Skip to main content

Perjalanan Ke Saumlaki, Maluku Tenggara Barat: Mengajar Public Speaking





lokasi camping anak-anak di negeri duan lolat, saumlaki



Perjalanan kali ini adalah anugerah. Bermula dari ajakan teman saya untuk memberikan pelatihan public speaking di Saumlaki, ibukota Kabupaten Maluku Tenggara Barat selama Lebaran. Teman saya terlibat dalam sebuah kegiatan “Bakudapa anak dan remaja Gereja Protestan Maluku.”

Untuk pertama kalinya saya singgah di Saumlaki, Bandara Saumlaki baru saja selesai dibangun. Sepanjang perjalanan dari Bandara ke arah kota masih banyak pepohonan dan tanah tanah kosong. Hanya ada satu pusat perbelanjaan di pusat kota dan beberapa hotel di sekitarnya. 



Walaupun udara di Saumlaki cenderung panas, tetapi udara yang bertiup di sekitar Saumlaki lumayan sejuk. Saya mendapat kesempatan untuk mengajar selama dua hari di sini. Saya mau mengaku bahwa ketika saya tiba pertama kali di kota ini, saya tidak punya ekspektasi yang banyak. Niat saya adalah mengajar. 

Tetapi kemudian, saya dikejutkan dengan banyak hal, yang membuat saya terkagum-kagum sendiri, bahwa kadang-kadang perjalanan adalah sebuah anugerah. Saya mengajar selama dua hari. Murid Public Speaking saya, adalah anak-anak usia remaja berjumlah kurang lebih 80 orang, masing-masing peserta berasal dari pulau-pulau yang berbeda, dari belahan Maluku, juga Maluku Utara. 

Ada yang berasal dari Pulau Aru, Pulau Kisar, Pulau Babar, Pulau Ternate, Pulau Seram, Pulau Tanimbar Utara, Pulau Kei dan masih banyak lagi. Kejutan lainnya, anak-anak dari Pulau-Pulau tersebut sangat cerdas. Mereka begitu aktif di kelas, menujukkan keberanian ketika berbicara di depan umum. Mereka juga dengan tidak tanggung-tanggung menyesuaikan diri dengan topik topik presentasi yang saya berikan. 


peserta dengan dress code mereka







Materi yang saya berikan di dalamnya adalah teknik-teknik dasar Public Speaking, bagaimana menjadi MC, berbicara dalam bahasa inggris, dan pidato. Antusiasme dari para peserta membuat saya terharu. Ketika disuruh menuliskan pidato mereka, saya terpukau mendengarkan beberapa anak yang maju untuk membacakan pidato mereka, karena pesan dan cara penulisan mereka yang sudah terbentuk sejak sangat dini. 

Kecuali Bahasa Inggris, beberapa anak pada awalnya merasa kagok bahkan ada yang ketakutan, tetapi saya mendukung mereka untuk berani, jika masih belum bisa, si anak bisa membacakan saya dulu, teks yang ia buat, yang penting berani. 

bersama dengan salah satu fasilitator, musikalisasi puisi, Marenda Soplanit


Selain kelas Public Speaking, ada juga kelas-kelas lainnya seperti, Musikalisasi Puisi, Menulis Kreatif, Menulis Cerita Sukses, Musik, Menulis Lagu, dan IT. Pada puncak acara sebelum penutupan, beberapa anak dari kelas Public Speaking tampil menjadi MC dan juga berpidato. 

Perjalanan kali ini akan penuh dengan kejutan. Pelan-pelan akan saya ceritakan. 


Comments

Popular posts from this blog

Kegelisahan: musisi dan penikmat musik

Saya pernah menulis sebuah lirik berjudul “Tetanggaku Pergi ke Kota” yang kemudian dinyanyikan oleh Tetangga Pak Gesang, duo musisi indie yang berasal dari Bandung. Mereka adalah Arum Dayu dan Meicy Sitorus, yang aslinya adalah penggiat foto dan dua teman baik saya.  Sampai saat ini, album mereka sementara dikerjakan secara gerilya. Memang belum ada hasil yang bisa didengarkan secara fisik, baik itu berupa CD, kaset, maupun vinyl yang sedang menjamur akhir-akhir ini. Tetapi lagu-lagu mereka dapat didengarkan di soundcloud.  Produktivitas meng-aransemen lagu-lagu lama dan mencipta lagu-lagu baru, kemudian diakui oleh beberapa musisi besar seperti Slank dan Efek Rumah Kaca. Yang pada akhirnya mengajak mereka untuk berkolaborasi di satu panggung.  Yang ingin saya bahas di sini adalah bukan secara spesifik menyangkut Tetangga Pak Gesang tetapi sepenggal lirik yang saya tulis di dalam lagu Tetanggaku Pergi ke Kota:  kita tak perlu ke kota, kita kan membuat kot

Tunjukkan Apa yang Kita Cintai Dari Atas Panggung

GRIZZLY CLUIVERT NAHUSULY mulai menyayangi Hip Hop sejak ia masih duduk di kelas tiga SMP. Di tengah-tengah pencarian jati dirinya, Icy, begitu ia disapa, menemukan Hip Hop. Ia merasa tidak hanya menemukan apa yang selama ini ia gemari, ia justru menemukan dirinya sendiri. "Saya sempat gabung di dalam paduan suara, dan kemudian saya temukan satu warna, yang rasanya saya banget , karena musiknya tidak terlalu mengandalkan suara yang merdu. Akhir 2010, saya tertarik, dan mulai mengikuti sebuah lomba namanya, BKKBN rap contest ." Icy memulai ceritanya pada satu petang yang syahdu sambil menyeruput kopi hitam. Dengan bekal binaan Hanny Wattimena (Hanny, seorang musisi Hip Hop 90-an), Hanny mendedikasikan waktunya untuk mengajar vokal, penguasaan panggung, dan bagaimana berinteraksi di panggung. "Jam latihan kami waktu itu, biasanya jam 9 malam ke atas. Sejak saat itulah kecintaan saya terhadap Hip Hop mulai menjadi-jadi. Saya merasa bisa berekspresi

Rocky Tahapary : Jang Tunggu Beso!

Apa sih sebenarnya yang jadi passion kamu?  Passion saya tentunya di dunia musik dan photography. Menurut kamu penting nggak sih jika anak muda harus punya passion? Passion itu menurut saya diibaratkan dengan penjiwaan artinya sesuatu yang kita lakukan tanpa adanya paksaan atau tekanan melainkan sesuatu yang dilakukan dengan kesenangan dengan jiwa dengan rasa memiliki yang tinggi. Passion tidak datang dari orang lain namun passion datang dari dalam diri masing - masing pribadi,  dengan demikian menurut saya, passion sangatlah penting untuk anak muda, karena tentu ketika mereka telah mengetahui passion mereka dan dilakukan secara konsisten dan professional maka tentu hasil yang di dapat pun akan sangat sangat sangat maksimal.  Kamu memotret, ceritakan soal memotret, biasanya objek apa yang paling menarik, lalu pernah berkolaborasi dengan siapa saja, dan karya foto kamu pernah dimuat dimana saja?  Yes memotret sudah menjadi profesi saya. Sedikit tentang kis