Freyke Kosakoy: Maluku itu Gandong, Ikan Kuah Kuning, Pantai






Ketika ditanya apa yang menjadi passionnya, ia mengatakan bahwa, “saya sangat suka dengan semua hal yang indah, saya berusaha untuk bisa melihat hal yang indah dari hal yang buruk sekalipun. Seni itu indah, dan walaupun terlalu luas untuk dipilih yang mana yang menjadi passion utama saya tapi kehidupan saya tidak bisa lepas dari seni. Seni sampai saat ini juga bisa menghidupi saya, itu mengapa saya cinta dengannya.”

Freyke Kosakoy, pertama kali mendengar namanya, saya merasa ia seperti orang Rusia. Tapi pada kenyataannya, ia adalah peranakan Ambon dan Manado. Ibunya yang asli Ambon, menikah dengan Ayahnya yang berdarah Manado. Ketika ditanya, apa artinya Freyke, ia hanya tertawa dan mengatakan bahwa itu adalah nama orang Manado kebanyakan. Tahun lalu ia sempat mendapat kesempatan untuk berlibur ke Ambon, dan katanya ia akan kembali ke Ambon lagi. 

Ia sempat bekerja di sebuah hotel, dan kemudian pindah ke Jakarta untuk menekuni kesenangannya memotret, tapi kemudian memutuskan untuk kembali lagi ke Balikpapan. Menurutnya, passion adalah sesuatu yang harus dimulai sedini mungkin, karena “Passion could drive your life far more than you think.”

Ia mulai jatuh cinta dengan memotret ketika melihat seorang temannya menenteng kamera analog di kampus, dan ketika itu ia menyadari bahwa seharusnya ia mengambil jurusan ilmu komunikasi, supaya bisa memegang kamera juga. Pada awalnya, ia memulai dengan music photography, karena suka memotret teman-teman saat mereka beraksi di panggung, lalu pelan-pelan ia juga jatuh cinta dengan landscape photography yang akhirnya membuatnya membeli kamera DSLR pertamanya. 

Beberapa project komersial yang pernah dikerjakannya seperti: interior photo untuk BLITZ Megaplex Grand Indonesia, mengerjakan fashion spread untuk majalah Planet Surf dan 2 lookbook untuk Insight Indonesia, juga berkontribusi di Free Magazine, Hers Magazine dan majalah Bung. 





Ia juga pernah membantu untuk foto - foto di buku Kebaya Betawi dan Kelengkapannya yang dirilis oleh ibu Emma Bisrie. Di proyek tersebut ia bekerja bersama Anton Ismael (fotografer yang juga mentornya di Kelas Pagi Jakarta) dan Ibu Adriani Soemantri, sahabat yang juga membantu penyusunan buku ini.

Membangun kampung halaman baginya seperti memberi kembali apa yang sudah didapat selama hidupmu. “Saya juga menghabiskan masa kuliah saya diluar pulau Kalimantan, dan setelah pulang kampung lalu berpindah-pindah kota untuk mencari pekerjaan dan pengalaman, saya merasa saya butuh kembali ke kampung halaman dan berkontribusi di bidang yang saya geluti. Sudah setahun saya kembali dari Jakarta ke Balikpapan, banyak pertanyaan dan komentar yang menyayangkan ini tetapi entah kenapa saya ingin kembali pulang dan berkontribusi untuk kota ini.” 

Lebih lanjut, Freyke berpendapat bahwa “membangun Maluku saya rasa adalah tanggung jawab bagi kita semua yang dalam tubuhnya mengalir darah Maluku. Kontribusi kita, generasi muda, sekecil apapun di bidang apapun, itu yang bisa membangun Maluku.”

Harapannya terhadap Maluku adalah bisa kembali seperti yang didengar dari cerita opa oma, om dan tante: sebuah rumah dimana semua bisa saling hidup berdampingan mengesampingkan semua perbedaan dan hidup saling sayang.

(Foto adalah dokumentasi pribadi Freyke Kosakoy)



Comments