Skip to main content

Berkunjung Ke Larat, Asal Nama Tengah Saya: Laratwaty








Sawahan, Ujung Pulau Yamdena.

Kita bisa pergi ke Larat, dengan menempuh perjalanan dari Saumlaki, menggunakan mobil sewaan per kepala Rp. 250.000. Kita akan menuju Sawahan terlebih dahulu dengan jarak tempuh kurang lebih tiga jam. Jalan yang ditempuh, sudah diaspal dengan baik. Hanya saja rutenya memang agak terjal, mengingat jalan yang dibuat adalah karena memotong gunung. Tetapi pemandangan di sekitarnya memang tidak bisa dilupakan begitu saja, karena kita bisa melihat laut di kejauhan dan rumah-rumah sepanjang pinggir laut yang berjejer rapih.

Kemudian dari Sawahan, naik ketingting per kepala 15 Ribu, selama kurang lebih 15 menit. Lalu kita akan sampai di Larat. Kota kecil yang artinya adalah cahaya. Ketika sampai di Larat, kita bisa melihat desa lelengluan di depannya. 


Karena kota transit, maka pelabuhan juga merupakan pasar untuk berdagang. Salah satunya kita dapat melihat Mama Mama dari Romean datang untuk menjual lemon manis dari kebun-kebunnya. 

Banyak yang berubah dari kota ini, samar-samar ingatan saya kembali ke sekitar hampir tiga puluh tahun yang lalu, ketika saya berusia, satu atau dua tahun tinggal di kota ini. Rasanya memang bangunan di pasar tidak banyak yang berubah, masih banyak bangunan lama yang ada di sini. 


Ini adalah sisi lain dari pelabuhan Larat, tampak Lelengluan di depan. 



Bangunan bangunan lama yang masih terjaga di Pasar Larat. 



Bagian lainnya dari Pasar Larat. 


Kampung Ridool, Larat. 



Patung Batarditi, konon ceritanya, Batarditi adalah putri yang turun dari Kayangan, kemudian menikah dengan lelaki dari Larat, dan tidak bisa kembali lagi ke Kayangan. 


Gereja, tempat saya dibaptis. 


Ruas jalan di depan Gereja Syeba, melihat desa Ritabel di kejauhan. Berjalan sendirian di jalan-jalan di kota Larat, ada desir halus tersendiri di dalam dada, antara haru sekaligus bersyukur. Laratwaty adalah nama tengah saya, ayah bercerita bahwa Laratwaty adalah nama pemberian dari Om saya (Bapa Utha Sabono. Alm, yang juga ayah baptis saya) ayah juga bercerita lebih lanjut, nama itu diberikan kepada saya dari Bunga Larat, ada sebuah bunga anggrek yang berasal dari Larat, bunga ini dulu banyak di halaman belakang rumah kami. Lalu akhiran Waty, sengaja ditambahkan supaya saya seperti perempuan, ke-jawa-jawaan. Maka Laratwaty bisa diartikan menjadi dua: Perempuan yang bercahaya atau perempuan yang berbunga. 

Lucu juga menelusuri arti nama, tapi di kemudian hari saya percaya sesuatu: nama bukan hanya doa, nama adalah tujuan. Perjalanan kali ini adalah salahsatu bukti saya sedang menggenapi tujuan itu. 

Comments

  1. akhirnya bisa liat suasana Larat walau hanya lewat foto,,,

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Tunjukkan Apa yang Kita Cintai Dari Atas Panggung

GRIZZLY CLUIVERT NAHUSULY mulai menyayangi Hip Hop sejak ia masih duduk di kelas tiga SMP. Di tengah-tengah pencarian jati dirinya, Icy, begitu ia disapa, menemukan Hip Hop. Ia merasa tidak hanya menemukan apa yang selama ini ia gemari, ia justru menemukan dirinya sendiri.
"Saya sempat gabung di dalam paduan suara, dan kemudian saya temukan satu warna, yang rasanya saya banget, karena musiknya tidak terlalu mengandalkan suara yang merdu. Akhir 2010, saya tertarik, dan mulai mengikuti sebuah lomba namanya, BKKBN rap contest." Icy memulai ceritanya pada satu petang yang syahdu sambil menyeruput kopi hitam.
Dengan bekal binaan Hanny Wattimena (Hanny, seorang musisi Hip Hop 90-an), Hanny mendedikasikan waktunya untuk mengajar vokal, penguasaan panggung, dan bagaimana berinteraksi di panggung.
"Jam latihan kami waktu itu, biasanya jam 9 malam ke atas. Sejak saat itulah kecintaan saya terhadap Hip Hop mulai menjadi-jadi. Saya merasa bisa berekspresi dengan sesuatu yang membua…

Weslly Johannes : Beta Sayang Kenangan

Weslly Johannes adalah seorang penyair. Ia mencintai kata-kata. Kesan pertama ketika bertemu dengannya adalah ia sangat teduh, seperti melihat lautan, ketika berlayar diatasnya, kemudian baru kita menemukan banyak sekali gelombang-gelombang. Ia menyukai, menghabiskan waktu di daerah sekitar rumahnya, di Ambon, yaitu pada bangku yang terletak di bawah pohon nangka, dari situ ia dapat melihat Tanjung Alang dan matahari tenggelam. Di sanalah kemudian puisi-puisinya lahir. Selain itu Teluk Kayeli, adalah tempat favoritnya, ketika menceritakan tentang Teluk Kayeli, ada rasa haru sekaligus rindu, seperti ingin selalu kembali ke sana. 
Saat ini ia tinggal di Saumlaki, Maluku Tenggara Barat, karena harus menyelesaikan proses Vikaris (proses sebelum kemudian menjadi seorang pendeta) dan kemudian saya adalah orang yang paling beruntung, ketika mendapatkan kesempatan mengobrol dengannya. 
Kata yang paling banyak kita temui di dalam puisi puisi Weslly Johannes yaitu kenangan. Manusia pada akhirnya …

Lebih Peka Dengan Keadaan Sekeliling

Syamsul Bahry Fakoubun atau lebih dikenal dengan nama Andrey Fakoubun, memulai konten youtube-nya dengan tajuk LOKAL VOKAL. Ia telah mewawancarai musisi, rapper, selebgram, hingga caleg muda asal kota Ambon. Molucca Project mengajak Andrey untuk chat dan membahas tentang apa sih yang ada di balik konten LOKAL VOKAL dan mengapa penting untuk mengabarkan kabar baik melalui video. Berikut wawancara singkat kami bersama Andrey:
Mengapa sih tertarik dengan membuat video youtube? Mengapa memilih untuk menjadi yutuber? Kira-kira menurutmu apa dampak besar dari sebuah video yang ditonton olah banyak orang?
Awalnya mau membuat video youtube, karena saya tidak punya skill. Pengetahun tentang sajak terbatas, musik terbatas. Bisa sih, tapi tidak ahli. Kemudian saya kenal dengan orang-orang yang kompeten di bidang itu semua. Nah, youtube saya ini adalah wadah untuk mengapresiasi mereka. Jadi walau tidak punya skill yang sama dengan mereka, saya punya cara lain untuk mengabarkan kepada kawan-kawan di…