Skip to main content

Aldisyah Latuihamallo: Maluku itu Rumah Ale Deng Beta











Musik bukanlah sesuatu yang asing untuknya. Aldisyah Latuihamallo lahir dan dibesarkan di dalam keluarga musisi, dan seorang Ayah yang juga adalah pencipta lagu, membuat musik itu memang tertanam begitu dalam pada dirinya. 

Ketika ditanya, pernahkah jenuh di dalam bernyanyi, “jenuh pasti pernah, tapi untuk berhenti saya nggak pernah bisa, dan nggak pernah mau, nikmati aja, malah karena jadi "kebutuhan,” saya rasa nggak mungkin saya lepas dari musik.” Jawabnya dengan lugas. 

Selain bernyanyi ia juga bergerak di belakang layar sebagai Produser Rekaman, Arranger dan Vocal Director. Salah satu project tahun ini, yang ia kerjakan adalah ia memproduce beberapa lagu di album penyanyi asal Malaysia, Nadira Adnan. Dan pengerjaan Album ini juga melibatkan Ahmad Dhani, musisi senior dan salah satu idolanya juga. Saat ini Aldi, begitu biasanya ia disapa juga sedang menyiapkan single terbarunya. 

Menurutnya anak muda itu harus punya passion, “karena anak muda punya semangat dan energi luar biasa yang harus disalurkan, dan nggak boleh di sia-siakan, tentunya dalam bidang yang mereka pilih dan cintai.” Ia lalu menambahkan “kalau anak muda nggak punya passion, berarti mereka nggak punya mimpi dan cita-cita, hal itu akan sangat berpengaruh terhadap masa depan mereka nantinya. Hidup ini keras, yang bisa bertahan (dalam bidang apapun) hanya mereka yang punya passion, semangat dan usaha yang keras juga.”

Bicara soal keinginan lain, Aldisyah juga bercerita, suatu hari nanti, ia akan punya rumah produksi sendiri, bisa kerjasama dengan musisi internasional, dan pastinya tidak akan berhenti berkarya. Lalu bagaimana dengan keinginannya sendiri dalam membangun Maluku, “membangun kampung halaman, dalam hal ini Maluku, buat saya adalah tanggung jawab kita sebagai anak negeri. Menjaga apa yang sudah diwariskan dan mengembangkan apa yang sudah dipercayakan oleh orang-orang tua kita dulu, supaya generasi berikutnya pun bisa menikmati dan melanjutkan hal baik dari yang kita buat sekarang.” Jelas Aldisyah, yang ketika berlibur ke kota Ambon suka sekali ke pantai dan rumah kopi. 

Aldisyah juga mengemukakan harapannya terhadap Maluku, “semoga Maluku makin maju, tanpa merusak, mengganti atau melupakan sejarah dan keindahannya, tetap menginspirasi dengan semangat persaudaraannya, dimana hidup bukan seperti saudara, tapi sebagai saudara. Dan Maluku bisa tetap jadi Rumah buat Ale deng Beta.”






Comments

Popular posts from this blog

Tunjukkan Apa yang Kita Cintai Dari Atas Panggung

GRIZZLY CLUIVERT NAHUSULY mulai menyayangi Hip Hop sejak ia masih duduk di kelas tiga SMP. Di tengah-tengah pencarian jati dirinya, Icy, begitu ia disapa, menemukan Hip Hop. Ia merasa tidak hanya menemukan apa yang selama ini ia gemari, ia justru menemukan dirinya sendiri.
"Saya sempat gabung di dalam paduan suara, dan kemudian saya temukan satu warna, yang rasanya saya banget, karena musiknya tidak terlalu mengandalkan suara yang merdu. Akhir 2010, saya tertarik, dan mulai mengikuti sebuah lomba namanya, BKKBN rap contest." Icy memulai ceritanya pada satu petang yang syahdu sambil menyeruput kopi hitam.
Dengan bekal binaan Hanny Wattimena (Hanny, seorang musisi Hip Hop 90-an), Hanny mendedikasikan waktunya untuk mengajar vokal, penguasaan panggung, dan bagaimana berinteraksi di panggung.
"Jam latihan kami waktu itu, biasanya jam 9 malam ke atas. Sejak saat itulah kecintaan saya terhadap Hip Hop mulai menjadi-jadi. Saya merasa bisa berekspresi dengan sesuatu yang membua…

MANUMATA Dekat di Mata Tinggal di Hati

Manumata, artinya satu atap atau berasal dari satu mata rumah. “Karena katong samua basudara.” Filosofi inilah yang menjaga Manumata sebagai sebuah grup hip-hop  dan berhasil membawa mereka tinggal di hati banyak orang.

Pertama kali saya melihat Manumata tampil di panggung pada tahun 2015, dalam sebuah acara yang digelar di Pattimura Park. Karena mereka tinggal dan berasal dari ‘satu atap’ yang sama, Manumata lekas menarik perhatian saya dengan kekompakan mereka ketika di panggung.

Pada suatu petang, saya berkesempatan mengunjungi basecamp Manumata di kawasan Air Putri-Ambon untuk mengobrol dengan empat anak keren ini. Manumata yang terdiri dari Friti Putreisya Riry (Uthe, 13 tahun), Johanes Philipus Eurilwen Petrusz (Jho, 13 tahun), Everd Arnold Riry (Ever, 15 tahun), dan Oscar Imanuel Lena (Oscar, 12 tahun), selalu mampu mengambil hati penonton dari atas panggung. Bukan hanya muda, lincah, mereka juga energik dan penuh percaya diri.

Ternyata keluwesan mereka di atas panggung sudah terb…

Beberapa Spot Favorit Lainnya di Pusat Kota Ambon: Silakan Jalan Kaki Atau Naik Becak

Kota Ambon dengan jalan-jalan utamanya, masih bisa dijangkau dengan jalan kaki. Masih ramah, mengingat pusat kotanya yang tidak terlalu luas. Atau alternatif lainnya adalah menggunakan becak. Becak di Kota Ambon, relatif masih sangat terjangkau. Dari harga 5000 rupiah hingga 20.000 ribu rupiah. Semuanya kembali kepada jarak tempuh. 
Jalan utama Ay. Patty adalah salah satu jalan utama yang asik untuk dipakai jalan kaki dari ujung satu ke ujung lainnya. Berbagai toko berderet di sepanjang jalan ini. Ada sebuah Kafe bernama D'Street yang menjadi alternatif tempat nongkrong sambil ber-wifi-an dan minum kopi sore. 
Beberapa toko di jalan Ay. Patty ini memang terbakar ketika konflik Maluku yang lalu, tetapi kini sudah dibangun kembali dan ditata dengan apik. Ingatan saya kembali ke tahun 90-an ketika itu Bakso di Puskud (salah satu bangunan yang ada di Jl. Ay. Patty, kini bentuk bangunannya masih ada, tetapi sudah beralih fungsi) masih menjadi salah satu yang favorit. 
Di jalan Ay. Patty j…