaman-pengalaman. Pengalaman di dalam diri yang kemudian tumbuh menjadi kekuatan. Dimulai dari pengalaman masa kecilnya, tumbuh remaja, kemudian pengalaman kerusuhan, lalu kemudian pengalaman-pengalaman ia menulis puisi. 

Baginya rasa sayang itu kemudian tumbuh menjadi sebuah kekuatan. Ia bercerita bahwa awalnya, banyak sekali puisi-puisi yang ia ciptakan karena rasa marah. Rasa marah ini memang ada di dalam dirinya, karena itu hanya bentuk kritikan terhadap ketidakadilan yang terjadi. Dan ketika menulis puisi dalam rasa marah, kata-kata selalu jatuh seperti hujan, begitu deras.  Tetapi belakangan, ia bercerita bahwa, ia malah kesulitan menulis puisi dalam keadaan marah, ia lebih suka memaknai sesuatu yang hari-hari, sederhana, dan lembut. Bahkan ia banyak menulis puisi cinta: dan kemudian puisi-puisi cinta itulah yang mempengaruhinya. Lebih lanjut ia bercerita tentang proses kreatifnya ketika menulis puisi, saat menulis puisi, lalu ada proses koreksi: koreksi bukan hanya pemilihan kata, tapi makna secara utuh, ketika melakukan koreksi itu, ada proses dialog dengan diri sendiri. Proses dialog inilah yang membuat kita akan jadi  berkembang. 

“Menulis memang menolong beta, bukan saja mengatasi saat-saat seng ada karja apa-apa, tapi juga menyembuhkan beta pung banyak hal, pikiran, atau pandangan tentang orang lain, atau pada saat beta berhadapan dengan yang pahit-pahit, menulis itu menolong.” Inilah sebabnya di kemudian hari puisi-puisi yang ia tulis, itu muncul dari rasa syukur dan rasa sayang. 

Rasa sayang ini juga yang kemudian mendorongnya untuk lebih banyak menulis puisi, baik untuk dirinya sendiri, maupun ketika puisi tersebut harus diterbitkan menjadi buku, maupun “diterbitkan” di berbagai media sosial, kemudian sering dikutip oleh banyak orang. Ia sendiri menanggapinya dengan santai. 

“Katong dari pengalaman kerusuhan itu ada kesadaran yang tumbuh, bahwa sebenarnya katong seng bisa biking apa-apa kalo seng ada cinta, kalo katong bangun sesuatu deng cinta itu pasti akang abadi, nah, salah satu pekerjaan seniman itu mencintai! dan itu yang menggerakkan beta.” 

Dalam hal membangun Maluku, ia merasa bahwa itu bisa dilakukan dari hal-hal kecil dan konsisten dalam melakukannya. “Jika bisa tulis puisi, katong tulis. Katong bisa bicara dan meginspirasi banyak orang, katong bikin. Tapi itu semua musti sejati kaluar dari katong pung hati. Kalo bicara basar-basar nanti beta takut akang jadi omong kosong. Katong pung tugas mencintai dan membuat Maluku lebih luar biasa. Karena beta selalu yakin bahwa segala sesuatu yang dicintai itu akang jadi luar biasa.” 

Rasa cinta inilah juga yang ada pada diri setiap anak muda Maluku, menurutnya, walaupun banyak anak muda Maluku yang pada awalnya menciptakan karya-karya mereka dari rasa dendam, tetapi kesini-kesini, rasa rasa itu kemudian berubah bentuk. “Tapi anak-anak muda Maluku dong pung kekuatan itu ada, entah itu dendam, kekecewaan, cinta, terserah, selama dong berkarya itu artinya dong berkembang. Katong musti sayang Maluku, hanya itu saja yang bisa bikin Maluku akan jadi lebih baik.” Lebih lanjut ia memaparkan bagaimana pendapatnya terhadap anak-anak muda Maluku. 

Sayang sekali, saya harus mengakhiri percakapan kita  pada malam itu. Tidak lupa, ia, sang lautan, mengungkapkan harapannya terhadap Maluku, “Rumah, dimana katong bisa datang dan disambut dengan nyanyian nyanyian yang sebenarnya itu lahir dari rasa sayang, dengan puisi puisi yang akang lahir dengan rasa sayang.” 





  

Comments